Discover
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
3951 Episodes
Reverse
THE LORD'S TIME
The theme of our meditation today is: The Lord's Time. Soon we will celebrate the holy week. It's about one week from now. The passion and death of Jesus Christ is the ultimate experience of His suffering. In anticipating this great celebration, we encounter the days that precede, including today, filled with various difficulties befalling on Jesus. The threats were truly real, direct, and certain for Him. He was on the verge of persecution.
Long before the real experience of Jesus Christ, the book of Wisdom already decescribed such persecution which was eventually realized in Jesus Christ. He said: Come, we try him with persecution and torture, so that we know the gentleness and patience of his heart. Let us condemn him to death, because according to him he must have received help (Wis 2, 19-20). The Gospel of John that we have just heard reaffirms the described persecution by saying: The Pharisees tried to arrest Jesus but no one touched Him, because His time had not yet come (Jn 7.30).
His time had not yet come because it should had depended entirely on the Father's Will. Holy Thursday night and Good Friday had not yet arrived. All of us and everyone are subject to this particular time limit. All of us must respect the important aspects to be happened in this time of the Lord Jesus Christ. Although the waves of anger, jealousy, hatred, and violence from His opponents seemed unchallenged, they were obliged to restrain. Even though man's will is very strong, God has the power to determine the time for His Will to happen.
What does it mean the imminent persecution of Jesus Christ? First we interpret it with our response "Amen". We accept this reality and believe it as a way of fulfilling the Father's will on the part of Jesus, and as the content of our faith. In the prayer of "I Believe" we express our faith by saying: He who suffered under the Pontius Pilate, was crucified, died, and was buried. We agree and accept this evil treatment towards Jesus which means we also accept the Lord's teaching and invitation to follow Him in every moment of suffering that we face in our lives.
We also interpret it as our act of faith, which means without fear and doubt we continue to maintain the truth and wisdom in our faith responsibility to take part in God's work. Usually the temptation for those who are in a situation of suffering and persecution is fear and eventually surrender to the influence of the tempter. This is what an authentic follower of Christ should not do. In an imminent trial or persecution we do have courage to cry out: our courage and willingness to face is only for the sake of our participation in the way of our Lord Jesus Christ.
Let's pray. In the name of the Father ... O merciful Father in heaven, strengthen us always especially when we are in the midst of suffering and persecution, so that we remain always in Your way. Our Father who art in heaven... In the name of the Father ...
Reading and meditation on the Word of God, Thursday of the 4th Week of Lent, March 26, 2020
WORKS TESTIFY ABOUT US
Our meditation today has the theme: Works Testify About Us. Jesus Christ again gave a strong response to the protests and accusations of His opponents, the Pharisees and the scribes. A big and strong opposition to Jesus seemed increasingly dangerous. This is a form of anticipation for the peak experience of suffering that will come soon, namely Jesus's severe punishment and His death on the cross that we celebrate on the Good Friday.
Today's gospel shows the rejection that Jesus had to face. His enemies did not accept that He truly came from God. They strongly did not acknowledge and accept that Jesus was sent by the Father in heaven. But Jesus emphasized that the proof of God's power truly exists in Him through the works He did. His works were well known: healing of the sick, bringing the dead into life, feeding the hungry and thirsty, driving out the evil spirits, and comforting the sorrowfull ones. All of these are facts of God's work that simply cannot be denied.
Jesus challenged His enemies to open their views and understandings, and not just follow a narrow-minded perception. If they rejected Himself simply as a human person, they must at least be objective to acknowledge His works. These works testified who trully Himself is and at the same time recognizing the Father who is the source of works. If they could accept and acknowledge His works and their results as well, they implicitly would accept and recognize who was behind those works. It turned out that both Jesus as the person and His works were not accepted and acknowledged. So their sins were truly grave.
This analogy can help us to ponder about the works that testify us as the ones who are the subject of those works. For example, the lifestyle of some people shows that they really hate simple and hard-working people like farmers, fishermen, or shepherds. Yet every day the haters and their families eat rice, vegetables, fish, and meat which are actually the fruits of the work of the people they hate. So they actually deny themselves and those who are helping out them in many ways for their sustenance in life.
Whatever work and its result really represent who we really are. Our self-reflection whether we are generous or not, we are humble or not, we have faith or not, appears to be seen in public through our works and their results. Work and its result speak about the one who does the work. Everyone show all of these, so that people around him may also experience his work and the fruits of his work. And the basic requirement we need to follow is that we need to accept and acknowledge each other through the works we do and the results of these works.
Let's pray. In the name of the Father ... Almighty and everliving God, thank you for your blessings we receive today that allow us to work according to our respective vocations and professions. Bless also the the fruits of our works. Glory to the Father ... In the name of the Father ...
SAATNYA TUHAN
Tema renungan kita pada hari ini ialah: Saatnya Tuhan. Tidak lama lagi, sekitar satu minggu ke depan, kita akan merayakan pekan suci. Peristiwa sengsara dan wafatnya Yesus Kristus merupakan pengalaman puncak penderitaan-Nya. Antisipasi perayaan besar ini kita jumpai pada hari-hari menjelangnya, termasuk pada hari ini. Bentuk antisipasi itu ialah aneka kesulitan sebagai perlawanan terhadap Yesus. Ancaman terhadap diri-Nya benar-benar nyata, langsung, dan pasti. Ia berada di ambang penganiayaan.
Jauh sebelum pengalaman nyata Yesus Kristus itu, kitab Kebijaksanaan telah menggambarkan penganiayaan ini. Katanya: Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan (Keb 2, 19-20). Injil Yohanes yang baru saja kita dengar memperkuat gambaran saat penganiayaan itu dengan menyebut: orang-orang Farisi berusaha menangkap Yesus tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba (Yoh 7,30).
Saat-Nya yang belum tiba bergantung sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah. Hari Kamis malam dan Jumat Agung belum tiba. Kita semua dan setiap orang tunduk pada ketentuan waktu yang belum tiba ini. Semuanya harus menghormati aspek penting seperti apa berada dalam saatnya Tuhan Yesus Kristus. Meski gelombang amarah, iri hati, benci, dan kekerasan tampaknya tak terbendung, mereka wajib menahan dirinya saja. Biarpun gelombang itu amat kuat, Tuhan belum mengizinkan saatnya tiba.
Seperti apa kita memaknai berada di ambang penganiayaan Yesus Kristus? Pertama-tama kita memaknainya dengan seruan “Amin”. Kita menerima kenyataan ini dan mengimaninya sebagai bentuk pemenuhan kehendak Bapa dari pihak Yesus, dan sebagai isi iman kita. Di dalam doa “Aku Percaya” kita ungkapkan iman kita dengan menyebutkan: Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan. Mengamini ini berarti juga kita menyanggupi ajaran dan undangan Tuhan untuk mengikuti Dia dalam setiap saat penderitaan yang kita hadapi di dalam hidup kita.
Kita memaknai ini juga dengan tak gentar supaya kita tetap mempertahankan kebenaran dan kebaikan sebagai tanda kita mengambil bagian di dalam Tuhan. Biasanya godaan bagi mereka yang berada dalam situasi ambang derita dan penganiayaan ialah takut atau menyerah dan tunduk kepada pihak penganiaya. Ini yang tidak boleh dilakukan oleh pengikut Kristus yang autentik. Di ambang tersebut kita berani berseru: kerelaan ini adalah demi Tuhan Yesus Kristus.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa di surga, kuatkanlah kami selalu khususnya ketika kami berada di tengah penderitaan dan penganiayaan, supaya kami tetap berpihak kepada-Mu saja. Bapa kami... Dalam nama Bapa...
