Discover
Psikosomatik Dokter Andri
Psikosomatik Dokter Andri
Author: Andri Psikosomatik
Subscribed: 30Played: 526Subscribe
Share
© Andri Psikosomatik
Description
Podcast ini berisi tentang edukasi terkait masalah Psikosomatik dalam praktek sehari-hari dan kesehatan jiwa pada umumnya. Ada juga obrolan dengan berbagai tema dari para narasumber. Obrolan ini dibawakan oleh dr.Andri,SpKJ, dokter spesialis kedokteran jiwa dari Omni Hospital Alam Sutera
63 Episodes
Reverse
Liburan Akhirnya Kami Jalani
Kali ini saya berbicara dengan pasien cemas yang sering merasa lambungnya tidak nyaman sebagai gejala awal serangan panik yang membawanya ke IGD setiap kali serangan.
Kali ini saya berbicara dengan salah satu content creator di channel YouTube "Cerita Ola" tentang gangguan cemas yang dialaminya dan pengobatan yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Apa yang membuat pengobatan bisa begitu lama?
Kali ini saya berbincang dengan Yudith salah seorang mantan pasien Gangguan Cemas Panik
Fobia adalah ketakutan irasional. Fobia spesifik adalah bagian dari gangguan cemas.
Pentingnya mengatur pikiran
BAGAIMANA INGATAN KITA MEMBUAT PERILAKU KITA TERJADI? Simak di podcast ini
Banyak pasien dan teman-teman mungkin bertanya mengapa ke dokter jiwa tidak ditanggung asuransi swasta? Bahkan di dalam form rawat jalan yang bisa digunakan ke dokter lain pun biasanya ada tertulis pengecualian untuk kasus psikosomatik/gangguan jiwa.
Simak jawabannya di dalam podcast ini, sejarahnya ternyata lumayan panjang.
Perbincangan saya ini merupakan hasil rekaman dari Webinar bersama dengan BerbagiCerita.id beberapa waktu yang lalu.
Kami membicarakan banyak hal terkait kesehatan jiwa dan gangguan jiwa yang bisa dialami oleh siapa saja.
Pada dasarnya kita hanya ingin menerima pendapat yang sesuai dengan nilai dan kebiasaan berpikir kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk menerima pendapat orang lain?
Featuring : dr.Ardian Pratama
Sebenarnya kalau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) itu bisa sukses, maka seperti "Terapi Perilaku" pada umumnya dalam ilmu psikologi, akan tercipta suatu perilaku baru yang lebih baik daripada sebelumnya.
Pada saat ini, perilaku yang berkaitan dengan bagaimana hidup di masa pandemi Covid-19. Sayangnya PSBB buat sebagian masyarakat kita sepertinya tidak berhasil!
Lihat saja video-video dan berita yang tersebar terkait bagaimana masyarakat mengakali PSBB untuk mudik, berkerumun di keramaian, tidak takut desak-desakan di tempat umum, dan mengabaikan menggunakan masker yg benar.
Punishment atau hukuman untuk pelanggar PSBB sepertinya tidak cukup manfaatnya. Ketidakpedulian mereka lebih dominan daripada kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan orang lain.
Dalam Ilmu Psikiatri sebenarnya ketika Terapi Perilaku dilakukan dengan baik oleh pasien maka akhirnya akan tercipta perilaku baru yang lebih adaptif dengan kondisi pasien.
Hal ini akan membuat kualitas hidup pasien sendiri akan meningkat. Walaupun kadang pada saat selesai terapi perilaku dilakukan, kognitif atau daya pikirnya belum paham benar mengapa perilakunya harus berubah, tapi perilaku baru yang lebih adaptif terhadap kondisi pasien sudah terjadi.
Hal ini sebenarnya sama dengan PSBB ini. Anjuran dan segala macam larangan telah diterapkan, namun sebagian besar masyarakat tidak paham mengapa harus pakai masker, menjaga jarak, dan #dirumahaja.
Mereka mungkin berpikir apa sebenarnya untungnya buat mereka dengan melakukan semua itu? Maka ketika dilonggarkan, semua aturan PSBB dilanggar! Artinya dalam hal ini PSBB bagi sebagian masyarakat telah gagal menjadi suatu proses Terapi Perilaku.
