DiscoverTanadiSantosoBWI
TanadiSantosoBWI
Claim Ownership

TanadiSantosoBWI

Author: Tanadi Santoso

Subscribed: 2Played: 155
Share

Description

@tanadi_santoso Mendapatkan rekor muri
"Pemecahan Rekor Muri" : Pengulasan Buku Terbanyak secara berkesinambungan melalui Instagram kepada Tanadi Santoso
491 Episodes
Reverse
The Comfort Book

The Comfort Book

2026-02-0610:58

Di episode podcast kali ini, Tanadi Santoso akan mengajak kita "mampir" sejenak ke suasana Vienna, sebuah momen perjalanan yang tenang, lalu dibawa masuk ke pengalaman membaca buku dengan tulisan-tulisan pendek yang sederhana tapi menenangkan.Sepanjang episode, kita akan mendengar potongan-potongan kalimat yang seperti "menepuk pundak" dengan lembut. Tentang rumah yang mungkin bukan tempat, tapi keadaan. Tentang mencintai diri tanpa harus terus-menerus membuktikan diri. Tentang kita yang sejak awal sudah layak dicintai. Sampai ide sederhana tentang harapan kecil yang tidak menyerah.Ada juga bagian yang sangat relate ketika episode ini membahas hari-hari buruk, seperti emosi itu bergerak seperti awan dan seringkali titik paling berat justru pertanda bahwa keadaan bisa segera membaik. Kalau kita sedang lelah karena ekspektasi orang lain, ekspektasi sosial, atau ekspektasi diri sendiri maka episode ini punya banyak insight yang bisa kita dapatkan. Ada refleksi tentang kebahagiaan yang muncul saat kita berhenti menjadi versi yang diharapkan, dan mulai menerima diri dengan utuh. Ada juga pengingat singkat yang tajam bahwa hidup itu pendek, jadi berbaik hatilah. Bahkan analogi tentang mengalir yang membuat rasa sakit terasa lebih bisa diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan musuh yang harus selalu dilawan. Selain itu, episode ini juga membahas tentang kesepian yang tidak selalu soal kurang teman, melainkan soal merasa "hilang" dan obatnya adalah memahami diri lebih dalam. Dari sana, episode ini mengantar kita ke satu kalimat yang menenangkan: "Anda ada di sini, dan itu sudah cukup".
Bagi kita yang sering merasa takut melangkah karena khawatir gagal, episode podcast ini akan mengajak kita untuk melihat kegagalan bukan sebagai vonis tetapi sebagai proses belajar yang justru memperkaya cara pandang dan membuat kita lebih tangguh. Tamu spesial kali ini adalah Pak Rasman. Beliau bercerita tentang prinsip dimana dalam kehidupan ini kita berjalan dalam kebenaran, menciptakan dampak, dan terus bertumbuh. Yang menarik, Geliau memandang kemenangan dan kegagalan dengan kacamata yang sama. Dua-duanya bisa jadi guru, selama kita mau mengambil ilmunya dan bangkit lagi.Episode ini juga membawa kita "jalan-jalan" ke Simeulue, sebuah daerah kepulauan yang menyimpan kisah luar biasa tentang kearifan lokal semong (mitigasi tsunami) dan mimpi membangun daerah dari pinggir agar punya daya tarik kelas dunia. Pembahasa ini tidak hanya tentang wisata, tetapi juga tentang keberanian punya visi, konsisten menggerakkan langkah kecil, dan mengubah keterbatasan jadi strategi. Selain itu, ada juga pembahasan yang relevan untuk zaman sekarang yaitu bagaimana teknologi bisa jadi penghambat ketika disalahgunakan dan betapa pentingnya peran mentor, coaching, serta kepemimpinan yang membuat orang lain juga berkembang.
Family Constitution

