Discover
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
3897 Episodes
Reverse
THE LORD'S TIME
The theme of our meditation today is: The Lord's Time. Soon we will celebrate the holy week. It's about one week from now. The passion and death of Jesus Christ is the ultimate experience of His suffering. In anticipating this great celebration, we encounter the days that precede, including today, filled with various difficulties befalling on Jesus. The threats were truly real, direct, and certain for Him. He was on the verge of persecution.
Long before the real experience of Jesus Christ, the book of Wisdom already decescribed such persecution which was eventually realized in Jesus Christ. He said: Come, we try him with persecution and torture, so that we know the gentleness and patience of his heart. Let us condemn him to death, because according to him he must have received help (Wis 2, 19-20). The Gospel of John that we have just heard reaffirms the described persecution by saying: The Pharisees tried to arrest Jesus but no one touched Him, because His time had not yet come (Jn 7.30).
His time had not yet come because it should had depended entirely on the Father's Will. Holy Thursday night and Good Friday had not yet arrived. All of us and everyone are subject to this particular time limit. All of us must respect the important aspects to be happened in this time of the Lord Jesus Christ. Although the waves of anger, jealousy, hatred, and violence from His opponents seemed unchallenged, they were obliged to restrain. Even though man's will is very strong, God has the power to determine the time for His Will to happen.
What does it mean the imminent persecution of Jesus Christ? First we interpret it with our response "Amen". We accept this reality and believe it as a way of fulfilling the Father's will on the part of Jesus, and as the content of our faith. In the prayer of "I Believe" we express our faith by saying: He who suffered under the Pontius Pilate, was crucified, died, and was buried. We agree and accept this evil treatment towards Jesus which means we also accept the Lord's teaching and invitation to follow Him in every moment of suffering that we face in our lives.
We also interpret it as our act of faith, which means without fear and doubt we continue to maintain the truth and wisdom in our faith responsibility to take part in God's work. Usually the temptation for those who are in a situation of suffering and persecution is fear and eventually surrender to the influence of the tempter. This is what an authentic follower of Christ should not do. In an imminent trial or persecution we do have courage to cry out: our courage and willingness to face is only for the sake of our participation in the way of our Lord Jesus Christ.
Let's pray. In the name of the Father ... O merciful Father in heaven, strengthen us always especially when we are in the midst of suffering and persecution, so that we remain always in Your way. Our Father who art in heaven... In the name of the Father ...
Reading and meditation on the Word of God, Thursday of the 4th Week of Lent, March 26, 2020
WORKS TESTIFY ABOUT US
Our meditation today has the theme: Works Testify About Us. Jesus Christ again gave a strong response to the protests and accusations of His opponents, the Pharisees and the scribes. A big and strong opposition to Jesus seemed increasingly dangerous. This is a form of anticipation for the peak experience of suffering that will come soon, namely Jesus's severe punishment and His death on the cross that we celebrate on the Good Friday.
Today's gospel shows the rejection that Jesus had to face. His enemies did not accept that He truly came from God. They strongly did not acknowledge and accept that Jesus was sent by the Father in heaven. But Jesus emphasized that the proof of God's power truly exists in Him through the works He did. His works were well known: healing of the sick, bringing the dead into life, feeding the hungry and thirsty, driving out the evil spirits, and comforting the sorrowfull ones. All of these are facts of God's work that simply cannot be denied.
Jesus challenged His enemies to open their views and understandings, and not just follow a narrow-minded perception. If they rejected Himself simply as a human person, they must at least be objective to acknowledge His works. These works testified who trully Himself is and at the same time recognizing the Father who is the source of works. If they could accept and acknowledge His works and their results as well, they implicitly would accept and recognize who was behind those works. It turned out that both Jesus as the person and His works were not accepted and acknowledged. So their sins were truly grave.
This analogy can help us to ponder about the works that testify us as the ones who are the subject of those works. For example, the lifestyle of some people shows that they really hate simple and hard-working people like farmers, fishermen, or shepherds. Yet every day the haters and their families eat rice, vegetables, fish, and meat which are actually the fruits of the work of the people they hate. So they actually deny themselves and those who are helping out them in many ways for their sustenance in life.
Whatever work and its result really represent who we really are. Our self-reflection whether we are generous or not, we are humble or not, we have faith or not, appears to be seen in public through our works and their results. Work and its result speak about the one who does the work. Everyone show all of these, so that people around him may also experience his work and the fruits of his work. And the basic requirement we need to follow is that we need to accept and acknowledge each other through the works we do and the results of these works.
Let's pray. In the name of the Father ... Almighty and everliving God, thank you for your blessings we receive today that allow us to work according to our respective vocations and professions. Bless also the the fruits of our works. Glory to the Father ... In the name of the Father ...
SAATNYA TUHAN
Tema renungan kita pada hari ini ialah: Saatnya Tuhan. Tidak lama lagi, sekitar satu minggu ke depan, kita akan merayakan pekan suci. Peristiwa sengsara dan wafatnya Yesus Kristus merupakan pengalaman puncak penderitaan-Nya. Antisipasi perayaan besar ini kita jumpai pada hari-hari menjelangnya, termasuk pada hari ini. Bentuk antisipasi itu ialah aneka kesulitan sebagai perlawanan terhadap Yesus. Ancaman terhadap diri-Nya benar-benar nyata, langsung, dan pasti. Ia berada di ambang penganiayaan.
Jauh sebelum pengalaman nyata Yesus Kristus itu, kitab Kebijaksanaan telah menggambarkan penganiayaan ini. Katanya: Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan (Keb 2, 19-20). Injil Yohanes yang baru saja kita dengar memperkuat gambaran saat penganiayaan itu dengan menyebut: orang-orang Farisi berusaha menangkap Yesus tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba (Yoh 7,30).
Saat-Nya yang belum tiba bergantung sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah. Hari Kamis malam dan Jumat Agung belum tiba. Kita semua dan setiap orang tunduk pada ketentuan waktu yang belum tiba ini. Semuanya harus menghormati aspek penting seperti apa berada dalam saatnya Tuhan Yesus Kristus. Meski gelombang amarah, iri hati, benci, dan kekerasan tampaknya tak terbendung, mereka wajib menahan dirinya saja. Biarpun gelombang itu amat kuat, Tuhan belum mengizinkan saatnya tiba.
Seperti apa kita memaknai berada di ambang penganiayaan Yesus Kristus? Pertama-tama kita memaknainya dengan seruan “Amin”. Kita menerima kenyataan ini dan mengimaninya sebagai bentuk pemenuhan kehendak Bapa dari pihak Yesus, dan sebagai isi iman kita. Di dalam doa “Aku Percaya” kita ungkapkan iman kita dengan menyebutkan: Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan. Mengamini ini berarti juga kita menyanggupi ajaran dan undangan Tuhan untuk mengikuti Dia dalam setiap saat penderitaan yang kita hadapi di dalam hidup kita.
Kita memaknai ini juga dengan tak gentar supaya kita tetap mempertahankan kebenaran dan kebaikan sebagai tanda kita mengambil bagian di dalam Tuhan. Biasanya godaan bagi mereka yang berada dalam situasi ambang derita dan penganiayaan ialah takut atau menyerah dan tunduk kepada pihak penganiaya. Ini yang tidak boleh dilakukan oleh pengikut Kristus yang autentik. Di ambang tersebut kita berani berseru: kerelaan ini adalah demi Tuhan Yesus Kristus.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa di surga, kuatkanlah kami selalu khususnya ketika kami berada di tengah penderitaan dan penganiayaan, supaya kami tetap berpihak kepada-Mu saja. Bapa kami... Dalam nama Bapa...