PEKERJAAN MEMBERIKAN KESAKSIAN
Renungan kita pada hari ini bertema: Pekerjaan Memberikan Kesaksian. Yesus Kristus kembali lagi memberikan tanggapan tegas atas protes dan tuduhan para lawan-Nya yaitu kaum Farisi dan ahli Taurat. Perlawanan keras terhadap Yesus tampak semakin bertubi-tubi. Ini sebagai bentuk antisipasi pengalaman puncak penderitaan saat hukuman mati dan wafat di salib pada hari Jumat Agung.
Injil hari ini menampilkan penolakan terhadap Yesus bahwa Ia sungguh berasal dari Allah. Mereka dengan keras tidak mengakui dan menerima kalau Yesus diutus oleh Bapa di surga. Maka Ia menegaskan bahwa bukti kekuasaan Allah sungguh ada di dalam diri-Nya dalam bentuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya. Penyembuhan orang sakit, bangkitnya orang mati, makanan bagi yang lapar dan haus, pengusiran roh-roh jahat, dan penghiburan bagi orang-orang sedih. Semua itu adalah fakta pekerjaan Allah yang tak dapat dibohongi.
Yesus meminta supaya mereka tidak menyempitkan pandangan dan pemahamannya. Jika mereka menolak diri-Nya, paling kurang mereka harus objektif untuk mengakui pekerjaan-pekerjaan-Nya itu. Semua pekerjaan itu memberi kesaksian tersendiri tentang diri-Nya dan tentang Bapa yang berkuasa menyelenggarakan semuanya. Jika paling kurang mereka dapat menerima dan mengakui pekerjaan atau hasil pekerjaan, sudah implisit mereka menerima dan mengakui siapa yang berada di balik pekerjaan dan hasil kerjanya. Ternyata baik pribadi Yesus maupun pekerjaan-pekerjaan-Nya tidak diterima dan diakui, jadi dosa mereka memang sungguh besar.
Analogi ini mungkin bisa membantu kita merenungkan tentang pekerjaan yang memberikan kesaksian diri seseorang. Misalnya gaya hidup sebagian orang menunjukkan kalau mereka sangat membenci orang-orang sederhana dan pekerja keras seperti para petani, nelayan, atau peternak. Padahal setiap hari para pembenci itu dan keluarganya makan nasi, sayur, ikan, dan daging yang sesungguhnya merupakan buah dari pekerjaan orang-orang yang dibencinya. Jadi ini berarti suatu penyangkalan atas diri mereka sendiri dan atas orang lain yang ikut membantu kelangsungan hidup mereka.
Pekerjaan apa pun dan hasilnya sungguh mewakili diri kita sesungguhnya. Refleksi diri kita apakah kita itu murah hati atau tidak, kita rendah hati atau tidak, kita beriman atau tidak, tampil sangat nyata melalui pekerjaan kita dan hasil-nya. Pekerjaan dan hasilnya berbicara sendiri tentang diri kita. Setiap orang menghadirkan semua itu untuk dialami dan dinikmati orang-orang di sekelilingnya, tapi syarat dasarnya ialah supaya kita saling menerima dan mengakui sesama kita melalui pekerjaan dan hasil kerjanya masing-masing.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang maha murah, terima kasih atas berkat-Mu sehingga kami dapat bekerja sesuai panggilan kami masing-masing dan hasilnya untuk hidup kami bersama. Kemuliaan... Dalam nama Bapa...
KABAR TERBESAR
Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kabar Terbesar. Sebelum virus Corona menyebar ke seluruh negeri Indonesia, berita-berita besar yang menyita perhatian masyarakat ialah seputar korupsi, politik dan ekonomi. Misalnya, rencana pembangunan Ibukota RI yang baru dan bakal calon pemimpin ibukota itu menjadi kabar terbesar bagi Indonesia. Namun dalam hampir satu bulan terakhir, semua itu diganti oleh wabah virus Corona yang mencekam dan mematikan. Setiap hari berita tentang virus ini menghiasi semua kesempatan komunikasi di antara kita. Virus Corona adalah kabar terbesar dunia saat ini.
Di dalam urusan rohani dan iman, berita terbesar bagi kita ialah kabar suka cita yang disampaikan oleh utusan surga, Malaikat Gabriel, kepada seorang perawan di Nazaret di Galilea (daerah Israel) yang bernama Maria. Kabar ini disebut sebagai berita terbesar karena mempunyai beberapa alasan penting ini: 1) Gabriel sebagai salah satu malaikat agung yang menyampaikannya; 2) kabar itu mengakhiri semua bentuk janji yang telah dibuat Tuhan dengan manusia sejak zaman Abraham; 3) isi kabarnya ialah akan hadir Putera Allah yang menjelma menjadi manusia dengan nama Yesus Kristus; dan 4) kabar itu menandakan tema besar dalam sejarah keselamatan yang disebut inkarnasi.
Di dalam kitab nabi Yesaya, kabar terbesar itu sudah diantisipasi dengan janji yang menggambarkan begitu persis tentang seorang perawan yang akan melahirkan seorang utusan Allah. Putera yang dilahirkan itu akan diberikan nama Emanuel, yang berarti Allah beserta kita. Janji ini menjadi nyata dengan peristiwa perawan Maria yang menerima kabar dari surga melalui Malaikat Gabriel. Tanggapan Maria atas kabar terbesar itu: Aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu, merupakan sebuah tanggapan terbesar, yang menjadi standar tanggapan iman semua pengikut Kristus. Kita semua sebagai anak-anak Bunda Maria menjadikan tanggapan iman ini sebagai kesanggupan kita untuk melakukan kehendak Allah sepanjang hidup kita.
Perayaan kabar suka cita hari ini membuat kita percaya bahwa berita terbesar di dalam hidup kita sehari-hari ialah tentang kedatangan atau kehadiran dan kebenaran. Berita yang ada di sekitar kita baik lisan, tulisan, maupun online tentang kehadiran, keberadaan, dan kedatangan diri kita sendiri atau sesama harus lebih diutamakan daripada berita tentang ketidak-adaan. Berita tentang kebenaran yang berisi kebaikan, keadilan, kedamaian, suka cita, dan keselamatan harus lebih diperbesar dan disebarkan, daripada tentang kebohongan, kekerasan, kehilangan, permusuhan, perang, dan terorisme. Berita terbesar bagi kita ialah tentang kebaikan dan kebenaran, bukan sebaliknya.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan maha besar, penuhilah diri kami dengan kabar suka cita tentang kebenaran-Mu. Semoga Roh-Mu membantu kami untuk melawan semua berita palsu dan bohong. Salam Maria... Dalam nama Bapa...
AIR KESELAMATAN
Renungan kita pada hari ini bertema: Air Keselamatan. Banyak sekali manfaat air bagi kita manusia dan dunia. Dari semua kemanfaatannya itu, yang disebutkan dengan istilah “air keselamatan” merupakan suatu ungkapan yang abstrak. Sebutan “air suci”, atau “air bersih”, atau “air mineral” merupakan ungkapan konkret dan langsung kita pahami. Misalnya “air baptis”, wujud air adalah tanda yang dipakai untuk menandakan Yesus yang menggunakan air untuk membaptis.