Family Constitution

2026-01-2306:56

Episode "Family Constitution" ini akan membahas masalah klasik dalam family business dimana kita ingin menjaga kebersamaan dan harmoni saat di rumah tetapi saat di bisnis kita harus tegas, meritokratis, dan mengejar profit. Kita akan diajak melihat kenapa dua kata yaitu family dan business, sering saling berbenturan dan mengapa benturan ini justru makin kompleks ketika bisnis turun ke generasi berikutnya.Pembahasan lainnya adalah masalah yang juga sering terjadi di family business yaitu one man show, batas rumah dan kerja yang kabur, kurang transparan, loyalitas yang hanya pada figur tertentu, hingga konflik keluarga yang berlarut-larut. Tanadi Santoso juga memberikan contoh nyata tentang gap generasi seperti orang tua yang berangkat dari "kepahitan hidup" versus anak yang tumbuh dengan cara hidup berbeda, dimana dua hal ini yang akhirnya memicu benturan nilai, gaya kerja, dan ekspektasi. Dari sisi pendiri, masalah besar biasanya muncul karena suksesi tidak pernah dikomunikasikan dengan jelas, ada kesulitan melepas kontrol, dan kegagalan membaca kapan waktu yang tepat harus memberi ruang dan mandat pada penerus. Dari sisi penerus, tantangannya bisa berupa perbedaan pendapat, tekanan bayang-bayang reputasi orang tua, sampai keputusan menarik diri karena sudah tidak cocok lagi. Selain itu, episode ini juga mengangkat 4 disrupsi yang sering mengganggu family business yaitu kematian, menantu, rasa tidak adil antar saudara, serta perilaku tidak sehat yang menggerus kepercayaan keluarga.Di titik itulah family constitution menjadi solusi. Sebuah "undang-undang dasar" keluarga untuk menetapkan aturan main yang disepakati bersama. Dari pembagian peran, hak dan kewajiban, pola pembagian keuntungan, batas fasilitas keluarga versus fasilitas kantor, sampai topik sensitif yang biasanya dihindari.
Episode podcast kali ini membahas bagaimana bisnis keluarga bisa tetap bertumbuh tanpa terjebak konflik generasi, ego, atau keputusan impulsif. Tamu di episode ini adalah seorang CFO dari Cendrawasih Group yaitu Lisdawaty Hendrawan. Beliau akan berbagi pengalaman bagaimana membangun sistem keuangan dan tata kelola pada organisasi yang sudah berkembang besar. Salah satu keypoint dari Beliau adalah adanya pemisahan yang tegas antara uang pribadi dan uang perusahaan, struktur gaji yang jelas untuk keluarga yang terlibat, dan disiplin dalam pengambilan keputusan agar bisnis tidak berjalan memakai perasaan. Episode ini terasa begitu relevan karena pembahasannya tentang pola komunikasi lintas generasi dimana generasi muda cepat mengambil keputusan karena terbiasa teknologi tetapi sering perlu dibantu untuk lebih matang dalam manajemen risiko. Di sini kita akan menemukan pendekatan yang seimbang antara diberi ruang untuk berkarya dan batasan atau filter agar kebebasan tidak berubah menjadi keputusan seenaknya.Selain itu, episode ini juga membahas bagaimana membangun organisasi yang tidak bergantung pada orang tertentu melainkan pada sistem. Contoh konkretnya mulai dari KPI, ritme meeting tim, sampai keputusan tegas ketika performa tidak sesuai target. Semuanya diarahkan agar bisnis bisa tetap berjalan meski orangnya berganti. Salah satu hal yang penting juga adalah perspektif tentang keluarga sebagai fondasi. Bagaimana keharmonisan rumah tangga, kebiasaan komunikasi, dan pola pikir untuk memperbaiki saat terjadi kesalahan bukan sibuk mencari siapa yang salah.
The 12 Week Year