PEKERJAAN MEMBERIKAN KESAKSIAN
Renungan kita pada hari ini bertema: Pekerjaan Memberikan Kesaksian. Yesus Kristus kembali lagi memberikan tanggapan tegas atas protes dan tuduhan para lawan-Nya yaitu kaum Farisi dan ahli Taurat. Perlawanan keras terhadap Yesus tampak semakin bertubi-tubi. Ini sebagai bentuk antisipasi pengalaman puncak penderitaan saat hukuman mati dan wafat di salib pada hari Jumat Agung.
Injil hari ini menampilkan penolakan terhadap Yesus bahwa Ia sungguh berasal dari Allah. Mereka dengan keras tidak mengakui dan menerima kalau Yesus diutus oleh Bapa di surga. Maka Ia menegaskan bahwa bukti kekuasaan Allah sungguh ada di dalam diri-Nya dalam bentuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya. Penyembuhan orang sakit, bangkitnya orang mati, makanan bagi yang lapar dan haus, pengusiran roh-roh jahat, dan penghiburan bagi orang-orang sedih. Semua itu adalah fakta pekerjaan Allah yang tak dapat dibohongi.
Yesus meminta supaya mereka tidak menyempitkan pandangan dan pemahamannya. Jika mereka menolak diri-Nya, paling kurang mereka harus objektif untuk mengakui pekerjaan-pekerjaan-Nya itu. Semua pekerjaan itu memberi kesaksian tersendiri tentang diri-Nya dan tentang Bapa yang berkuasa menyelenggarakan semuanya. Jika paling kurang mereka dapat menerima dan mengakui pekerjaan atau hasil pekerjaan, sudah implisit mereka menerima dan mengakui siapa yang berada di balik pekerjaan dan hasil kerjanya. Ternyata baik pribadi Yesus maupun pekerjaan-pekerjaan-Nya tidak diterima dan diakui, jadi dosa mereka memang sungguh besar.
Analogi ini mungkin bisa membantu kita merenungkan tentang pekerjaan yang memberikan kesaksian diri seseorang. Misalnya gaya hidup sebagian orang menunjukkan kalau mereka sangat membenci orang-orang sederhana dan pekerja keras seperti para petani, nelayan, atau peternak. Padahal setiap hari para pembenci itu dan keluarganya makan nasi, sayur, ikan, dan daging yang sesungguhnya merupakan buah dari pekerjaan orang-orang yang dibencinya. Jadi ini berarti suatu penyangkalan atas diri mereka sendiri dan atas orang lain yang ikut membantu kelangsungan hidup mereka.
Pekerjaan apa pun dan hasilnya sungguh mewakili diri kita sesungguhnya. Refleksi diri kita apakah kita itu murah hati atau tidak, kita rendah hati atau tidak, kita beriman atau tidak, tampil sangat nyata melalui pekerjaan kita dan hasil-nya. Pekerjaan dan hasilnya berbicara sendiri tentang diri kita. Setiap orang menghadirkan semua itu untuk dialami dan dinikmati orang-orang di sekelilingnya, tapi syarat dasarnya ialah supaya kita saling menerima dan mengakui sesama kita melalui pekerjaan dan hasil kerjanya masing-masing.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang maha murah, terima kasih atas berkat-Mu sehingga kami dapat bekerja sesuai panggilan kami masing-masing dan hasilnya untuk hidup kami bersama. Kemuliaan... Dalam nama Bapa...
KABAR TERBESAR
Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kabar Terbesar. Sebelum virus Corona menyebar ke seluruh negeri Indonesia, berita-berita besar yang menyita perhatian masyarakat ialah seputar korupsi, politik dan ekonomi. Misalnya, rencana pembangunan Ibukota RI yang baru dan bakal calon pemimpin ibukota itu menjadi kabar terbesar bagi Indonesia. Namun dalam hampir satu bulan terakhir, semua itu diganti oleh wabah virus Corona yang mencekam dan mematikan. Setiap hari berita tentang virus ini menghiasi semua kesempatan komunikasi di antara kita. Virus Corona adalah kabar terbesar dunia saat ini.
Di dalam urusan rohani dan iman, berita terbesar bagi kita ialah kabar suka cita yang disampaikan oleh utusan surga, Malaikat Gabriel, kepada seorang perawan di Nazaret di Galilea (daerah Israel) yang bernama Maria. Kabar ini disebut sebagai berita terbesar karena mempunyai beberapa alasan penting ini: 1) Gabriel sebagai salah satu malaikat agung yang menyampaikannya; 2) kabar itu mengakhiri semua bentuk janji yang telah dibuat Tuhan dengan manusia sejak zaman Abraham; 3) isi kabarnya ialah akan hadir Putera Allah yang menjelma menjadi manusia dengan nama Yesus Kristus; dan 4) kabar itu menandakan tema besar dalam sejarah keselamatan yang disebut inkarnasi.
Di dalam kitab nabi Yesaya, kabar terbesar itu sudah diantisipasi dengan janji yang menggambarkan begitu persis tentang seorang perawan yang akan melahirkan seorang utusan Allah. Putera yang dilahirkan itu akan diberikan nama Emanuel, yang berarti Allah beserta kita. Janji ini menjadi nyata dengan peristiwa perawan Maria yang menerima kabar dari surga melalui Malaikat Gabriel. Tanggapan Maria atas kabar terbesar itu: Aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu, merupakan sebuah tanggapan terbesar, yang menjadi standar tanggapan iman semua pengikut Kristus. Kita semua sebagai anak-anak Bunda Maria menjadikan tanggapan iman ini sebagai kesanggupan kita untuk melakukan kehendak Allah sepanjang hidup kita.
Perayaan kabar suka cita hari ini membuat kita percaya bahwa berita terbesar di dalam hidup kita sehari-hari ialah tentang kedatangan atau kehadiran dan kebenaran. Berita yang ada di sekitar kita baik lisan, tulisan, maupun online tentang kehadiran, keberadaan, dan kedatangan diri kita sendiri atau sesama harus lebih diutamakan daripada berita tentang ketidak-adaan. Berita tentang kebenaran yang berisi kebaikan, keadilan, kedamaian, suka cita, dan keselamatan harus lebih diperbesar dan disebarkan, daripada tentang kebohongan, kekerasan, kehilangan, permusuhan, perang, dan terorisme. Berita terbesar bagi kita ialah tentang kebaikan dan kebenaran, bukan sebaliknya.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan maha besar, penuhilah diri kami dengan kabar suka cita tentang kebenaran-Mu. Semoga Roh-Mu membantu kami untuk melawan semua berita palsu dan bohong. Salam Maria... Dalam nama Bapa...
AIR KESELAMATAN
Renungan kita pada hari ini bertema: Air Keselamatan. Banyak sekali manfaat air bagi kita manusia dan dunia. Dari semua kemanfaatannya itu, yang disebutkan dengan istilah “air keselamatan” merupakan suatu ungkapan yang abstrak. Sebutan “air suci”, atau “air bersih”, atau “air mineral” merupakan ungkapan konkret dan langsung kita pahami. Misalnya “air baptis”, wujud air adalah tanda yang dipakai untuk menandakan Yesus yang menggunakan air untuk membaptis.
Jadi istilah “air keselamatan” tetap berwujud sebagai air secara fisik yang menjadi tanda bagi Tuhan untuk melakukan tindakan keselamatan atas manusia yang ditolong-Nya. Kitab suci menyajikan banyak peristiwa keselamatan atau pembebasan melalui air, misalnya penyeberangan laut merah oleh orang Israel ketika melepaskan diri mereka dari perbudakan Mesir. Kedua bacaan pada hari ini juga menggambarkan air sebagai sarana keselamatan.
Nabi Yehezkiel berkisah tentang penglihatan akan air yang mengalir di dalam bait suci. Ke mana saja ia mengalir, semua yang terkena alirannya dan daerah sentuhannya menjadi hidup. Ini menyiratkan bahwa ketika tidak ada atau belum tersentuh air, kehidupan yang ada di sana mengalami kesulitan atau bahkan kematian. Di kolam Betesda, airnya sangat instrumental untuk kesembuhan orang-orang sakit. Mereka bergegas mendekat dan disentuh air ketika ia mulai guncang, mereka akan sembuh. Dari kedua gambaran peristiwa ini kita melihat bahwa air sebagai instrumen adalah sebuah tanda fisik yang nyata. Kuasa Allah untuk menyembuhkan dan menyelamatkan tampaknya tersembunyi.