Jadi istilah “air keselamatan” tetap berwujud sebagai air secara fisik yang menjadi tanda bagi Tuhan untuk melakukan tindakan keselamatan atas manusia yang ditolong-Nya. Kitab suci menyajikan banyak peristiwa keselamatan atau pembebasan melalui air, misalnya penyeberangan laut merah oleh orang Israel ketika melepaskan diri mereka dari perbudakan Mesir. Kedua bacaan pada hari ini juga menggambarkan air sebagai sarana keselamatan.
Nabi Yehezkiel berkisah tentang penglihatan akan air yang mengalir di dalam bait suci. Ke mana saja ia mengalir, semua yang terkena alirannya dan daerah sentuhannya menjadi hidup. Ini menyiratkan bahwa ketika tidak ada atau belum tersentuh air, kehidupan yang ada di sana mengalami kesulitan atau bahkan kematian. Di kolam Betesda, airnya sangat instrumental untuk kesembuhan orang-orang sakit. Mereka bergegas mendekat dan disentuh air ketika ia mulai guncang, mereka akan sembuh. Dari kedua gambaran peristiwa ini kita melihat bahwa air sebagai instrumen adalah sebuah tanda fisik yang nyata. Kuasa Allah untuk menyembuhkan dan menyelamatkan tampaknya tersembunyi.
Namun di kolam Betesda, misteri yang tersembunyi itu membuka dirinya. Orang sakit yang sudah menderita selama tiga puluh delapan tahun itu disentuh langsung oleh Tuhan yang sebenarnya hadir dan berkuasa di balik air tersebut. Ia sembuh seketika. Air keselamatan yang ditampilkan oleh kedua bacaan hari ini mengajarkan kita betapa pentingnya aspek tanda fisik dan maknanya air bagi kita. Untuk kelangsungan hidup kita di dunia ini, wujud fisik air jelas sangatlah penting. Tak ada air kita bakal mati seperti lahan tandus dan kering. Makna di balik kenyataan fisik ini ialah keseimbangan alam yang teratur sudah disediakan oleh Tuhan untuk kebaikan dan keselamatan umat manusia.
Air dalam sakramen baptis dan sebagai unsur sakramental dalam kebiasaan penghayatan iman Gereja, terlihat fisiknya sebagai air bersih dan sehat yang dikhususkan untuk pelayanan rohani di dalam Gereja. Makna di balik air pilihan ini ialah Tuhan sendiri yang bekerja melalui pelayan-pelayan-Nya untuk menyelamatkan, menyembuhkan, dan menguduskan umat-Nya.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan maha murah, jadikanlah kami seperti air yang memberikan kesejukan, ketenangan, dan kesembuhan bagi diri kami sendiri yang memerlukan kesembuhan jasmani-rohani, dan bagi sesama kami yang saat ini sedang menderita sakit. Bapa kami... Dalam nama Bapa...
Delivered by Samuel Ivan Gunarsa from the Parish of Mary of All Nations in the Diocese of Bogor, Indonesia. Deuteronomy 30: 15-20; Rs psalm 1: 1-2.3.4.6; Luke 9: 22-25.CHOOSE BLESSINGS Our meditation today isentitled: Choose Blessings. After Ash Wednesday, the liturgy of the day thatfollows invites us to ponder on God's blessings. The Lenten observance is avery special opportunity in the discipline of faith with the demands forstronger effort and quality being trully Jesus' followers when compared withother liturgical seasons. Then the blessing of God is very necessary for therealization of this process of discipline as God pleases His blessings forevery believer who expects salvation. By choosingblessings, what do we not choose? Or if God gives us His blessings, what doesGod not give? The book of Deuteronomy in the first reading confirms that cursesand sufferings for the sins committed are not our choices. In reality, somepeople choose curses or miseries because they are guided by their freedom ofwill. God created this life from the beginning has been good. However, due tothe fall of human nature, the presence and power of truth must face the curseof sin. So people can choose to sin. Believers are guided to choose blessings. Choosing blessingsmeans choosing God. Whereas choosing curse means choosing God's enemy, Satan.In God there is life, love, and hope for an eternal life. Whereas the curse containsdeath, hatred, and eternal punishment. Jesus Christ was sent by the Father intothe world to establish a kingdom of life to rule and bring everyone toblessings. His teachings and example of life are the lamps and springs of waterthat guarantee the continuity of this blessing in the form of graces bestowedon every one who needs it. Today Jesus Christpresents content of our choice to follow Him which is all His blessings flowfrom Him. In this Lent, we receive blessings through prayer, fasting, andcharity. All these three actions must be carried out in the spirit of the crosswe put on our shoulders and perseverance in self-denial. The cross always meanssacrifice and becomes burden that must be borne. We pray, fast or sacrifice,and do charity with certain quantity and quality that makes us able to bear theweight of the cross like Jesus did. These three righteous deeds must also leadus to focus on uniting our hearts with God, and not on ourselves and allinterests of the world. From there blessings will flow to us.Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus Christ, may Your word strengthen our intention to carry thecross and deny ourselves in order to diligently follow You. Bless us so thatall the way following You we find our true self. Hail Mary, full of grace ...In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Sr Kresen MCFSM dan Sr Krista MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Fransiskus Catholic Center di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Ulangan 30: 15-20; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 9: 22-25.MEMILIH BERKAT Tema renungan kita pada hari ini ialah: Memilih Berkat.Setelah Rabu Abu, liturgi hari pertama yang menyusulnya mengajak kita untukmerenungkan tentang berkat Allah. Masa Pra Paskah sangat spesial mengenaidisiplin beriman dengan tuntutan volume dan kualitas yang lebih kuat kalaudibandingkan dengan masa-masa liturgi lainnya. Maka berkat Tuhan sangat kitaperlukan demi terwujudnya proses pendisiplinan ini hanya karena Tuhan berkenandengan berkat-Nya bagi setiap orang yang mengharapkan keselamatan dirinya. Dengan memilih berkat, lalu apakah yang tidak kita pilih?Atau jika Tuhan memberikan kita berkat-Nya, hal apakah yang tidak Tuhanberikan? Kitab Ulangan dalam bacaan pertama menegaskan kalau kutuk danpenyiksaan dosa bukan pilihan kita. Dalam kenyataan, ada orang memilih kutukatau sengsara karena dituntun oleh kebebasan kodratinya. Tuhan menyelenggarakanhidup ini pada awal adalah baik. Namun karena kejatuhan kodrati manusia, makakehadiran kebaikan itu harus berhadapan dengan kutukan dosa. Jadi orang bisamemilih untuk berdosa. Orang beriman dinasihatkan untuk memilih berkat. Memilih berkat berarti memilih Tuhan. Sedangkan memilihkutuk berarti memilih musuh Tuhan, yaitu setan. Yang ada pada Tuhan ialahkehidupan, cinta, dan pengharapan akan suatu keberlangsungan yang abadi.Sedangkan yang ada pada kutuk ialah kematian, kebencian, dan kesengsaraanabadi. Yesus Kristus diutus oleh Bapa ke dunia untuk mendirikan sebuah kerajaankehidupan supaya memerintah dan membawa semua orang kepada berkat. Ajaran danteladan hidup-Nya menjadi pelita dan sumber air yang menjamin keberlangsunganberkat ini dalam bentuk rahmat karunia yang dicurahkan kepada setiap orang yangmemerlukan. Hari ini Yesus Kristus memaparkan isi pilihan kita untukmengikuti Dia supaya daripada-Nya mengalir semua berkat yang kita perlukan. Didalam masa Pra Paskah berkat-berkat kita dapatkan melalui berdoa, berpuasa, danberamal kasih. Ketiga perbuatan ini mesti dapat dijalankan dalam semangat salibyang kita pikul dan ketekunan dalam penyangkalan diri. Salib selalu bermaknapengorbanan dan menghadirkan beban yang harus ditanggung. Kita berdoa, berpuasaatau bermati raga, dan beramal kasih dengan sebuah volume jumlah dan kualitassedemikian yang membuat kita menanggung beratnya seperti yang Yesus lakukan.Ketiga perbuatan saleh itu mesti juga membawa kita untuk fokus kepada penyatuanhati kita dengan Tuhan, dan bukan kepada diri sendiri dan semua kepentingan duniawi.Dari sana berkat-berkat akan mengalir kepada kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, firman-Mu menguatkan niat kami untuk memanggul salib dan menyangkaldiri kami untuk dengan tekun mengikuti-Mu. Berkatilah kami supaya sepanjangjalan mengikuti-Mu kami menemukan diri kami yang sebenarnya. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...