The 12 Week Year

2026-01-1617:21

Episode "The 12 Week Year" ini akan mengajak kita untuk memikirkan ulang bagi kita yang sering berpikir bahwa "tahun baru, semangat baru" akan berakhir menjadi "bulan baru, resolusi lama". Di sini kita akan sama-sama belajar membalik cara pandang, yaitu bukan menunggu 1 tahun untuk melihat hasil tetapi mengompres target besar menjadi 12 minggu agar fokus, urgensi, dan ritmenya jauh lebih tajam. Salah satu hal yang menarik adalah episode ini tidak hanya membahas soal produktivitas tetapi soal eksekusi. Kita tidak menjadi hebat karena apa yang bisa kita lakukan, melainkan karena apa yang benar-benar kita lakukan. Di dalamnya juga ada satu fondasi yang sering terlupa yaitu emotional connection. Seringkali target besar membutuhkan alasan yang terasa personal. Kutipan Mary Oliver menjadi pengingat kuat: "Apa yang akan Anda lakukan dengan hidup Anda yang begitu berharga?" Dari sana, kita diajak untuk menyusun planning yang lebih jelas seperti mimpi besar, taktik, dan ukuran yang terukur, one week at a time.Praktiknya dibuat sangat konkret, dimulai dari membangun weekly plan, lalu melakukan WAM (Weekly Accountability Meeting) untuk confronting the truth. Tidak cukup berharap, kita juga perlu data. Ada juga konsep weekly scorecard untuk menilai komitmen setiap minggu (misalnya 70%, 60%, 95%). Hal itu dilakukan agar kita lebih disiplin dan intentionality-nya nyata. Episode ini juga membahas hal penting lainnya yaitu soal komitmen. Tidak hanya interested tetapi committed. Episode ini membedah empat pilar komitmen yaitu desire yang kuat, fokus pada keystone action, berani "bayar biayanya", dan konsisten bertindak.
Lead with a Story

Lead with a Story

2026-01-0625:18

Di episode "Lead with a Story", Tanadi Santoso mengajak kita kembali ke akar paling dasar dari komunikasi manusia, jauh sebelum bisnis, sebelum tulisan, semuanya dimulai dari kalimat sederhana yang super kuat: "Let me tell you a story". Episode ini bukan hanya review buku, tetapi juga mengingatkan kita bahwa leadership yang hebat seringnya bukan datang dari instruksi melainkan dari cerita yang tepat.Episode ini akan membahas kenapa storytelling begitu efektif untuk memimpin. Melalui rangkuman 10 alasan yang praktis, seperti storytelling itu sederhana, timeless, lintas demografi, menular, mudah diingat, inspiratif, cocok untuk semua tipe pembelajar, dan bahkan bikin orang otomatis masuk "mode belajar" saat mendengar cerita. Episode ini juga menarik karena menunjukkan bagaimana cerita membentuk dan menguatkan budaya organisasi, bukan hanya slogan. Ada kisah Tom Watson (IBM) yang tetap balik ambil badge karena dia sendiri yang membuat aturannya, dan cerita-cerita seperti ini yang kemudian menjadi seperti sebuah standar di perusahaan. Selain itu juga membahas tentang cerita yang menginspirasi dan memotivasi seperti sebuah kisah pelari maraton di Mexico City yang tetap menyelesaikan lomba walau lututnya cedera, lalu mengucapkan kalimat yang "mengunci" makna komitmen. Akhirnya ia dikirim negaranya untuk menuntaskan tugas bukan untuk berhenti di rumah sakit. Cerita seperti ini bukan soal olahraga tetapi tentang daya tahan mental yang bisa kita gunakan untuk leadership sehari-hari.Episode ini ingin mengajak kita agar dapat memimpin dengan cara yang lebih manusiawi, lebih menggerakkan, dan lebih mudah diingat orang melalui berbagai cerita yang menginspirasi termasuk kisah tentang mobil tua dan juga berbagai contoh bagaimana metafor dan analogi membuat pesan jadi lebih hidup.
Nudge