Namun di kolam Betesda, misteri yang tersembunyi itu membuka dirinya. Orang sakit yang sudah menderita selama tiga puluh delapan tahun itu disentuh langsung oleh Tuhan yang sebenarnya hadir dan berkuasa di balik air tersebut. Ia sembuh seketika. Air keselamatan yang ditampilkan oleh kedua bacaan hari ini mengajarkan kita betapa pentingnya aspek tanda fisik dan maknanya air bagi kita. Untuk kelangsungan hidup kita di dunia ini, wujud fisik air jelas sangatlah penting. Tak ada air kita bakal mati seperti lahan tandus dan kering. Makna di balik kenyataan fisik ini ialah keseimbangan alam yang teratur sudah disediakan oleh Tuhan untuk kebaikan dan keselamatan umat manusia.
Air dalam sakramen baptis dan sebagai unsur sakramental dalam kebiasaan penghayatan iman Gereja, terlihat fisiknya sebagai air bersih dan sehat yang dikhususkan untuk pelayanan rohani di dalam Gereja. Makna di balik air pilihan ini ialah Tuhan sendiri yang bekerja melalui pelayan-pelayan-Nya untuk menyelamatkan, menyembuhkan, dan menguduskan umat-Nya.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan maha murah, jadikanlah kami seperti air yang memberikan kesejukan, ketenangan, dan kesembuhan bagi diri kami sendiri yang memerlukan kesembuhan jasmani-rohani, dan bagi sesama kami yang saat ini sedang menderita sakit. Bapa kami... Dalam nama Bapa...
Delivered by Maria Olivia from the Kristus Raja Parish in the Diocese of Surabaya, Indonesia. 1 Samuel 24: 3-21; Rs psalm 57: 2.3-4.6.11; Mark 3: 13-19.JESUS APPOINTED THE 12 APOSTLES The title for our meditation today is: Jesus Appointed the 12Apostles. Jesus in the Gospel of Mark chapter 3 went up on a hill and calledthose He wanted, then appointed twelve men to accompany Him, to be sent, and toreceive power of preaching the Gospel. This act of "appointing" isnot just a choosing, but a divine decision full of power and meaning. When God acts to appoint, He is teaching men about trueauthority: the power to lead, to govern, to shepherd, and to unite. God'sleadership is never intended to oppress, but rather to organize the people towalk in truth, to be preserved in love, and to grow in strong unity. We see a similar pattern in the history of salvation of theIsraelites. When God appointed David as king, he did not mean that he wasmerely "appointing a new man," but it also opened the way for Saul tostep down from leadership that was no longer in harmony the will of God. Goddoes not just change leaders, but forms a new direction for His people so thatthe course of the history of salvation remains in harmony with the will of God.David was appointed not because of his human prowess alone, but because he waswilling to be formed as a shepherd for the nation. From this we learn thatGod's decree always has a spiritual purpose: to lead people to repentance,restore order, and redirect life to His plan. So it was when Jesus appointed the twelve apostles. They werenot chosen because they were perfect, but because they were called to enter theformation process. The apostles' first task was not to do the great workimmediately, but to "be with Jesus": to be good disciples, to befaithful to the Master, and to keep learning from his heart. The faithfulnessof these disciples is the main foundation for the ministry. For one cannot be apreacher of the Gospel without first living in communion with Christ. Trueservice is born from a heart that knows God, not just from skills or positions. After becoming disciples, the apostles were sent to continueJesus' work in the world. But the mission reached its fullness when the HolySpirit was poured out on the event of Pentecost. From there the Church was bornas a living communion, not just an organization. The apostles became thebedrock of the Church, and through them, the responsibility of building upGod's people began: proclaiming the gospel, administering the sacraments,maintaining unity, and shepherding the people in love. This task was thencontinued by the Church throughout the ages, with her missionary and apostolicresponsibility: sent to the world, but still rooted in the faith of theapostles. The Church is like a spring of Christ and flows through theapostles to revive many dry places. So we are called to be faithful disciples,and to be part of the Church sent to present Christ to the world. Letus pray. In the name of the Father ... O Lord Jesus, strengthen us as membersof Your Church and lead us in the path of truth and life, so that this Churchmay be a sign of Your glory that rules the whole world. Our Father who art inheaven... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Ibu Deo Omnis Gloria dan Ibu Yesy dari Paroki Kristus Raja Baciro di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 24: 3-21; Mazmur tg 57: 2.3-4.6.11; Markus 3: 13-19.YESUS MENETAPKAN 12 ORANG RASUL Tema renungan kita pada hari ini ialah: Yesus Menetapkan 12Orang Rasul. Yesus dalam Injil Markus bab 3 naik ke bukit dan memanggilorang-orang yang Ia kehendaki, lalu menetapkan dua belas orang untukmenyertai-Nya, untuk diutus, dan untuk menerima kuasa dalam karya pewartaan.Tindakan “menetapkan” ini bukan sekadar memilih, tetapi sebuah keputusan ilahiyang penuh kuasa dan makna. Ketika Allah bertindak menetapkan, Ia sedang mengajar manusiatentang otoritas yang benar: kuasa untuk memimpin, mengatur, menggembalakan,dan mempersatukan. Kepemimpinan Allah tidak pernah bertujuan menindas,melainkan menata umat agar berjalan dalam kebenaran, terpelihara dalam kasih,dan bertumbuh dalam kesatuan yang kuat. Kita melihat pola yang sama dalam sejarah keselamatan bangsaIsrael. Ketika Allah menetapkan Daud sebagai raja, bukan berarti Ia hanya“mengangkat orang baru”, tetapi juga membuka ruang agar Saul mundur darikepemimpinan yang sudah tidak selaras dengan kehendak-Nya. Allah tidak sekadarmengganti pemimpin, namun membentuk arah baru bagi umat-Nya sehingga perjalanansejarah keselamatan tetap selaras dengan kehendak Allah. Daud ditetapkan bukankarena kehebatan manusiawinya semata, melainkan karena ia bersedia dibentukmenjadi gembala bagi bangsa itu. Dari sini kita belajar bahwa penetapan Allahselalu mengandung tujuan rohani: menuntun umat kepada pertobatan, memulihkan tatanan,dan mengarahkan kembali kehidupan kepada rencana-Nya. Demikian pula ketika Yesus menetapkan dua belas rasul. Merekabukan dipilih karena sempurna, melainkan karena dipanggil untuk masuk dalamproses pembentukan. Tugas pertama para rasul bukan langsung melakukan karyabesar, melainkan “menyertai Yesus”: menjadi murid yang baik, setia kepada SangGuru, dan terus belajar dari hati-Nya. Kesetiaan murid-murid inilah pondasiutama bagi pelayanan. Sebab seseorang tidak dapat menjadi pewarta Injil tanpalebih dahulu hidup dalam persekutuan dengan Kristus. Pelayanan yang sejatilahir dari hati yang mengenal Tuhan, bukan hanya dari keterampilan ataujabatan. Setelah menjadi murid, barulah para rasul diutus untukmelanjutkan karya Yesus di dalam dunia. Namun pengutusan itu mencapaikepenuhannya ketika Roh Kudus dicurahkan pada peristiwa Pentakosta. Dari sanaGereja lahir sebagai persekutuan yang hidup, bukan sekadar organisasi. Pararasul menjadi batu dasar Gereja, dan melalui mereka, tanggung jawab membangunumat Allah dimulai: mewartakan Injil, melayani sakramen, menjaga kesatuan,serta menggembalakan umat dalam kasih. Tugas ini kemudian diteruskan oleh Gerejasepanjang zaman, dengan tanggung jawabnya yang misioner dan apostolik: diutusuntuk dunia, namun tetap berakar pada iman para rasul. Gereja seperti mata air dari Kristus dan mengalir melaluipara rasul untuk menghidupkan banyak tempat yang kering. Maka kita pundipanggil untuk menjadi murid yangsetia, dan menjadi bagian dari Gereja yang diutus untuk menghadirkan Kristusbagi dunia. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan Yesus, kuatkanlah kami sebagai anggotaGereja-Mu dan tuntunlah kami di dalam jalan kebenaran dan kehidupan, agarGereja ini menjadi tanda kemuliaan-Mu yang menguasai seluruh dunia. Bapa kamiyang ada di surga … Dalam nama Bapa …