Delivered by Kezia from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Joel 2: 12-18; Rs psalm 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; 2 Corinthians 5: 20 - 6: 2; Matthew 6: 1-6.16-18.STANDARD OF SPIRITUAL LIFE Our meditation on the Ash Wednesday is entitled:Standard of Spiritual Life. There are a lot of lifestyle changes in ourfamilies due to technological and communication advancements. Stephen andMelania's family, along with their three children, who live in different placesdue to different works, maintain communication among them through the familywhatsapp group. Stephen once shared to his friends, saying that his family'sspiritual life has a true Christian standard, especially the regular time ofprayer together in the family. They use this media to pray together. Judaism tradition and religion inherit a standard of spirituallife that later Jesus Christ taught us as well. This spirituality standard includesthree basic acts, namely fasting, praying, and doing charity. The Jews obligethis on every one in their religion. If all three were done in an orderly andgood manner, a person is said as a good believer and blessed by God. Jesus alsotaught His disciples to do same. They were obliged to pray, fast and docharity. However, there is a distinctive element that definesthe different character between the spirituality model taught by Jesus and theone practiced by the Jews, especially according to the religious leaders andPharisees. The difference is related to motivation or intention. For Jesus and allof us who follow Him, the motivation for praying, fasting, and doing charity isto make a close and intimate relationship with God. It is truly a spiritualaffair, a matter of the heart, and an activity of faith in God. The book of theprophet Joel in the first reading emphasizes a renewal of the heart, and notoutward affairs such as torn clothes and other external attributes inherent inour bodies and environment. This confirms that the Jewish spiritual life is verycontrary to what Jesus taught. Their spirituality is not for God but to earnthe praise of others that they are holy and good. They have already earnedtheir reward by what they did in front of people, while God has not given them dueblessings. Jesus makes it clear that we should not follow such externalstandard. Our standard is in the heart that has a direct relationship with God.Whenever these three acts of righteousness are done properly, it is when oneexperiences the act of salvation from God, says Saint Paul in today's secondreading. This is the spirit of Ash Wednesday that we allcelebrate on this day to begin our Lenten season. Let us pray. In the name of the Father... O Lord God, maythis Ash Wednesday celebration grant us new spirit to begin the journey of our spiritual renewal in this Lent period. OurFather who art in heaven... In the name of the Father...
Dibawakan oleh Sr Yolastri MCFSM dan Sr Francesca MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Yosef Ampa di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Yoel 2: 12-18; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; 2 Korintus 5: 20 - 6: 2; Matius 6: 1-6.16-18.KEHIDUPAN ROHANI STANDAR Renungan kita pada hari Rabu Abu ini bertema: KehidupanRohani Standar. Ada banyak sekali perubahan gaya hidup dalam keluarga-keluargakita sebagai bagian darikemajuan teknologi dan komunikasi. Keluarga Stevanus dan Melania bersama tiga anak mereka yang sudah bekerja di tempat-tempat yangberbeda, memaksimalkan komunikasi di antara mereka melalui media wa groupkeluarga. Didalam sebuah pesan wa yang dibagikan ke teman-temannya, Stevanus berkata bahwakehidupan rohani keluarganya mempunyai standar Kristiani yang sesungguhnya, khususnya saat-saat rutin untuk berdoabersama dalam keluarga, informasidiberitahukan melalui wa group keluarga itu. Tradisi dan agama Yahudi mewariskan suatu kehidupan rohanistandar yang kemudian Yesus juga mengajarkan itu kepada kita. Kerohanianstandar itu mencakup tiga perbuatan dasar yang diwajibkan, yaitu berpuasa,berdoa, dan beramal kasih. Orang Yahudi mewajibkan ini kepada setiap umatnya.Jika ketiganya dilakukan dengan teratur dan baik, seseorang dipandang beragamadengan baik dan diberkati Allah. Yesus juga membuat tiga unsur ini menjadi kekhasan para pengikut-Nya. Merekawajib berdoa, berpuasa dan berbuat kasih. Namun ada perbedaan mencolok antara kerohanian standaryang diajarkan oleh Yesus dan yang dijalankan oleh orang-orang Yahudi, terutamamenurut para pemuka agama dan kaum Farisi. Perbedaannya ialah terkait denganmotivasi atau maksud. Bagi Yesus dan yang selalu Ia tegaskan kepada kita,motivasi berdoa, berpuasa atau bermati raga, dan beramal kasih ialah untukmenjalin relasi dengan Allah. Ini benar-benar sebuah urusan rohani, urusanhati, dan kegiatan iman kepada Tuhan. Kitab nabi Yoel dalam bacaan pertama menekankansebuah pembaharuan hati, dan bukan urusan luar seperti pakaian yang dikoyakkandan aneka atribut luar lainnya yang melekat pada tubuh dan lingkungan hidupkita. Hal ini menegaskan kalau hidup rohani Yahudi sangatbertentangan dengan yang diajarkan oleh Yesus. Kerohanian mereka bukan untukTuhan tetapi untuk mendapatkan pujian orang-orang lain bahwa mereka orang sucidan baik. Upahnya sudah mereka dapatkan dengan penampilan itu, sementara Tuhantidak memberikan berkat-Nya kepada mereka. Yesus menegaskan supaya kita tidakmengikuti standar luar seperti itu. Standar kita ialah di dalam hati yanglangsung mempunyai relasi dengan Tuhan. Setiap kali melakukan ketiga kesalehanini dengan benar, itu adalah saat seseorang mengalami tanda keselamatan dariTuhan, demikian kata Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini. Ini adalah semangat Rabu Abu yang kita semua rayakan padahari ini untuk mengawali masa Pra Paskah kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Allah,semoga dengan hari Rabu Abu ini kami dipenuhi semangat baru untuk memulaiproses pembaharuan diri di dalam masa Pra Paskah ini. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa...