Nudge

2025-12-3010:12

Di episode "Nudge" ini, bahasan utamanya adalah melihat satu hal yang sering kita anggap sepele. Pilihan ternyata bisa "diarahkan" tanpa terasa. Salah satu cerita yang mewakili ini adalah cerita dari Venetian Hotel di Las Vegas. Bagaimana suasana kasino dibuat begitu nyaman sampai orang lupa waktu, lupa jalan keluar, dan betah berlama-lama. Semua detail itu bukan kebetulan tetapi itu adalah desain yang mendorong perilaku. Di sini, akan dibahas konsep yang "mind-blowing" tapi relevan yaitu libertarian paternalism. Kita tetap merasa bebas memilih, namun pilihan yang ada pelan-pelan menggiring kita ke arah tertentu. Menariknya, konsep ini bukan cuma untuk psikologi tetapi juga powerful untuk government, korporasi, sales, hingga leadership sehari-hari. Episode ini juga membahas contoh-contoh yang dekat dengan hidup kita, seperti diskon yang "menggoda" sehingga kita membeli lebih banyak, dan fenomena choice overload. Sebuah fenomena dimana pilihan terlalu banyak, orang justru makin bingung dan akhirnya tidak jadi membeli. Ada juga ilustrasi sederhana soal restoran dimana ketika opsi dibuat lebih ringkas, keputusan terasa jauh lebih mudah. Bagian yang membuat kita berpikir dalam adalah eksperimen tentang donor organ. Hanya dengan membalik format pertanyaan (opt-in vs opt-out), persentase persetujuan bisa berubah drastis. Ini membuat kita sadar bahwa cara kita menulis dan menyajikan pilihan bisa berdampak besar pada keputusan orang, bahkan saat mereka merasa sedang "memilih sendiri". Episode ini juga membawa Nudge ke konteks yang lebih luas, dari "honor statement" saat ujian yang bisa menurunkan kecenderungan menyontek, sampai contoh hotel yang menghemat biaya lewat pesan "peduli bumi" mengenai masalah handuk. Satu poin penting dari ini semua adalah meski kita tahu itu nudge, kita tetap bisa terpengaruh.
Think Again

Think Again

2025-12-2314:02

Di episode podcast kali ini, kita diajak berhenti sebentar dan bertanya: "Apakah cara pikir saya masih relevan?". Lewat rangkuman dari buku Think Again, episode ini membahas jebakan tiga gaya berpikir yang bikin kita kaku seperti menjadi "preacher" (merasa paling benar), "prosecutor" (hobi menyalahkan), atau "politician" (benar-salah tergantung untung-rugi). Lalu, gaya berpikir yang lebih kuat juga diperkenalkan yaitu berpikir seperti scientist yang siap menguji hipotesis, siap menerima salah, dan justru bertumbuh karenanya.Episode ini juga membahas ide tentang confident humility dan the joy of being wrong. Tetap percaya diri, tapi tidak defensif. Berani punya pendapat, tapi juga berani memperbarui pendapat. Bukan cuma itu, ada juga ilustrasi riset yang bikin kita berpikir ulang soal performa. Sebuah studi pada entrepreneur di Milan menunjukkan kelompok yang dilatih untuk berpikir seperti scientist bisa melesat jauh, termasuk lebih berani pivot saat realitas menuntut perubahan.Episode ini mengingatkan kita bahwa "think again" bukan hanya skill individu. "Think again" juga merupakan sebuah budaya untuk menciptakan psychological safety agar orang bisa beda pendapat tanpa merasa dimusuhi, dan menantang diri dengan pertanyaan tajam yaitu "Setahun terakhir, bagaimana kalau apa yang saya pikir benar itu ternyata salah?"
The Wealth Ladder