Delivered by Father Peter Tukan, SDB from Salesian Don Bosco Gerak in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. 1 Samuel 18: 6-9; 19: 1-7; Rs psalm 56: 2-3.9-10a.10b-11.12-13; Mark 3: 7-12.WINNERS REMAIN HUMBLE Our meditation today is entitled: Winners Remain Humble. Thereis a nurse in a hospital does a great job—patients feel helped, patients'families are grateful, and even coworkers praise her. But she is not busyseeking praise or comparing herself to others. She still comes on time,continues to help patiently, remains polite to the cleaners, security guards,and anyone else. When someone envies or is unfair to her, she chooses to keepworking righteously and leave the results to God. This is a clear example of awinner remains humble. In the story of King David, we see a victory that does notfoster pride. David succeeded in defeating the enemy and bringing joy to thenation, but it was precisely at this moment that the threat arose from within:King Saul began to feel threatened and planned the assassination of the"new king" that God was preparing. Humanly speaking, David had reason to retaliate, defendhimself by force, or show power. But David chose a deeper path: he remainedhumble, did not boast himself, and did not look down on others, even againstSaul who had hurt his heart. He still considered Saul to be God's anointed. David's humility was not a weakness, but rather a spiritualstrength born of the realization that his life was not his own. David knew thatsuccess in war was not just because of his strategy or prowess, but because Godwas in control. He did not use victory as a stage for self-exaltation, but asan opportunity to depend more on God. When a person believes that God is thesource of victory, then he will not feel the need to degrade others in order toappear higher or greater. This attitude becomes even more evident when we look at JesusChrist. In the Gospels, evil spirits recognized and acknowledged Jesus as theSon of God. But Jesus actually rebuked them not to spread the news. Why?Because the confession of Himself must be made at the right time and place,according to the Father's plan of salvation. Jesus did not pursue popularity,did not build influence by sensation, and did not seek recognition from thewrong voice. He showed that truth does not need to be imposed through exaggeration,but must be born of God's orderly and wise will. Jesus then went about working non-stop, fulfilling the dutythat come from the Father: proclaiming God's Kingdom, healing, liberating, andbuilding faith. He didn't stop just because he's known, praised, or recognized.He continued to walk in humility, because His focus was not on personalachievements, but on the will of the Father. Here's a valuable spirituallesson: working humbly means remain true to the mission, not maintaining animage, not pursuing excellence, not seeking human applause. Letus pray. In the name of the Father ... O Lord Jesus, may the teachings of lovefrom You always illuminate and lead us to be humble in our words and actions.Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. 1 Samuel 18: 6-9; 19: 1-7; Mazmur tg 56: 2-3.9-10a.10b-11.12-13; Markus 3: 7-12.PEMENANG TETAP RENDAH HATI Renungan kita pada hari ini bertema: Pemenang Tetap RendahHati. Seorang perawat di rumah sakit bekerja dengan sangat baik—pasien merasatertolong, keluarga pasien berterima kasih, bahkan rekan kerja memujinya. Namunia tidak sibuk mencari pujian atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Iatetap datang tepat waktu, tetap menolong dengan sabar, tetap sopan kepadapetugas kebersihan, satpam, dan siapa pun. Ketika ada yang iri atau bersikaptidak adil kepadanya, ia memilih tetap bekerja benar dan menyerahkan hasilnyakepada Tuhan. Ini merupakan contoh nyata seorang pemenang tetap rendah hati. Dalam kisah Raja Daud, kita melihat sebuah kemenangan yangtidak melahirkan kesombongan. Daud berhasil mengalahkan musuh dan membawasukacita bagi bangsa, namun justru di saat itulah ancaman muncul dari dalam:Raja Saul mulai merasa terancam dan merencanakan pembunuhan terhadap “rajabaru” yang sedang dipersiapkan Tuhan. Secara manusiawi, Daud punya alasan untuk membalas,mempertahankan diri dengan cara keras, atau menunjukkan kuasa. Tetapi Daudmemilih jalan yang lebih dalam: ia tetap merendah, tidak membesar-besarkandiri, dan tidak menyepelekan orang lain, bahkan terhadap Saul yang melukaihatinya. Ia tetap menganggap Saul sebagai yang diurapi Tuhan. Kerendahan hati Daud bukan kelemahan, melainkan kekuatanrohani yang lahir dari kesadaran bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri. Daudtahu, keberhasilan dalam perang bukan semata karena strategi atau kehebatannya,tetapi karena Tuhan yang memegang kendali. Ia tidak menjadikan kemenangansebagai panggung untuk meninggikan diri, melainkan sebagai kesempatan untuksemakin bergantung kepada Allah. Ketika seseorang yakin bahwa Tuhanlah sumberkemenangan, maka ia tidak akan merasa perlu merendahkan orang lain agar dirinyatampak lebih tinggi. Sikap ini makin terang ketika kita memandang Yesus Kristus.Dalam Injil, roh-roh jahat mengenali dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah.Namun Yesus justru menegur mereka agar tidak menyebarkan berita itu. Mengapa?Karena pengakuan tentang diri-Nya harus dinyatakan pada saat dan tempat yangtepat, sesuai rencana keselamatan dari Bapa. Yesus tidak mengejar popularitas,tidak membangun pengaruh dengan sensasi, dan tidak mencari pengakuan dari suarayang salah. Ia menunjukkan bahwa kebenaran tidak perlu dipaksakan lewatkemegahan, tetapi harus lahir dari kehendak Allah yang teratur dan penuhhikmat. Yesus kemudian terus berkeliling untuk bekerja tanpa henti,mewujudkan tugas-tugas yang berasal dari Bapa: mewartakan Kerajaan Allah,menyembuhkan, membebaskan, dan membangun iman. Ia tidak berhenti hanya karenatelah dikenal, dipuji, atau diakui. Ia tetap berjalan dalam kerendahan hati,karena fokus-Nya bukan prestasi pribadi, melainkan kehendak Bapa. Inilahpelajaran rohani berharga: bekerja dengan rendah hati berarti tetap setia padamisi, bukan menjaga citra, bukan mengejar keunggulan, bukan mencari tepuktangan manusia. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan Yesus, semoga ajaran cinta kasihdari-Mu selalu menerangi dan menuntun kami untuk bersikap rendah hati di dalamkata dan tindakan kami. Salam Maria, penuh rahmat … Dalam nama Bapa …
Delivered by Kezia from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Samuel 17: 32-33.37.40-51; Rs psalm 144: 1.2.9-10; Mark 3: 1-6.EVIL AGAINST GOOD The title for our meditation today is: Evil Against Good. Inhuman history, we have seen many times a great clash between evil versus good.The story of David versus Goliath in the Old Testament is a very powerfulpicture: a small young man, without armor and without "proper"weapons of war, standing before a well-armed giant. Humanly speaking, it waslike an impossible fight. But David did not advance in his own strength; headvanced with faith, with the courage born of the conviction that this life isin the hands of God. Here we see that evil often appears intimidating, great,violent, and threatening, but good has a deeper power: the truth that comesfrom God. In the New Testament, the clash appears to be darker. ThePharisees, Herodians, and religious leaders united against Jesus not becauseJesus did evil, but because He brought a light that exposed falsehood. Evil isoften afraid of the truth, because the truth unmasks it. So Jesus wasconfronted in various ways: slander, traps, manipulation of the masses, and thedeath penalty. Outwardly, goodness seems to be defeated—the Son of God wascrucified. But kindness is not according to the size of the world. Goodnesstriumphs because Jesus does not repay hatred with hatred; He conquers violencewith love, and death with resurrection. Why does in this "war" good always win? First,because good is rooted in the eternal God, while evil is a fragile aberration.Second, because good unites, while evil ultimately destroys itself: it growsthrough lies, but lies always require new lies, until they finally collapse bycontradictions. Third, good has a creative vitality—it builds, restores, andgives hope—whereas evil is only capable of destroying and emptying. So whengoodness seems to be losing temporarily, it is actually planting the seed of greaterand purer victory. Why does evil lose, but never give up? Because evil has notrue "life"; It lives by sticking to the good and twisting it. Itcannot create, it can only falsify. Therefore it continues to fight againstGod, man, and even the order of the universe, because it is in that resistancethat it tries to survive. Evil also grows because of pride: it wants to be thecenter, it wants to dominate, it wants to be recognized. So it did not stop,because to stop means to admit that it was not God. This is where the tragedylies: evil continues to fight, but each struggle shows that it has no finalvictory. But we must also be honest: evil is not only "outthere", in a great enemy or an evil system, but also lurking in the humanheart: envy, resentment, manipulation, selfishness, petty injustices that areconsidered ordinary. Evil often loses on a large scale because God is faithful,but it persists on a small scale because man can be caught off guard.Therefore, the triumph of good is not just the heroic story of David or Jesus;It became a daily spiritual calling: choosing to be honest when it is easy tolie, choosing to forgive when the heart wants to retaliate, choosing to carewhen the world is used to destroying. Letus pray. In the name of the Father ... O God of truth and goodness, in You wetake refuge and in You we rely to always be blessed with Your gifts of goodnessand truth. Our Father who art in heaven... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Agnes Ambariliani dan Tarsisius Agung Marsono dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 17: 32-33.37.40-51; Mazmur tg 144: 1.2.9-10; Markus 3: 1-6.KEJAHATAN MELAWAN KEBAIKAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kejahatan MelawanKebaikan. Dalam sejarah manusia, kita berkali-kali melihat benturan besarantara kejahatan melawan kebaikan. Kisah Daud melawan Goliat dalam PerjanjianLama adalah gambaran yang sangat kuat: seorang muda kecil, tanpa baju zirah dantanpa senjata perang yang “layak”, berdiri di hadapan raksasa bersenjatalengkap. Secara manusiawi, itu seperti perlawanan yang mustahil. Namun Daudtidak maju dengan kekuatannya sendiri; ia maju dengan iman, dengan keberanianyang lahir dari keyakinan bahwa hidup ini berada dalam tangan Allah. Di sinikita melihat bahwa kejahatan sering tampil mengintimidasi, besar, keras, danpenuh ancaman, tetapi kebaikan memiliki daya yang lebih dalam: kebenaran yangberasal dari Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, benturan itu tampak lebih kelam. KaumFarisi, Herodian, dan para pemuka agama bersatu melawan Yesus bukan karenaYesus melakukan kejahatan, tetapi justru karena Ia membawa terang yangmenyingkapkan kepalsuan. Kejahatan sering takut pada kebenaran, sebab kebenaranmembuka topengnya. Maka Yesus dihadang dengan berbagai cara: fitnah, jebakan,manipulasi massa, hingga hukuman mati. Secara lahiriah, kebaikan seolahkalah—sang Putra Allah disalibkan. Tetapi kebaikan bukan menurut ukuran dunia.Kebaikan menang karena Yesus tidak membalas kebencian dengan kebencian; Iamenaklukkan kekerasan dengan kasih, dan maut dengan kebangkitan. Mengapa dalam “perang” ini kebaikan selalu menang? Pertama,karena kebaikan berakar pada Allah yang kekal, sedangkan kejahatan adalahpenyimpangan yang rapuh. Kedua, karena kebaikan menyatukan, sementara kejahatanpada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri: ia bertumbuh lewat dusta, tetapidusta selalu memerlukan dusta baru, sampai akhirnya runtuh oleh kontradiksi.Ketiga, kebaikan memiliki daya hidup yang kreatif—ia membangun, memulihkan, danmemberi harapan—sedangkan kejahatan hanya mampu merusak dan mengosongkan. Makaketika kebaikan tampak kalah sementara, sebenarnya ia sedang menanam benihkemenangan yang lebih besar dan lebih murni. Mengapa kejahatan itu kalah, tetapi tidak pernah menyerah?Karena kejahatan tidak memiliki “hidup” sejati; ia hidup dari menempel padayang baik dan memutarbalikkannya. Ia tidak dapat mencipta, hanya dapatmemalsukan. Sebab itu ia terus melawan Tuhan, manusia, dan bahkan tatanan alamsemesta, karena dalam perlawanan itulah ia mencoba bertahan. Kejahatan jugatumbuh dari kesombongan: ia ingin menjadi pusat, ingin menguasai, ingin diakui.Maka ia tidak berhenti, sebab berhenti berarti mengakui bahwa dirinya bukanTuhan. Di sinilah tragisnya: kejahatan terus berjuang, tetapi setiap perjuanganitu justru memperlihatkan bahwa ia tidak memiliki kemenangan yang final. Namun kita juga harus jujur: kejahatan tidak hanya ada “diluar” sana, pada musuh besar atau sistem yang jahat, melainkan juga mengintaidalam hati manusia: iri, dendam, manipulasi, egoisme, ketidakadilan kecil yangdianggap biasa. Kejahatan sering kalah dalam skala besar karena Tuhan setia,tetapi ia tetap bertahan dalam skala kecil karena manusia bisa lengah. Karenaitu, kemenangan kebaikan bukan sekadar kisah heroik Daud atau Yesus; ia menjadipanggilan rohani harian: memilih jujur ketika mudah berbohong, memilihmengampuni ketika hati ingin membalas, memilih merawat ketika dunia terbiasamerusak. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Allah yang mahabenar dan mahabaik, di dalamDikau kami berlindung dan pada-Mu kami bersandar untuk selalu diberkati denganpemberian-Mu yang baik dan benar. Bapa kami yang ada di surga … Dalam nama Bapa…
Delivered by Evelyn from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Samuel 16: 1-13; Rs psalm 89: 20.21-22.27-28; Mark 2: 23-28.THE LEGACY OF OBEDIENCE The title for our meditation today is: The Legacy ofObedience. When the prophet Samuel was sent by God to anoint a king for Israel,the Lord's choice fell on David—not because of his appearance, strength, orsocial status, but because of a willing heart that was ready to obey. David wasseen worthy not because he was perfect without blemish, but because he had aninner willingness to listen to and put God's will above his own. This kind of obedience is not forced obedience, but obedienceborn of faith and trust that God knows best. In David, God saw a legacy: man'sobedience to His voice, an attitude that should live on from generation togeneration. David gave an example that obedience is a manifestation of a humanvirtue namely fear of God. The inheritance of obedience is the noble calling that Godentrusts to His people: that man should not live according to his own desires,but walk in the light of God's will. However, this inheritance is oftenthreatened by sin. Sin always seeks to undermine obedience by replacing it withpride, self-justification, or a life that simply "appears right" onthe outside. However, God has never taken that inheritance of obedience awayfrom the world. He continues to nurture it and send the elect—those who are willingto be heirs and guardians of his faithfulness. In Jesus' debate with the Pharisees and scribes, the figureof David was again raised as a model of true obedience. Jesus reveals thatGod's will cannot be done by outward rules alone, much less by motivation mixedwith spiritual ambition. The obedience that God requires is pure obedience:free from self-interest, not seeking praise, and not using religion as aninstrument of power. Thus, David was not just a king of history but an icon ofthe mind—a picture of a man who carries out God's will with an open, honest,and freedom of heart. God did not call His people to be a generation that broke thechain of faithfulness, but to be a generation that continues and purifies it.God's chosen people are those who deserve to inherit obedience: willing to hearGod's correction, willing to repent when they fall, and remain faithful evenwhen no one is looking. It is at this point that obedience becomes a sign ofspiritual identity: that this life belongs to God who leads with love. Let's look at a torch that is inherited in a relaycompetition. The torch is not just an object, but a symbol of direction,purpose, and responsibility. If one runner drops it, the entire team could losea chance, not because the torch is missing, but because they neglect to guard it.But the coach doesn't stop training, he doesn't stop picking the bestrunners—he makes sure the torch stays all the way to the finish line. Such isobedience: a sacred heritage that must be preserved, not extinguished by sin andnegligence. A legacy of obedience is not just a story of the past, but a call oftoday—that the world may continue to have faithful, pure, and free witnesses tolive the will of God.Letus pray. In the name of the Father ... O Lord God, strengthen our commitment offaith to You so that we will always inherit obedience to Your will to theyounger generation around us. Hail Mary, full of grace... In the name of theFather ...