Delivered by Evelyn from the Parish of Holy Spirit in the Archdiocese of Singapore. James 1: 12-18; Rs psalm 94: 12-13a.14-15.18-19; Mark 8: 14-21.STRONG IN FACINGTRIALS The title for our meditation today is: Strong inFacing Trials. In the New Testament of the holy scriptures, Jesus Christteaches us to be strong in facing trials. The experience of facing a trial or testcan be seen similar to a judgement, which means to test someone whether he isable to pass the trial or not. For example, in the Gospel of Matthew 26:41,which is the same as Mark 14:38 and Luke 22:40, Jesus reminds us to always bestrong in prayer and vigilant against the danger of falling into temptation.Our flesh or body is weak, so it is easy to become target and tempted byenemies. God Himself also reminded His people in the OldTestament to be strong against the temptations, trials and evil forces in life.When Moses faced Pharaoh in Egypt, he was truly in a severe trial. But he wasalso obedient to God's guidance and commands. By adhering to this principlethat God teaches and strengthens us, it is clear a mere game or joke to assume that God alsotempts us. There is a presumption or preception among us that God disturbs andtempts us. This is just taken for granted as a kind of temptation that we humannormally face. But this is obviously impossible. How does the Lord strengthenus, however, He also tempts what He Himself ordains, strengthens and protects? Therefore Saint James in the first reading affirmsthat it is impossible for God to tempt us his beloved children. God does nothave a system of operation like any other human and spirit beings who have evildesire to try, to tempt, or to deceive others. The prince of tempters and evilspirits is the devil. This satanic power prioritizes his work on human behaviorthat is against God's way. Naturally humans have freedom, therefore, anybodycan choose to follow the influence of Satan. So man is tried and tempted by hisor her own desire that has been controlled by the evil one. When do we know that we meet a trial or temptation?The accounts in today's Gospel describe a common situation when someone fecestrials. When our minds and hearts begin to understand and consider that God isfar away or not with us. When we worry or presume that our fate will be indifficulty because there are so many challenges, difficulties, and threatsaround us. Moreover, we are deeply haunted by our inability to deal with all thechallenges and problems. So, temptations will reach us when there is only alittle faith, when there is assumption that there are many threats around us,and the view that God is far away. Therefore, this is the advice for us: that wemust be strong!Let us pray. In the name of the Father... O Almighty God,fill us with a brave and strong spirit of faith to face all the trials and temptationsin this life. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... Inthe name of the Father ...
Dibawakan oleh Sr Modesta MCFSM dan Sr Yuliana MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Yosef Ampa di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Yakobus 1: 12-18; Mazmur tg 94: 12-13a.14-15.18-19; Markus 8: 14-21.KUAT MENGHADAPIUJIAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kuat MenghadapiUjian. Di dalam kitab suci perjanjian baru, Yesus Kristus mengajarkan kitauntuk kuat dalam menghadapi ujian. Pengalaman ujian sering disamakan dengancobaan, yang maksudnya ialah untuk mencobai seseorang apakah mampu melewaticobaan atau tidak. Misalnya di dalam Injil Matius 26: 41 yang sama denganMarkus 14: 38, dan Lukas 22: 40, Yesus mengingatkan supaya kita selalu kuatdalam doa dan berwaspada supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Daging atau tubuhkita lemah sehingga gampang menjadi jalan masuk bagi musuh yang mencobai. Tuhan sendiri juga mengingatkan umat-Nya di dalamperjanjian lama supaya mereka kuat terhadap godaan, cobaan dan ujian hidup.Ketika Musa berhadapan dengan Firaun di Mesir, ia benar-benar di dalam ujianberat. Tetapi ia juga patuh pada tuntunan dan perintah Tuhan. Dengan berpegangpada prinsip ini bahwa Tuhan mengajarkan dan menguatkan kita, jelas sebagaisebuah permainan atau lelucon kalau Tuhan juga yang mencobai kita. Ada anggapandan keyakinan di antara kita bahwa Tuhan mencobai dan menggodai kita sehinggaitu semua dianggap saja sebagai ujian dalam hidup. Ini jelas tidak mungkin.Bagaimana Ia menguatkan kita, Ia juga mencobai apa yang Ia sendiri tetapkan,kuatkan dan lindungi? Oleh karena itu Santo Yakobus dalam bacaan pertamamenegaskan bahwa tidak mungkin Tuhan mencobai kita anak-anak kekasihnya. Tuhantidak punya sistem bermain seperti siapa pun makhluk manusia dan makhluk rohlainnya yang punya keinginan untuk mencoba-cobai, menggoda-godai, ataumemperdaya-dayai pihak lain. Pemimpin penggoda dan penyoba ialah setan.Pengaruh setan ini memprioritaskan kerjanya pada tingkah laku manusia yangbertentangan dengan jalan Tuhan. Karena manusia punya kebebasan, ia bisa jugamemilih untuk condong pada pengaruh setan. Jadi manusia dicobai dan digodaioleh keinginannya sendiri yang sudah dikuasai oleh si jahat. Bilamana kita tahu bahwa kita berada di dalam cobaan?Peristiwa yang dikisahkan di dalam Injil hari ini menggambarkan suatu situasiumum orang-orang berada di dalam cobaan. Situasi itu ialah ketika pikiran danhati kita mulai mengerti dan menganggap bahwa Tuhan jauh atau tidak beradabersama kita. Kekawatiran atau keprihatinan bahwa nasib kita bakal di dalamkesulitan karena di sekeliling kita ada begitu banyak tantangan, kesulitan, danancaman. Bahkan kita sangat dihantui oleh ketidakmampuan kita untuk menghadapisemua itu. Rasa tak percaya pada diri, anggapan bahwa di sekeliling ada banyakancaman, dan pandangan bahwa Tuhan jauh, merupakan keadaan pencobaan yang kitahadapi di dalam hidup ini. Maka nasihatnya ialah: kita mesti kuat! Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa,penuhilah diri kami dengan semangat iman yang berani dan kuat untuk menghadapisegala cobaan dan ujian hidup ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ... Dalam nama Bapa ...
Delivered by Cendani from the Parish of Our Lady of the Assumption Mamajang in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. James 1: 1-11; Rs psalm 119: 67.68.71.72.75.76; Mark 8: 11-13.ENJOYING THETEST The title for our meditation today is: Enjoying theTest. In all aspects of our lives, the test takes place in a process to prove aresult in both quantity and quality. Whatever the form and character of thetest, the basic condition that we knowledge is that the person who takes thetest is being tried or tested for a standard of qualification. There is a common attitude or reaction seen in the onewho faces the test. This is about the state of the mind and body of the one whofaces the test, namely the negative or positive reaction. People can benervous, palpitating, scared, insecure, and complaining. People can also bebrave, concentrated, focused, confident, exited to face and finally pass thetest. The situation can be seen on their faces, but even more exciting is intheir souls. Both of these situations illustrate how one enjoys the test. People behave negatively when facing tests due tovarious reasons. The most common one is because the person concerned hasinsufficient knowledge or basically unprepared. Mental or emotionalunpreparedness usually causes the human body nervous, shaking, sweaty, andweak. In such circumstances, surrender perhaps becomes impossible when forinstance the person concerned does not refuse to face and proceed to take itwith the risk of an outcome below expectation. This proportionally contradicts with the positive andoptimistic behavior when someone facing tets, namely the person concerned isready in spirit and body. In fact, this readiness is expressed with anexcitement and longing to anticipate the test. This behavior can prove that theperson concerned is confident on the results to be achieved with satisfactionand meeting expectations. Hopefully this behavior also represents a mental characterin those who believe that good or bad results are not their concern, but anopportunity to learning and trainning to maturity. These two positive behaviors are shown by our tworeadings today. Saint James in the first reading advises that the tests in lifemust be faced and passed that we may be able to remain in perseverance in thepath to perfection. Jesus was constantly tested by the Pharisees and thescribes. But usually Jesus silenced them. He is God, so there is no need for atest. But what He considers to be a setback is that those who tested Him hadproved to gain nothing. It means that Jesus is always ready, whereas they werenot prepared to face test. So the basic law is certain: before the actual test,you must first start with many warm-up exams, namely preparations andanticipation in all ways and forms.Let us pray. In the name of the Father... O Lord JesusChrist, teach us to put the right and appropriate words and actions in everyopportunity we face the various tests of life. Hail Mary, full of grace... Inthe name of the Father ...