The Wealth Ladder

2025-11-2810:59

"The Wealth Ladder" mengajak kita memahami sebuah konsep yang mengatakan bahwa setiap orang berada pada level kekayaan yang berbeda, dan setiap levelnya punya cara berpikir, kebiasaan, serta perilaku finansial yang semestinya berbeda pula. Dalam episode ini, Tanadi Santoso membedah salah satu buku favoritnya yang mengajarkan konsep tersebut yaitu "The Wealth Ladder".Episode ini akan mengajak kita memahami tentang bagaimana total aset, bukan hanya uang tunai, menentukan posisi kita dalam tangga kekayaan. Mulai dari lower class hingga super rich, setiap level memiliki "kebebasan" yang berbeda, mulai dari grocery freedom, restaurant freedom, travel freedom, bahkan hingga impact freedom. Tanadi Santoso mengajak kita melihat fenomena yang sering terjadi, seperti orang yang sudah berada di level tinggi tetapi masih hidup seperti di level rendah atau bahkan sebaliknya, melakukan keputusan keuangan seperti orang super kaya padahal aset masih terbatas.Selain itu, episode ini juga memperluas konsep level ke aspek lain seperti intelektual, keahlian, dan jabatan. Kita akan memahami bahwa "tidak nyambung" dalam percakapan atau kolaborasi seringkali terjadi tidak selalu karena perbedaan karakter, tetapi bisa karena perbedaan level kapasitas.
Di episode podcast kali ini, kita membahas tema yang semakin relevan di era yang berubah cepat yaitu The Art of Reinvention. Apa yang membuat seseorang yang sudah sukses besar, berani menciptakan sesuatu yang benar-benar baru? Tamu spesial podcast kali adalah Brian Tjahyanto, founder Azarine dan Fuelin, seorang inovator yang tak pernah berhenti bereksperimen dan bertumbuh.Brian bercerita bahwa keberhasilan bukan alasan untuk berhenti, melainkan momentum untuk menemukan tantangan berikutnya. Dari industri beauty yang sudah mendunia, ia melompat ke dunia health & nutrition melalui brand Fuelin. Di sini, kita akan melihat bagaimana reinvention sebenarnya lahir dari kebutuhan pribadi, kepekaan membaca tren, dan keberanian mengisi kekosongan pasar dengan solusi yang lebih baik.Episode ini juga menunjukkan bagaimana inovasi tidak selalu glamor. Ada edukasi panjang, salah persepsi konsumen, bahkan risiko salah timing yang bisa membuat produk gagal meski kualitasnya bagus. Tidak hanya bicara produk, Brian juga membuka cara berpikirnya tentang passion, mental resilience, dan pentingnya adaptasi teknologi. Kita akan mendapatkan perspektif praktis seperti kapan harus mengikuti passion, kapan harus realistis demi tanggung jawab, serta bagaimana teknologi seperti AI bisa mempercepat proses inovasi tanpa kehilangan sentuhan manusia.
Dalam episode podcast kali ini, Tanadi Santoso mengajak kita memahami makna yang paling mendasar dari uang. Lewat ulasan buku The Price of Money, kita diajak menelusuri perjalanan uang dari zaman barter, emas, hingga era digital, dan memahami mengapa uang bisa mengatur hampir seluruh aspek kehidupan modern.Tanadi Santoso membahas konsep tentang enam karakteristik uang, dari fungibility hingga scarcity dan bagaimana emas pernah menjadi simbol paling sempurna dari nilai yang dipercaya dunia. Namun, sejak 1971 ketika Amerika Serikat memutuskan hubungan antara uang dan emas, segalanya berubah. Uang bisa diciptakan "dari udara", dan sejak itu, inflasi, krisis, hingga ledakan hutang global menjadi babak baru dalam kisah ekonomi dunia.Selain itu, Tanadi Santoso juga menjelaskan bagaimana pencetakan uang tanpa batas, pandemi COVID, dan perilaku berhutang membentuk ekonomi global kita hari ini. Ia juga mengajak kita untuk merenungkan, apakah uang benar-benar mencerminkan nilai kita, atau hanya simbol sementara dari sesuatu yang jauh lebih dalam seperti kepercayaan, produktivitas, dan nilai diri.Tanadi Santoso juga membahas tujuh prinsip penting dari The Economy Survival Guide yang relevan untuk siapa pun yang ingin bertahan di dunia yang terus berubah. Mulai dari "jangan bergantung pada pemerintah" hingga "pahami nilai dirimu sendiri", setiap poinnya menyaadarkan kita bahwa bertahan dalam dunia keuangan bukan soal menjadi kaya, tapi tentang menjadi bijak terhadap uang.