Dibawakan oleh R. Lukas M. Ari Wibowo dan Theresia Tuti Andayani dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 16: 1-13; Mazmur tg 89: 20.21-22.27-28; Markus 2: 23-28.WARISANKETAATAN Temarenungan kita pada hari ini ialah: Warisan Ketaatan. Ketika nabi Samueldiutus Allah untuk mengurapi seorang raja bagi Israel, pilihan Tuhan jatuh padaDaud—bukan karena penampilan, kekuatan, atau status sosialnya, melainkan karenahati yang siap taat. Daud dipandang layak bukan karena ia sempurna tanpa cela,melainkan karena ia memiliki kerelaan batin untuk mendengarkan dan menempatkankehendak Allah di atas kehendaknya sendiri. Ketaatan seperti ini bukan ketaatan yang dipaksakan, tetapiketaatan yang lahir dari iman dan kepercayaan bahwa Allah tahu yang terbaik. Didalam diri Daud, Allah melihat suatu warisan: ketaatan manusia kepadasuara-Nya, sebuah sikap yang seharusnya tetap hidup dari generasi ke generasi.Daud memberikan contoh bahwa taat merupakan suatu perwujudan sikap manusia yangtakut akan Allah. Warisan ketaatan itu adalah panggilan luhur yang dititipkanAllah kepada umat-Nya: agar manusia tidak hidup mengikuti nafsu sendiri, tetapiberjalan dalam terang kehendak Tuhan. Namun, warisan ini sering terancam olehdosa. Dosa selalu berusaha merusak ketaatan dengan menggantinya menjadikesombongan, pembenaran diri, atau kehidupan yang sekadar “tampak benar” diluar. Meski demikian, Allah tidak pernah mencabut warisan ketaatan itu daridunia. Ia terus memeliharanya dan membangkitkan orang-orang pilihan—pribadi-pribadiyang bersedia menjadi pewaris dan penjaga kesetiaan kepada-Nya. Dalam perdebatan Yesus dengan orang-orang Farisi dan paraahli Taurat, sosok Daud kembali diangkat sebagai tolok ukur ketaatan yangsejati. Yesus menyingkapkan bahwa kehendak Allah tidak dapat dilaksanakan hanyadengan aturan lahiriah, apalagi dengan motivasi yang tercampur ambisi rohani.Ketaatan yang dikehendaki Allah adalah ketaatan yang murni: bebas darikepentingan diri, tidak mencari pujian, dan tidak memakai agama sebagai alatkekuasaan. Maka, Daud bukan sekadar raja sejarah, melainkan ikon batin—gambaranmanusia yang menjalankan kehendak Tuhan dengan hati yang terbuka, jujur, danpenuh kebebasan. Allah tidak memanggil umat-Nya menjadi generasi yangmemutuskan rantai kesetiaan, tetapi menjadi generasi yang melanjutkan danmemurnikannya. Orang-orang pilihan Tuhan adalah mereka yang pantas mewarisiketaatan: mau mendengar koreksi Tuhan, mau bertobat ketika jatuh, dan tetapsetia meski tidak dilihat orang. Di titik inilah ketaatan menjadi tandaidentitas rohani: bahwa hidup ini merupakan milik Allah yang memimpin dengankasih. Mari lihat sebuah obor yang diwariskan dalam lomba estafet.Obor itu bukan sekadar benda, tetapi simbol arah, tujuan, dan tanggung jawab.Jika satu pelari menjatuhkannya, seluruh tim bisa kehilangan kesempatan, bukankarena obornya hilang, tetapi karena mereka lalai menjaganya. Namun pelatihtidak berhenti melatih, tidak berhenti memilih pelari terbaik—ia memastikanobor itu tetap sampai ke garis akhir. Demikianlah ketaatan: warisan suci yangharus dijaga, bukan dipadamkan oleh dosa dan kelalaian. Sebuah warisan ketaatanbukan hanya cerita masa lalu, tetapi panggilan hari ini—agar dunia tetapmemiliki saksi-saksi yang setia, murni, dan bebas dalam menghidupi kehendakAllah. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan Allah, kuatkanlah selalu komitmen imankami kepada-Mu agar kami akan selalu mewarisi ketaatan akan kehendak-Mu kepadagenerasi muda di sekitar kami. Salam Maria, penuh rahmat … Dalam nama Bapa …
Delivered by Father Peter Tukan, SDB from Salesian Don Bosco Gerak in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. 1 Samuel 15: 16-23; Rs psalm 50: 8-9.16bc-17.21.23; Mark 2: 18-22.LIVING IN THE LIGHT OF GOD'S WORD, NOT BY GIVING OFFERINGS Our meditation today is entitled: Living in the Lightof God's Word, Not by Giving Offerings. The story of the king Saul, as narratedin the first book of Samuel chapter 15, describes how God rebuked King Saulthrough the prophet Samuel. Saul was devoted to God by offering burnt offeringsand sacrifices, but he ignored God's command. This is where the Word of God isstrongly affirmed: what is primarily is not an outward offering, but anobedience born of a heart that listens and believes. Sacrifice withoutobedience loses its meaning, because God wants relationships, not just rituals. When God speaks and commands, man's basic responseshould be to hear, believe, and carry them out. Hearing means opening theheart, not just the ears. To believe means to believe that God's Word bringslife, not a burden. To carry out means to allow the Word to shape concretechoices, attitudes, and actions. Obedience is the menifestation of one’s faith. This relationship is described not as a distant andscary relationship, but a close relationship like parents and children. The Godwho speaks is the God who cares, who guides, and who strengthens. His presenceis not abstract, but it can be experienced in the course of daily life. Whenman lives in the light of His Word, he does not walk alone, but is sustained bythe power and faithful love of God. The experience of God's presence should encouragegratitude and celebration of faith. When God is truly felt, the life of faithdoes not fall into dry routines or forced discipline. Fasting and otherspiritual practices should not be mere obligations, but expressions of love andlonging for God. If spiritual practice loses its spirit of love, man willbecome far from the living God. The Gospel affirms that as long as the bridegroom isstill with us, there is no need to fast. The bridegroom symbolizes the presenceof God who saves and brings joy. When God is present and experienced inreality, what is appropriate is not mourning, but joy and gratitude. Fastingbecomes relevant when the bridegroom "do not exist", that is, whenhumans experience emptiness, distance, and longing for God. It is at thatmoment that fasting becomes a means of repentance and a search for Hispresence. Thus, living in the light of God's Word means puttingobedience above formality, relationship over ritual, and love over emptyhabits. True offerings are hearts that are willing to be shaped by God's Word.It is in obedience that man experiences God who is near, strengthens, andalways pours out His blessings, love, and mercy in daily life. Let us pray. In the name of the Father ... O Almighty God, increaseour faith in You and grant that our love of you grows healthy, so that we mayalways experience Your life-giving presence. Hail Mary, full of grace... In thename of the Father ...