Dibawakan oleh Sr Skolastika MCFSM dan Sr Emiliana MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Palanga Sampit Palangkaraya di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Yakobus 1: 1-11; Mazmur tg 119: 67.68.71.72.75.76; Markus 8: 11-13.MENIKMATI UJIAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Menikmati Ujian.Di dalam semua aspek kehidupan kita, ujian terjadi dalam suatu proses untukmembuktikan sesuatu hasil baik untuk jumlah maupun kualitas. Apa pun bentuk dankarakternya ujian itu, aspek dasarnya ialah orang yang mengalaminya berada didalam situasi dicoba atau diuji kemampuannya. Sikap yang umum ialah keadaan jiwa dan raga orang yangmenghadapi ujian berada dalam suatu keadaan negatif atau positif. Orang bisagugup, berdebar, takut, kurang yakin, dan mengeluh. Orang bisa juga berani,konsentrasi, fokus, percaya diri, dan yakin untuk menghadapi lalu akhirnyamelewati ujian. Situasi bisa terlihat di wajah mereka, namun justru lebih seruialah di dalam jiwanya. Kedua situasi ini menggambarkan bagaimana seseorangmenikmati ujian itu. Orang bersikap negatif ketika menghadapi ujian disebabkanoleh aneka alasan. Yang paling umum ialah karena yang bersangkutan kurang atautidak siap. Ketidaksiapan mental dan semangat biasanya langsung membuat tubuhmenjadi gugup, gemetar, keringatan, dan lemah. Dalam keadaan seperti ini, sikapmenyerah bukan mustahil di mana yang bersangkutan bisa menolak untuk menghadapiatau menghadapi saja tetapi dengan risiko pada hasil di bawah harapan. Ini berbanding terbalik dengan sikap positif dan optimisdalam menghadapi ujian, yaitu orang yang siap jiwa dan raga. Bahkan kesiapanini diungkapkan dengan suatu kegirangan dan kerinduan untuk mengantisipasiujian. Sikap seperti ini bisa membuktikan bahwa yang bersangkutan yakin akanhasil yang bakal dicapai memuaskan dan memenuhi harapan. Atau sikap ini jugamerepresentasi sebuah sikap mental pada orang yang percaya bahwa hasil baikatau buruk bukanlah hal yang prioritas, tetapi ini menjadi kesempatan untuk menempah danmelatih diri. Dua sikap positif ini ditunjukkan oleh kedua bacaan kitahari ini. Santo Yakobus dalam bacaan pertama memberikan nasihat bahwa ujiandalam hidup memang mesti dilalui karena hasilnya adalah sebuah ketekunan yangmerupakan jalan menuju kesempurnaan. Yesus diuji terus menerus oleh kaum Farisidan para cendekia ahli Taurat. Tetapi biasanya Yesus membungkam mereka. Diaadalah Tuhan maka tak perlu ujian. Tetapi yang Ia anggap sebagai kemunduranialah mereka yang mengujinya tak mendapatkan keuntungan apa-apa. Itu berartibahwa Yesus yang siap, sedangkan mereka tidak siap dalam medan ujian. Jadihukumnya pasti: sebelum ujian utama, harus awali dulu dengan banyak ujianpemanasan alias persiapan-persiapan dan antisipasi dalam segala bentuknya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, ajarilah kami selalu dengan meletakkan kata-kata dan tindakan yangbenar dan tepat dalam setiap kesempatan kami hadapi ujian hidup ini. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
Delivered by Dwi Setyo, Svara Nirmala and Stella from the Parish of Our Lady of the Assumption Mamajang in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Sirach 15: 15-20; Rs psalm 119: 1-2.4-5.17-18.33-34; 1 Corinthians 2: 6-10; Matthew 5: 17-37.ACCEPTING THEPOSSIBLE MYSTERY OF GOD Our meditation today is entitled: Accepting theImpossible Mystery of God. A young man and his girlfriend have only been datingfor a month. Indeed, there are many similarities in both of them that make thisrelationship full of joy. But there are also many differences between them thatoften trigger debates, prejudices, negative thoughts and anger of the one to another.They must learn to accept all these as the reality in their dynamic and mutuallove as uniuqe individuals who has just began their journey together. On one occasion, both went to attend a friend'swedding. In the holy Matrimony Mass, the priest who preached in the homily saidthat the faith that Jesus sowed and planted in his followers is something superiorto all forms of human logic. Faith is not like science and technology, thatalways seek to provide evidence to be seen, found, used and changed. All ofthat have their limits and will be out of date in due time. But faith actually teaches us about the impossible.All the goodness and righteousness of God is possible for Him alone. For humansit is impossible. Both couples, the one who was in the joyful celebration ofmarriage and the one who was still in the beginning of love relationship, mustrealize that each person is unique, with different characters, backgrounds andcircumstances to make things become impossible. True love is naturally an impossiblelove. Our human reason, logic and feelings are very clearlyimpossible to have a sufficient understanding and perspectives on the many ofGod's advice, guidance and commandments. For example, we are asked to forgive withoutlimits, enter the narrow door in order to be saved, become salt to the world,give the left cheek a slap after the right one, love and pray for the enemies,leave everything in this world to follow Christ. All these become part of ourfaith. We understand and accept them in and with the faith that we profess. The main reason God puts the impossibility character inour faith is that our hope does not stop and we are always challenged to seekand find the answer on God’s mystery. The spirit of our faith is to attain andbecome like Jesus Christ. Jesus asks us to go further than this world'sstandards until we finally reach His standards. In essence, He is asking thatour faith and religious life go beyond the scribes and Pharisees, who hold thekeys to religious life and the teaching of the faith. Wisdom and mystery of God which is hidden and alwaysbeyond human understanding, however, we still accept and obey because of ourfaith. It is how we answer His call and the path we choose to achieveperfection. We are always advised by the scriptures to choose this path, andnot any other way of this world. Let us pray. In the name of the Father... O heavenly Father,may this Sunday celebration help us to be ever faithful to our vocation andbecome true witnesses of Christ in the midst of this world. Our Father who artin heaven... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Sr Ludgardis MCFSM, Sr Vinsensia MCFSM dan Sr Aurelia MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Sirakh 15: 15-20; Mazmur tg 119: 1-2.4-5.17-18.33-34; 1 Korintus 2: 6-10; Matius 5: 17-37.MENERIMA YANGMUNGKIN DARI MISTERI ALLAH Renungan kita pada hari ini bertema: Menerima Yang Mungkindari Misteri Allah. Sepasang orang muda baru sebulan ini berpacaran. Memangbanyak kesamaan di antara mereka yang membuat hubungan ini penuh dengan sukacita. Namun banyak juga perbedaan yang sering memicu perdebatan, prasangka,pikiran negatif dan saling marah. Mereka harus belajar untuk menerima semua inisebagai dinamika di dalam menjalin cinta sebagai pribadi-pribadi yang unik satusama lain. Mereka berdua sempat menghadiri acara pernikahan seorangteman mereka. Di dalam Misa pernikahan, Pastor yang berkotbah mengatakan, imanyang ditaburkan dan ditanam oleh Yesus ke dalam diri para pengikut-Nya ialahsesuatu yang mengalahkan semua bentuk logika yang ada. Iman bukan seperti ilmupengetahuan dan teknologi, yang selalu berusaha memberikan bukti untuk dilihat,dijumpai, dipakai dan diubah. Semua itu ada batasnya dan ada waktunya. Tetapi iman sesungguhnya mengajarkan kita tentang tidakmungkin. Semua kebaikan dan kebenaran dari Tuhan