Episode podcast kali ini menghadirkan perbincangan antara Ronald Suryaputra dan Suvictor, seorang product trainer termuda di Manulife Indonesia yang baru berusia 19 tahun. Dari awal yang tidak terduga hingga kisah nyata keluarganya yang diselamatkan oleh asuransi, Suvictor menunjukkan bahwa dunia asuransi bukan hanya milik generasi senior tetapi juga ruang tumbuh yang menjanjikan bagi generasi muda yang berani mencoba.Dalam pembahasan ini, Viktor membongkar stigma lama tentang asuransi bahwa produk asuransi ini rumit, menakutkan, bahkan sering dianggap jebakan. Ia menjelaskan dari sisi orang dalam, bagaimana asuransi bekerja sebenarnya, mengapa banyak kesalahpahaman terjadi, dan apa yang harus diketahui agar nasabah tidak salah langkah. Lebih dari sekadar edukasi finansial, episode ini juga menjadi refleksi tentang mindset kerja anak muda. Suvictor berbagi perjalanan dari dunia content creation dan cosplay menuju karier yang serius di bidang keuangan. Ia menegaskan bahwa passion memang penting, tapi tanggung jawab dan kemandirian finansial jauh lebih mendasar.Selain itu, episode ini juga membahas hal-hal seperti seni menawarkan produk tanpa memaksa, etika agen muda, dan strategi membangun relasi dengan klien yang belum dikenal sama sekali. Suvictor membagikan triknya bersosialisasi di kafe, membangun koneksi dari nol, hingga membangun reputasi lewat pelayanan after sales yang tulus. Dari sinilah kita melihat bahwa adaptif dan cepat belajar menjadi kekuatan baru Gen Z dalam industri yang selama ini dianggap kaku.
Bagaimana mungkin dua perusahaan dengan teknologi AI serupa bisa mendapatkan hasil yang sangat berbeda? Di satu sisi, ada organisasi yang berhasil mentransformasi bisnisnya dengan cepat. Di sisi lain, ada yang justru terjebak dalam kebingungan dan frustrasi. Dalam episode ini, kita akan membahas bahwa fondasi suksesnya transformasi AI bukan dari sisi teknologinya, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih mendasar yaitu mindset.Episode ini mengajak kita memahami bahwa adopsi AI tidak dimulai dari perangkat canggih atau algoritma rumit, melainkan dari kesiapan manusia di dalam organisasi. Ia mengibaratkan AI seperti benih yang hanya bisa tumbuh di tanah yang subur dan "tanah" itu adalah pola pikir seluruh tim. Tanpa fondasi mental yang siap, investasi sebesar apa pun pada teknologi tidak akan menghasilkan perubahan berarti. Ada tiga mindset utama yang menentukan keberhasilan transformasi AI yaitu digital mindset, agility mindset, dan growth mindset. Episode ini juga bercerita kisah nyata dan refleksi menarik, mulai dari perbandingan ekonomi digital dan konvensional hingga contoh sederhana tentang bagaimana generasi muda belajar mengelola fokus di era TikTok.
Dalam episode ini, Tanadi Santoso mengajak kita merenung pada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita pikirkan: "Sebenarnya, Anda dibayar untuk apa?" Pertanyaan sederhana dari seorang coach ini menjadi pintu masuk menuju perjalanan menemukan makna di balik pekerjaan dan talenta kita. Bukan sekadar soal jabatan, uang, atau status, tapi tentang menemukan esensi dari kontribusi yang benar-benar membuat hidup dan karier kita bernilai.Tanadi membagikan kisah personalnya, dari perenungan panjang hingga akhirnya menemukan bahwa dirinya "dibayar untuk menginspirasi orang lain." Sebuah kesadaran yang tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari pengalaman sebagai pemimpin, dosen, dan trainer yang terus bertumbuh. Ia kemudian menjelaskan tiga inti dari pekerjaan bermakna: menginspirasi orang