Discover
Cerita Puisi
63 Episodes
Reverse
Aku akan mengambil dua foto setiap hari dan merangkai mereka jadi film.
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:Tikamkan pedangmu hingga ke huluPada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
Mereka hangat, dekat, mendekap, dan masih beraroma kita
Makin dekat saja Menangkup senja
Ketika jari-jari bunga terbuka mendadak terasa: betapa sengit cinta Kita
Apakah kau di sana? Apakah kau ada? Apakah kau?
Kita tak pernah menanam apa-apa, kita tak pernah kehilangan apa-apa
Siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
Dia meninggalkanmu agar bisa mengingatmu
Kudekap ia bagai kudekap hidup dan matiku
Kau, Penyairku, apakah kau tahu pasti asal-usul benih yang tumbuh dalam kata-katamu?
Manisku jauh di pulau, kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Aku adalah wangi bungamu, ljka berdarah-darah durimu, semilir sampai badai anginmu
Tuhan datang malam ini di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus dan celoteh sepi
Sebelum sungguh menjadi sadar, bahwa sudah terlanjur terlantar
Aku tak pernah membenci apapun sebesar aku mencintai matamu
Turun terus. Sepi. Datar- lebar- tidak bertepi
Nanti, jika musim hujan tiba, langit akan memandikan gadis kecil itu dengan air matanya
Tak bisa kulupakan meski ditikam dalam-dalam






