adalah mungkin bagi Dia.Tetapi bagi manusia adalah tidak mungkin. Kedua pasangan yang sedang dalamsuasana nikah, demikian juga pasangan yang sedang berpacaran, harus menyadaribahwa masing-masing pribadi unik, berbeda latar belakang dan keadaan, merupakansesuatu yang tidak mungkin. Cinta sejati adalah cinta tidak mungkin. Banyak nasihat, petunjuk dan perintah Tuhan, yang baginalar, logika dan perasaan kita sebagai manusia, sangat jelas tidak mungkin.Misalnya kita diminta untuk mengampuni tanpa batas, memasuki pintu yang sempituntuk bisa selamat, menggarami seluruh dunia, memberikan pipi kiri ditamparsetelah kanannya, mengasihi dan mendoakan musuh, meninggalkan segala-galanya didunia ini untuk mengikuti Kristus. Semua menjadi bagian dari iman kita. Alasan utama Tuhan menetapkan karakter iman kita sebagaisesuatu yang tidak mungkin, ialah supaya harapan kita tidak berhenti dan kitaselalu tertantang untuk mencapainya. Semangat iman kita ialah mencapai danmenjadi seperti Kristus. Yesus meminta kita untuk berbuat lebih jauh daristandar dunia ini, supaya kita mencapai standar-Nya. Intinya, Ia meminta supayaiman dan hidup agama kita harus melebihi para ahli Taurat dan kaum Farisi, yangmerupakan pemegang kunci hidup beragama dan pengajaran iman. Jadi, yang tidak mungkin itu adalah hikmat Allah, yangmeskipun tersembunyi dan selalu tidak kita pahami, kita tetap menerima danmenaatinya. Itu adalah cara kita menjawab panggilan-Nya dan jalan yang kitapilih untuk mencapai kesempurnaan. Kita selalu dinasihatkan oleh kitab suciuntuk memilih jalan ini, dan bukan jalan atau cara hidup yang lain. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa, semogadengan perayaan hari Minggu ini, kami tetapi setia dalam jalan panggilan kamidan menjadi saksi Kristus yang sesungguhnya di tengah dunia ini. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...
Delivered by Jeril from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Kings 12: 26-32; 13: 33-34; Rs psalm 106: 6-7a.19-20.21-22; Mark 8: 1-10.SPIRITUAL MEALTHAT UNITES The title for our meditation today is: Spiritual MealThat Unites. The unity within a family is especially seen when all the membersof the family come together to attend Holy Mass, and then continue with lunchtogether. This is somehow a routine activity. Such a fellowship is in sharpcontrast to the situation of God's people under the kings after Solomon'sdeath. Worst, King Jeroboam magnified his sin by going against the Spirit ofGod because he believed in the gods of Gentiles. The spiritual meal available to believers, followersof Christ, is the offering of Jesus himself as the main part of His work ofdoing the Father's will. In all of His ministerial work, He manifested His actof love in the presence of the apostles and many around Him. They were allamazed, proud, happy and believe in those loving actions of Jesus. But aboveall is the ultimate act, which is to die to redeem all mankind. He marked this highest act with an act of remembrancein the Church, in the form of a meal, to become the firsthand experience of Hispresence by all His people. This aims to strengthen and preserve communion thatHe has made. We all know this as the Eucharist. Before the institution of theEucharist, Jesus first brought His followers and many people to eat theeuchatistic bread, which is His own body, on the occasion of the multiplication of bread and fish tofeed thousands of people who were hungry and thirsty, after the whole dayfollowing and listening to Him. The feeding of these thousands was further emphasizedin the moments leading up to His moment of death, when He ate the last supperwith the apostles, and there He distributed bread and wine. His reminded thatthey should continue the event of celebrating this spiritual meal inremembrance of Him, as well as to be the spiritual empowerment for all who takepart in it. In this banquet, Jesus who broke his own body and shared to theapostles to consume, this act signifies the institution of the sacraments of Eucharistand Priesthood. So the unity that we preserve and strengthenconstantly both through prayer and tangible action depends heavily on these twobasic elements: the Eucharist and the Priesthood. The sacrament of theEucharist is a spiritual meal, while the priesthood is the privilege ofcarrying out and presiding over the memorable event to be celebrated when theLord himself presides and we take part in it.Let us pray. In the name of the Father... Lord Jesus Christ,may our unity in and with You be a very real force in this world to bring aboutthe kingdom of God that can renew the whole face of this earth. Hail Mary, fullof grace... In the name of the Father...
Dibawakan oleh Sr Sisilia MCFSM dan Sr Rini MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 12: 26-32; 13: 33-34; Mazmur tg 106: 6-7a.19-20.21-22; Markus 8: 1-10.SANTAPAN ROHANIYANG MEMPERSATUKAN Tema renungan kita pada hari ialah: Santapan Rohani YangMempersatukan. Persekutuan di dalam satu keluarga tampak amat jelas ketikasemua anggota keluarga kompak menghadiri Misa Kudus, lalu melanjutkannya denganmakan siang bersama. Ini adalah sebuah kegiatan rutin. Persekutuan seperti inisangat bertentangan dengan nasib umat Allah di bawah raja-raja setelah matinyaSalomo. Yang paling tragis ialah raja Yerobeam memperbesar dosanya denganmelawan Roh Allah karena ia percaya kepada dewa-dewa. Santapan rohani yang tersedia bagi orang-orang beriman,pengikut Kristus, ialah persembahan diri Yesus sebagai bagian utamapekerjaan-Nya menjalani kehendak Bapa. Dalam seluruh karya pelayanan, Iamenampakkan tindakan pemberian diri-Nya dengan disaksikan oleh para rasul danbanyak orang di sekeliling-Nya. Mereka semua dibuat kagum, bangga, senang danpercaya akan tindakan-tindakan itu. Tetapi di atas semua itu ialah tindakanpuncak, yaitu mati untuk menebus semua umat manusia. Ia tandai peristiwa puncak ini dengan tindakan kenangan didalam Gereja untuk mengalami langsung kehadiran diri-Nya yang menjadi santapanbagi seluruh umat-Nya, demi memperkuat dan memelihara persekutuan yang sudah Iabangun. Kita mengenalnya sampai detik ini dengan nama Ekaristi. Yesus pertamakali membawa para pengikut-Nya dan semua orang yang mendengar-Nya, dengan penuhiman ke sebuah pengalaman menyantap diri-Nya sendiri, ialah pada waktu iamemperbanyak roti bagi ribuan orang yang lapar dan haus di padang rumput yangluas. Pemberian makan kepada ribuan orang ini kemudiandipertegas lagi maknanya pada saat menjelang wafat-Nya, ketika Ia makanperjamuan malam bersama para rasul, dan di sana Ia membagi-bagikan roti dananggur. Sabda-Nya ialah supaya mereka terus melanjutkan peristiwa merayakansantapan rohani ini sebagai kenangan akan Dia, sekaligus menjadi penguatanrohani bagi semua yang mengambil bagian di dalamnya. Di dalam perjamuan makanitu, satu tindakan Yesus dengan pemecahan dirinya dan dibagi-bagikan menandakansakramen Ekaristi dan Imamat. Jadi persekutuan yang kita perkuat terus-menerus baikmelalui doa dan tindakan nyata bergantung sekali pada dua unsur dasar ini: Ekaristidan Imamat. Sakramen ekaristi sebagai santapan rohani, sedangkan imamat sebagaihak istimewa untuk menjalankan dan memimpin peristiwa kenangan itu supayamemiliki legitimasinya dari Tuhan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan Yesus Kristus,semoga persekutuan kami di dalam dan bersama Dikau menjadi kekuatan yang sangatnyata di dunia ini untuk menghadirkan kerajaan Allah yang dapat membaharuiseluruh muka bumi ini. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa...
