Discover
Pinter Politik
541 Episodes
Reverse
Hashim Djojohadikusumo sebut ada “telur busuk” di pemerintah dan swasta. Sinyal bahaya nyata atau sekadar strategi “sentil-menyentil”?
Agus Widjojo bukan sekadar perwira militer biasa. Jenderal kelahiran Surakarta 8 Juli 1947 ini adalah representasi dari generasi jenderal intelektual yang langka di Indonesia. Di masa akhir Orde Baru, ketika mayoritas perwira masih terjebak dalam romantisme perang kemerdekaan sebagai justifikasi peran sosial-politik ABRI, Agus berani mengutarakan pemikiran yang menggugat.
Musim hujan kembali membuka luka lama: jalan berlubang, tambal sulam, nyawa melayang. Di Jakarta dan Jawa Barat, sorotan tertuju pada kepemimpinan Pramono dan KDM. Apakah ini sekadar cuaca, atau ada problem tata kelola dan dugaan kongkalikong aspal bolong?
Dokumen Epstein dibuka, warganet ramai-ramai minta maaf ke Dharma Pongrekun. Mungkinkah validasi konspirasi ini menjadi sinyal lahirnya kekuatan politik baru?
Rp7 miliar per bulan, korupsi jadi rutinitas. Kasus Bea Cukai bukan sekadar OTT, tapi cermin pembiaran negara. Di era Presiden Prabowo, ini bisa menjadi senjata dari aktor dengan tangan tak terlihat yang mengganggu stabilitas—atau momentum balik arah pemberantasan korupsi klasik.
Pesona Tiongkok dalam politik internasional dinilai bisa berdampak pada erosi hubungannya dengan Rusia. Mengapa demikian?
Dalam termodinamika, entropi adalah ukuran ketidakteraturan sebuah sistem. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa entropi dalam sistem tertutup cenderung meningkat menuju ketidakteraturan maksimal. Analogi ini sangat relevan untuk membaca kondisi NasDem saat ini. Banyaknya kasus hukum, kader yang berpindah, dan berbagai persoalan, membuat publik mempertanyakan akan seperti apa masa depan NasDem.
Di usia 18 tahun, Gerindra justru menikmati golden age—kuat secara elektoral, solid secara institusional, dan matang dalam regenerasi. Dari Prabowo hingga kader muda progresif, Gerindra tak sekadar bertahan, tetapi memberi sayap bagi masa depan kekuasaan politik Indonesia.
Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP). Mungkinkah ini kesempatan untuk menjadi jembatan atau malah masuk ke jebakan?
Roy Suryo laporkan Eggi Sudjana soal penistaan agama. Oposisi malah sibuk ribut sendiri, jangan-jangan ini skenario “spin-off” baru?
Selama puluhan tahun, Indonesia memiliki satu obsesi yang nyaris tidak pernah padam: menjadi bangsa yang tidak sekadar membeli teknologi, tetapi mampu menciptakannya sendiri. Di balik setiap proyek mobil nasional, pesawat, hingga roket dan satelit, selalu tersimpan semangat yang sama—teknologi sebagai simbol kedaulatan, kebanggaan, dan kemajuan. Dari pesawat N250 Gatotkaca karya BJ Habibie hingga ambisi mobil nasional Presiden Prabowo Subianto, kisah teknonasionalisme Indonesia menunjukkan bahwa sains dan rekayasa bukan sekadar urusan teknis, melainkan politik identitas bangsa.
Kritik keras Gatot Nurmantyo terhadap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar sengketa antar-pejabat tinggi. Ini adalah simptom dari paradoks fundamental reformasi Indonesia—sebuah pertarungan antara niat baik dan unintended consequences, antara desain institusional dan realitas politik.
Rupiah bergejolak, Gubernur BI Perry Warjiyo disorot. Tapi benarkah Bank Indonesia satu-satunya koki di “dapur” forex? Di balik pasar sekitar US$9,6 triliun per hari, kiranya ada “Master Chef” tak terlihat—jaringan kekuasaan finansial yang menentukan rasa akhir nilai tukar Indonesia yang mungkin saja sebenarnya diketahui oleh Perry sendiri
IHSG sempat anjlok 16,7% usai ‘disemprit’ MSCI. Benarkah pasar kita bobrok, atau ini strategi Barat menekan ekonomi RI?
Dari beberapa nama yang menyambangi kantor Sekretariat Kabinet, Emil Dardak dan Susi Pudjiastuti adalah dua nama yang secara positif memiliki ekspektasi tinggi di tengah isu reshuffle beberapa waktu belakangan.
Ferry Irwandi masuk ke top of mind cawapres dari kalangan muda. Inikah bentuk baru charismatic authority di Indonesia?
Di balik migrasi kader NasDem ke PSI, Sulawesi Selatan muncul sebagai medan perebutan kekuasaan yang jauh lebih strategis dari sekadar politik elektoral.
Isu reshuffle kabinet Prabowo bukan sekadar penafsiran dangkal untuk menyingkirkan “orang Jokowi”, melainkan seleksi alam kekuasaan. Pratikno, cendekiawan senyap era Jokowi, jadi simbol elite yang diuji daya adaptasinya oleh isu tersebut. Siapa bertahan, siapa tersingkir, ditentukan ekosistem politik baru.
Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengkritik pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di DPR. Listyo menolak wacana Polri di bawah kementerian, dan memilih mundur menjadi petani jika institusinya tidak lagi berada di bawah presiden. Gatot menilai, pernyataan Listyo yang akan mempertahankan posisi institusinya sampai titik darah penghabisan, merupakan sebuah ancaman.
Polri melangkah out of the box dari tupoksi tradisionalnya lewat peran di program MBG. Di balik dapur bergizi dan citra humanis, tersimpan pertarungan legitimasi: inovasi administratif atau substitusi sosial atas defisit kepercayaan publik?