Hal yang saya khawatirkan dan sepertinya akan terjadi adalah ketika terjadi relaksasi PSBB ini maka "New Normal" yang diharapkan oleh pemerintah tidak akan tercapai karena perilaku masyarakat belum berubah, apalagi kognitifnya berkaitan dengan pandemi.
Mereka bisa lupa untuk menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan lebih sering jika banyak memegang sesuatu. Mereka akan menganggap pandemi sudah berlalu dan kita kembali seperti semula. Padahal kalau melihat grafik penambahan kasus sendiri di Indonesia sepertinya belum mengalami stagnasi tetapi cenderung terus bertambah.
Walaupun dari yang terinfeksi hanya 5% yang akan menjadi parah dan memerlukan perawatan intensif, namun jika yang terinfeksi jutaan manusia maka kita akan sangat kewalahan atau bahkan tidak sanggup merawat 5% orang-orang tersebut di rumah sakit-rumah sakit yang kita miliki karena kekurangan alat kesehatan dan ruangan yang baik.
Hal ini juga akan membuat penderita penyakit lain juga kesulitan untuk bisa berobat ke rumah sakit karena khawatir tertular karena mereka sendiri rentan.
Kalau ditanya mengapa bisa demikian? Mengapa PSBB tidak efektif mengubah perilaku masyarakat? Maka jawabannya bisa banyak. Dari tidak adanya solidaritas antara kita sebagai masyarakat, ketidakpedulian kita, rasa mau menang sendiri bisa jadi jawabannya.
Atau juga mungkin pandemi ini belum sepenuhnya dimengerti masyarakat tentang bahaya dan kemungkinan menularkannya walaupun setiap hari pemerintah hadir di media TV.
Bagaimana pendapat teman-teman, apakah yang membuat PSBB ini tidak bisa menjadi ajang pembelajaran untuk menghadapi "new normal"?
Salam Sehat Jiwa
Kali ini saya berbincang dengan dr. Rossalina Lili, Sp.KJ, Psikiater, Fasilitator PRH Indonesia (pendamping pertumbuhan pribadi) yang berada di Vienna, Austria. Kita berbincang salah satu teknik konseling yang sangat bermanfaat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Teman-teman bisa menghubungi dokter Lili lebih lanjut di email : helpingappointment@gmail.com atau Instagram dan Twitter @drrossalinalili
Saya dan dr.Ardian yang bekerja di Puskesmas Tanah Abang membicarakan tentang Konspirasi yang meliputi Pandemi. Kami berdua hanya sekedar urun pendapat. Semoga bermanfaat.
Wawancara dengan JAK FM pada tanggal 11 Mei 2020 ini berbicara tentang bagaimana bisa beradaptasi dengan "A New Normal Life"
Perbincangan dengan The Asian Parent Indonesia ini membahas tentang bagaimana belajar mencintai diri sendiri. Ada juga beberapa pertanyaan terkait dengan #selflove pada episode podcast kali ini
Perbincangan saya kali ini bersama Bening Lara dari Mindfulness Indonesia. Kita berdiskusi tentang Mindufulnes, praktek dan bagaimana gunanya untuk terapi psikosomatik
Beberapa hal penting yang bisa dilakukan di pagi hari agar hidup lebih bermakna
Ketika kita sudah bisa memenuhi kebutuhan dasar kita, kita sudah bisa berbagi
Saya bersama dr.Ardian Pratama kali ini berbincang tentang Pendidikan dan Pendidikan Kedokteran. Suatu survei yang saya lakukan di Twitter dan di YouTube komunitas saya minggu lalu mengatakan dari sekitar total 3000 responden yang menjawab mana yang lebih penting disediakan negara, Jaminan Pendidikan Tinggi atau Jaminan Kesehatan Penuh, ternyata lebih dari 81% mengatakan lebih memilih Jaminan Kesehatan Penuh. Apakah ini berarti Pendidikan dianggap tidak lebih penting daripada Kesehatan di Indonesia? Simak obrolan serius tapi santai kali ini.
Kadang apa yang kita impikan belum tentu langsung kita dapatkan, namun sering kali dia datang saat kita tidak kira-kira.