Delivered by Valeria from the Parish of Saint Paul in the Diocese of Bandung, Indonesia. 1 Kings 11: 29-32; 12: 19; Rs psalm 81: 10-11ab.12-13.14-15; Mark 7: 31-37.GETTING STRONGERFOR UNITY Our meditation today is entitled: Getting Stronger ForUnity. According to our conviction and faith, unity is the beginning of allthings. The first verses of scripture, especially Genesis and the Gospel ofJohn, make it clear that unity or fellowship is the essence of the Lord God.The unity existed before the first human's fall into sin which caused thedivision and separation between good and evil, grace and sin. In this world, wherever there is a growing strength ofseparation and tension that threatens the unity of life, God also appears to bestronger in His power to rebuild it. He does that in himself and in the work ofJesus Christ. What Jesus Christ does to make the unity stronger is to renew theorder or pattern of faith that is already weak. He opens up all possibilitiesfor those who do not know God to become believers. When he healed the deaf and mute person, he certainlyshowed that faith is highly dependent on man’s ability to hear and speak. Jesusonce preached in his city of Capernaum and he said that faith occurs whenpeople listen to the word of God preached. Hearing is the entrance to faith,because through it people open themselves to accept and obey. From hearing, thenext ability required is to speak and give gratitude, celebrate that faith, andproclaim it. If we realize or consider that our faith is weak, inthe first place to do is to test our ability to listen the word and will ofGod. We can also test whether we become good news for others or not. If the factshows that we are lazy and have never heard well, or not speaking the truth aboutthe word of God, then our faith is in serious crisis. The worse is when thereare persons who hate and refuse to hear and talk about God. So Jesus also takesa serious act to do something, namely to separate the person concerned from thecrowd and then removing the barriers that prevent him from hearing and talkingabout our faith. God continues to open the way and all possibilitiesfor those who want to know and believe in Him. This work is done through theChurch, especially through us believers. Let us use the two abilities that wehave, hearing and speaking. May we do the best in hearing and speaking, that wecan help other people to hear God who speaks to them personally, and they canspeak about God in their real lives. These are the ways to strengthen unityamong us believers.Let us pray. In the name of the Father... O God Almighty, maywe always be a true and useful channel for our brothers and sisters who want toknow You more closely and dearly. Glory to the Father and to the Son and to theHoly Spirit... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh para Suster MCFSM dari Komunitas Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 11: 29-32; 12: 19; Mazmur tg 81: 10-11ab.12-13.14-15; Markus 7: 31-37.SEMAKIN KUATUNTUK PERSEKUTUAN Renungan kita pada hari ini bertema: Semakin Kuat UntukPersekutuan. Menurut keyakinan iman kita, persekutuan merupakan awal mulasegala sesuatu. Ayat-ayat pertama kitab suci, khususnya kitab Kejadian danInjil Yohanes menjelaskan bahwa persatuan atau persekutuan adalah hakikat TuhanAllah. Persatuan lebih dahulu ada sebelum kejatuhan manusia pertama ke dalamdosa yang menyebabkan perpecahan dan pemisahan antara yang kebaikan dankejahatan, rahmat dan dosa. Di dunia ini, di mana pun terjadi semakin kuat pemisahandan ketegangan yang mengancam persekutuan hidup, Tuhan juga tampak semakin kuatdalam kuasa-Nya membangun kembali persekutuan. Ia perbuat itu dalam diri dankarya Yesus Kristus. Yang diperbuat oleh Yesus Kristus supaya persekutuan itusemakin kuat ialah dengan membaharui tatanan atau pola hidup iman yang sudahterlanjur lemah. Ia membuka segala kemungkinan bagi mereka yang belum mengenalTuhan supaya menjadi percaya. Penyembuhan kepada seorang yang sekaligus tuli dan gagapmerupakan satu tindakan yang memperlihatkan kalau iman itu sangat bergantungpada kemampuan kita untuk mendengar dan berbicara. Yesus pernah berkhotbah dikotanya di Kapernaum bahwa iman itu terjadi pada saat orang mendengarkan firmanyang diwartakan. Mendengar ialah pintu masuk untuk iman, karena melaluinyaorang membukakan diri untuk memperhatikan dan menaruh ketaatannya. Darimendengar ini, kemampuan selanjutnya yang dituntut ialah berbicara sebagaiwujud bersyukur, merayakan iman itu, dan mewartakannya. Jika iman kita dipandang atau kita sendiri menganggapnyalemah, antara lain dapat diuji kemampuan kita dalam mendengar dan menjadi kabargembira bagi sesama. Kalau tanda-tandanya ialah kita malas bahkan tidak pernahmendengar dengan baik, ditambah dengan tidak berbicara dalam kebenaran firmanAllah itu, berarti iman kita sedang dalam krisis yang serius. Yang lebih parahialah bersikap benci dan menolak untuk mendengar dan berbicara tentang Tuhan.Jadi Yesus juga melakukan tindakan serius dengan harus berbuat sesuatu,memisahkan sedikit kita dari orang banyak lalu mencungkil halangan yangmenghambat kita mendengar dan berbicara tentang iman kita. Tuhan tetap membuka jalan dan segala kemungkinan bagimereka yang ingin mengetahui dan mengimani-Nya. Pekerjaan ini dilakukan melaluiGereja, khususnya melalui kita yang sudah beriman. Caranya ialah memakai duakemampuan yang ada, mendengar dan berbicara. Kiranya kita mengusahakan supayaorang-orang dapat mendengar Tuhan yang berbicara secara pribadi kepada mereka,dan dapat berbicara tentang Tuhan di dalam hidupnya yang nyata. Ini adalahcara-cara untuk memperkuat persekutuan di antara kita orang-orang beriman.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa,semoga kami selalu menjadi saluran yang benar dan berguna bagi saudara-saudarikami yang ingin mengenal Dikau dengan lebih dekat dan jelas. Kemuliaan kepadaBapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...


![[ENG] Meditation Friday of the 4th Week of Lent, March 27, 2020 [ENG] Meditation Friday of the 4th Week of Lent, March 27, 2020](https://s3.castbox.fm/44/ff/ed/19d3aa8fd1f7ae4960be1f7c53058663bf_scaled_v1_400.jpg)