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. 1 Samuel 15: 16-23; Mazmur tg 50: 8-9.16bc-17.21.23; Markus 2: 18-22.HIDUPDALAM TERANG FIRMAN ALLAH, BUKAN DENGAN MEMBERIKAN PERSEMBAHAN Renungankita hari ini bertema: Hidup dalam Terang Firman Allah, Bukan dengan MemberikanPersembahan. Kisah tentang Raja Saul, yang diceritakan dalam kitab Samuel yang pertamabab 15, menggambarkan bagaimana Allah menegur Raja Saul melalui nabi Samuel.Saul mengabdikan diri kepada Allah dengan mempersembahkan korban bakaran dan sembelian,tetapi ia mengabaikan perintah Allah. Di sinilah Firman Allah ditegaskan dengankuat: yang utama bukanlah persembahan lahiriah, tetapi ketaatan yang lahir darihati yang mendengarkan dan percaya. Kurban tanpa ketaatan kehilangan maknanya,karena Allah menginginkan relasi mesra, bukan hanya ritual. KetikaAllah berbicara dan memberikan perintah-Nya, sikap dasar manusia seharusnyaadalah mendengar, percaya, dan melaksanakannya. Mendengar berarti membuka hati,bukan hanya telinga. Percaya berarti percaya bahwa Firman Allah membawakehidupan, bukan beban. Melaksanakan berarti membiarkan Firman membentukpilihan, sikap, dan tindakan nyata. Ketaatan adalah syarat dasar untuk tumbuhdan berbuahnya iman. Relasiini digambarkan bukan sebagai relasi yang jauh dan menakutkan, tetapi relasiyang dekat seperti orang tua dan anak. Allah yang berbicara adalah Allah yangpeduli, yang membimbing, dan yang menguatkan. Kehadiran-Nya bukanlah sesuatuyang abstrak, tetapi dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari. Ketika manusiahidup dalam terang Firman-Nya, ia tidak berjalan sendirian, tetapi ditopangoleh kuasa dan kasih setia Allah. Pengalamanakan kehadiran Allah seharusnya mendorong rasa syukur dan perayaan iman. KetikaAllah benar-benar dirasakan, kehidupan iman tidak jatuh ke dalam rutinitas yangkering atau disiplin yang dipaksakan. Puasa dan praktik spiritual lainnyaseharusnya bukan sekadar kewajiban, tetapi ungkapan kasih dan kerinduan kepadaAllah. Jika praktik spiritual kehilangan semangat kasihnya, manusia akanmenjauh dari Allah yang hidup. Injilmenegaskan bahwa selama mempelai laki-laki sedang ada bersama kita, kita tidakperlu berpuasa. Mempelai ini melambangkan kehadiran Allah yang menyelamatkandan membawa sukacita. Ketika Allah hadir dan dialami secara nyata, yang tepatbukanlah ratapan, melainkan sukacita dan rasa syukur. Puasa menjadi relevanketika mempelai itu "tidak ada", yaitu ketika manusia mengalamikekosongan, jarak, dan kerinduan akan Allah. Pada saat itulah puasa menjadisarana pertobatan dan pencarian akan kehadiran-Nya. Olehkarena itu, hidup dalam terang Firman Allah berarti mengutamakan ketaatan diatas formalitas, relasi di atas ritual, dan cinta di atas kebiasaan kosong.Persembahan sejati adalah hati yang bersedia dibentuk oleh Firman Allah. Dalamketaatanlah manusia mengalami Allah yang dekat, menguatkan, dan selalumencurahkan berkat, kasih sayang, dan rahmat-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Marilahkita berdoa. Dengan nama Bapa... Ya Allah Yang Mahakuasa, tambahkanlah imankami kepada-Mu, agar kami selalu dapat merasakan kehadiran-Mu yang memberikehidupan. Salam Maria, penuh rahmat ... Dengan nama Bapa ...
Delivered by Celine from the Parish of Santo Marinus Yohanes in the Diocese of Surabaya, Indonesia. 1 Samuel 9: 1-4.17-19; 10: 1a; Rs psalm 21: 2-3.4-5.6-7; Mark 2: 13-17.STRATEGY TO CHANGE ASINNER The title for ourmeditation today is: Strategy to Change a Sinner. Jesus' preferential optionfor the sick, paralyzed, poor, possessed by evil spirits is as strong as Hiscompassion for sinners. Sinful persons are those who are spiritually sick.Public sinners such as thieves, rapists, prostitutes, and tax collectors, areseriously sick because they destroy and damage many people's life. Societyconseder them as bad as rubbish. Public sinners areactually those who sin openly in the community and even to their own families.They are controlled by a system applied in society. Men or women prostitute,for example, they are controlled by the burden of life and living system is thesociety they belong to. Today's Gospel introduces us a life of a public sinner,namely Levi the son of Alphaeus. He was a public tax collector who served theRoman authorities. Of course he wasconsidered very sinful because in dealing with public taxation, he cheated muchin collecting people's money and goods. People in the society really hated him,but he continued to sin because law was protecting him to do so. Levi was knownin the circle of the twelve apostles by the name of Matthew. The evangelistMatthew calls him the tax collector. Public sins are very painful and heavy forthe community and the sinner himself or herself cannot avoid it. Therefore Jesus mustinterfere in this matter. The technique that he used was to come face to face,called him by name, and not just invited but ordered him to stop that sinfullact. This implies sins that not only cause self-harm but are very harmful to manypeople and become serious sins. These kind of sins must be stopped. Serious bigsins should not be allowed to develop and spread. If they are not controlledand stopped, the one who involves in it can be considered collaborating withDevils or working for Satan. Israel as a nationwas not allowed to continue their stubborn and sinful ways. God stopped this bymaking Saul their king. A new system came to bring necessary goodness and theold system must be left behind. Jesus changes the sinners like Levi, so did thesame with many others such as Mary Magdalene and Paul, because they had thepotential to become great criminals and could harm many people. They must beused positively for the new system of faith that Jesus uses. Through baptism,Jesus Christ makes us part of the new system that He has created. The sins thatwe committed after baptism are many and of various types, but the Lord Jesushas a way to change our lives. The Church carries out this duty by becoming aninstrument for changing people's lives. Let's pray. In the name of the Father... O Jesus Christ, deliver us from bad and negative habits that often plungeus into sin. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit ... Inthe name of the Father ...
Dibawakan oleh Yustina Armastiti dan Ignasius Sunaryo dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 9: 1-4.17-19; 20: 1a; Mazmur tg 21: 2-3.4-5.6-7; Markus 2: 13-17.JURUS MENGUBAHSI PENDOSA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Jurus Mengubah SiPendosa. Keberpihakan Yesus kepada orang sakit, lumpuh, miskin, kerasukan rohjahat sama kuat dengan belas kasih-Nya kepada orang-orang berdosa. Para pendosaadalah mereka yang sedang sakit secara rohani. Pendosa publik seperti pencuri,pemerkosa, prostitusi, dan pemungut bea, mengalami sakit yang parah karenadikucilkan oleh masyarakat. Mereka sama dengan sampah. Pendosa publik sebenarnya ialah mereka yang berdosa ditengah masyarakat bahkan keluarganya sendiri secara terang-terangan. Merekadikontrol sebuah sistem yang berlaku. Pria atau wanita prostitusi misalnya,mereka dikontrol oleh beban hidup dan sistem kehidupan masyarakat. Injil hariini memperkenalkan kita seorang pendosa publik, yaitu Lewi anak Alfeus, sipemungut bea rakyat karena ia adalah pelayan bangsa penjajah, Romawi. Tentu saja ia dianggap sangat berdosa karena dalammemungut pajak ia banyak berbuat curang soal pungutan uang dan barang.Masyarakat sangat membencinya, tetapi ia tetap berbuat dosa karena ada hukumyang melindunginya. Lewi ini dikenal dalam lingkaran kedua belas rasul dengannama Matius. Penginjil Matius menyebutnya sebagai si pemungut cukai. Dosapublik sangat menyakitkan masyarakat dan pendosa sendiri tidak bisa menghindariitu. Oleh karena itu Yesus harus turun tangan. Jurus yang Iapakai ialah datang bertemu langsung, memanggil dia dengan namanya, dan tidaksekedar mengajak tetapi memerintahkan untuk menghentikan perbuatannya itu. Inimengandung arti, dosa yang tidak hanya mencelakakan diri sendiri tetapi sangatmerugikan orang banyak dan menjadi dosa serius, harus dihentikan. Dosa besaryang serius jangan dibiarkan berkembang dan menyebar. Kalau dibiarkan, itunamanya berkolaborasi dengan penjahat atau bekerja sama dengan setan. Israel sebagai bangsa tidak dibiarkan terus berkeraskepala dan berdosa. Tuhan Allah menghentikan ini dengan menjadikan Saul sebagairaja atas mereka. Satu sistem baru diubah demi kebaikan dan sistem lama harusditinggalkan. Yesus mengubah pribadi pendosa seperti Lewi, demikian juga banyakorang lain termasuk Paulus, karena mereka ini berpotensi dalam kejahatan yangbesar dan merugikan banyak orang. Mereka harus dipakai secara positif untuksistem baru dalam beriman yang Yesus jalankan. Melalui pembaptisan, Yesus Kristus membuat kita menjadibagian dari sistem baru yang Ia bangun. Dosa-dosa yang kita perbuat setelahpembaptisan beraneka dan banyak, tetapi Tuhan Yesus punya jurus untuk mengubahhidup kita. Gereja menjalankan tugas ini dengan menjadi sarana bagi perubahandiri umatnya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus,bebaskanlah kami dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan negatif yang seringmenjerumuskan kami ke dalam dosa. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus... Dalam nama Bapa ...
Delivered by Vanessa Anggono from Saint Mary Church of Cadogan Street in the Archdiocese of Westminster, London, United Kingdon. 1 Samuel 8: 4-7.10-22a; Rs psalm 89: 16-17.18-19; Mark 2: 1-12.WE FIGHT AGAINST BADPREJUDICES Our meditation today isetitled: We Fight Against Bad Prejudices. While visiting a remote village forresearch, a renowned young professor fell in love with a young woman in thatvillage. Many of his friends, family members, and fellow villagers harbornegative feelings toward him, believing him to be mentally ill. All badprejudices came to destroy his good name and reputation. Bad prejudice towardsothers is usually caused by two main factors, namely lack of knowledge orunderstanding and negative thoughts. When these two come together andpresuppose each other, a person does not just prejudice, but he or she alreadyhas an attitude aimed to do evil and violence. War and fighting between humansare often caused by prejudices like this one. The prophet Samuel,as told in the first reading, was dealing with Israelites who were stilllacking knowledge of God's will and the fate of those who had wanted so long tohave a king for them. They thought that God was not their real leader. Samuelworked hard to give them sufficient knowledge and understanding they needed.Jesus Christ also faced very bad prejudices from his opponents. The violent reactionof the Pharisees and scribes toward Jesus far exceeded the one of the ancientIsraelites during Samuel's day. Jesus faced a huge wave of prejudices from hisopponents that united in negative feelings and distorting knowledge about thetruth of God. They were famaus and smart people, but their knowledge was reallywrong and dangerous. Thus, they became so evil and cruel towards Jesus and thewill of God the Father. In our daily lives,especially in relationships with others, we may often prejudice against others,because we lack understanding or consideration and have negative thoughts orfeelings. Negative thoughts or feelings are like dealing with the differencesbetween us in a given context of life with a consideration that being diferenceamong us is not good or improper. To fight these prejudices, the Lord Jesusteaches us an attitude that truly originates from himself. Jesus teaches us notto hesitate to uproot the root of the problem, namely sin. A sinful person usesbad prejudices towards others without feeling sorry and merciful. So badprejudices must be eliminated by broadening knowledge or understanding andbuilding positive thinking in every one of us. Let us do it right now!Let's pray. In the name of the Father... O Lord, the almighty God, may we will not give up to challenges orobstacles that interfere with our faith and fidelity to You. Hail Mary, full ofgrace ... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Petrus Daryono dan Maria Klara dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 8: 4-7.10-22a; Mazmur tg 89: 16-17.18-19; Markus 2: 1-12.MELAWANPRASANGKA BURUK Renungan kita pada hari ini bertema: Melawan PrasangkaBuruk. Pada waktu berkunjung ke sebuah kampung terpencil untuk melakukan riset,seorang profesor muda yang amat terkenal jatuh cinta kepada seorang wanita mudadi kampung itu. Banyak teman, anggota keluarga, dan orang-orang kampung menaruhprasangka buruk kepadanya. Mereka beranggapan bahwa ia telah mengalami gangguanjiwa. Prasangka buruk terhadap orang lain biasanya disebabkanoleh dua faktor utama, yaitu kurangnya pengetahuan atau pemahaman dan pikirannegatif. Ketika kedua penyebab ini menyatu dan saling mengandaikan satu samalain, seseorang tidak sekedar berprasangka buruk, tetapi ia sudah memilikisikap nekat berbuat jahat dan brutal. Perkelahian dan perang antara sesamamanusia sering disebabkan oleh prasangka buruk seperti ini. Nabi Samuel, seperti yang diwartakan di dalam bacaanpertama, sedang berhadapan dengan umat Israel yang masih kurang pengetahuantentang kehendak Tuhan dan nasib mereka yang sudah lama ingin memiliki seorangraja. Mereka menyangka bahwa Tuhan bukan pemimpin mereka sesungguhnya. Samuelbekerja untuk memberikan mereka pemahaman yang mereka perlukan. Yesus Kristusjuga menghadapi prasangka sangat buruk dari para lawannya. Sikap kaum Farisi dan para ahli Taurat kepada Yesus jauhmelebihi sikap orang Israel dahulu pada zaman Samuel. Yesus menghadapi sebuahgelombang prasangka buruk yang sangat besar, karena para lawannya itumenyatukan sikap negatif dan pemutarbalikan pengetahuan tentang kebenaran dariTuhan. Mereka adalah orang-orang cerdik dan pandai, tetapi pengetahuannyasungguh-sungguh salah dan amat berbahaya. Akibatnya, mereka menjadi jahat danbrutal terhadap Yesus dan kehendak Tuhan Allah sendiri. Di dalam hidup kita sehari-sehari, khususnya di dalampergaulan dengan sesama, kita mungkin saja sering berprasangka buruk terhadaporang lain, yang disebabkan oleh kurang pengertian atau pemahaman dan pikiranatau perasaan negatif. Pikiran atau perasaan negatif itu seperti menyikapiperbedaan-perbedaan di antara kita dengan anggapan kurang baik atau tidakcocok. Untuk melawan prasangka-prasangka buruk tersebut, Tuhan Yesusmengajarkan kita satu sikap yang sesungguhnya berasal dari dirinya sendiri. Yesus mengajarkan kita untuk mencabut langsung ke akarpermasalahan, yaitu dosa. Jadi prasangka buruk memang harus dicabut, dengancara memperluas wawasan atau pemahaman dan membangun kebiasaan berpikirpositif. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha murah,semoga kami tidak goyah karena tantangan atau halangan yang mengganggu iman dankesetiaan kami kepada-Mu. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...


![[ENG] Meditation Friday of the 4th Week of Lent, March 27, 2020 [ENG] Meditation Friday of the 4th Week of Lent, March 27, 2020](https://s3.castbox.fm/44/ff/ed/19d3aa8fd1f7ae4960be1f7c53058663bf_scaled_v1_400.jpg)