lain, menunjukkan jalan, dan memberi tanda arah agar orang lain juga bisa berkembang.Dari sinilah muncul pesan kuat bahwa kekuatan sejati tidak selalu datang dari apa yang kita lakukan, tapi dari mengapa kita melakukannya. Melalui kisahnya tentang membuat ratusan review buku hingga meraih rekor MURI, Tanadi menunjukkan bahwa ketika kita hidup sesuai kekuatan kita, hasilnya bisa jauh melampaui sekadar materi.Episode ini juga mengajak pendengar melihat ulang cara mereka memaknai pekerjaan. Dari penjual sepeda motor hingga kurir pengiriman, setiap profesi punya makna lebih besar ketika dijalankan dengan kesadaran membantu orang lain. Ketika seseorang bekerja bukan sekadar untuk cuan, tapi untuk memberi nilai, maka pekerjaan itu menjadi panggilan. "Soar with Your Strengths" adalah undangan untuk berhenti mengejar kesempurnaan di semua hal, dan mulai terbang dengan kekuatan terbaik yang sudah kita miliki.
Di episode podcast kali ini, kita kembali menghadirkan pembahasan lanjutan antara Ronald Suryaputra dan Yuliana, pakar parenting yang menggabungkan ilmu NLP, Design Thinking, dan Strength-Based Approach menjadi sebuah metode unik bernama Forte Communication. Kali ini, pembicaraan semakin dalam karena membahas bagaimana ketiga pendekatan itu membantu orang tua memahami anak, berkomunikasi lebih empatik, dan menumbuhkan rasa percaya diri yang autentik dalam diri anak.Yuliana menguraikan bagaimana NLP tidak hanya mengubah cara berpikir, tapi juga membantu orang tua keluar dari pola komunikasi negatif yang tanpa sadar diwariskan dari masa kecil. Melalui konsep mirroring dan rapport building, ia menunjukkan bahwa kedekatan sejati dengan anak tidak dibangun lewat kontrol, melainkan lewat koneksi emosional yang tulus. Sebuah pandangan yang menyentuh, namun tetap praktis diterapkan dalam keseharian.Tak kalah menarik, Design Thinking dihadirkan dalam konteks parenting. Hal ini merupakan cara baru melihat konflik dan tantrum bukan sebagai masalah, tapi sebagai peluang belajar bersama anak. Dari proses empati hingga ideasi, Yuliana menunjukkan bagaimana orang tua bisa menjadi "coach" yang membantu anak menemukan solusinya sendiri. Sementara pendekatan Strength-Based menantang pola pikir lama dimana setiap anak memiliki kecerdasan unik, dan tugas orang tua adalah mengenali serta menumbuhkannya, bukan menyeragamkannya.Dalam pembicaraan yang penuh insight ini, muncul banyak contoh nyata, mulai dari cara sederhana memvalidasi anak, menciptakan "flash card komunikasi" dengan pasangan, hingga bagaimana orang tua bisa memanfaatkan kekuatannya sendiri untuk membimbing tanpa menekan.
Dalam episode podcast kali ini, Tanadi Santoso mengajak kita memikirkan kembali konsep dimana seolah-olah ada "rumus rata-rata" yang harus ditempuh untuk menuju keberhasilan. Berdasarkan buku karya Todd Rose, Tanadi Santoso membahas bahwa standar rata-rata adalah tolok ukur yang adil dan efektif dan justru perbedaanlah yang membuat manusia berkembang. Di sinilah perjalanan menarik dimulai yaitu memahami mengapa menjadi berbeda adalah satu-satunya cara untuk benar-benar unggul.Melalui cerita nyata dari dunia penerbangan Amerika tahun 1940-an, Tanadi Santoso menggambarkan bagaimana menjadi "rata-rata" bisa berakibat fatal. Ketika kokpit pesawat didesain berdasarkan ukuran tubuh rata-rata, ternyata tak satu pun pilot yang cocok dan berujung terjadi kecelakaan. Kisah ini bukan hanya tentang desain pesawat, tapi tentang kehidupan dimana saat kita mencoba menyesuaikan diri dengan ukuran orang lain, kita kehilangan potensi sejati diri sendiri.Dari sinilah muncul prinsip penting yaitu The Jagged Principle. Sebuah prinsip dimana setiap orang unik dalam bentuk, bakat, dan cara berpikirnya. Tanadi Santoso menghubungkannya dengan CliftonStrengths dari Gallup, menjelaskan bagaimana setiap individu memiliki kombinasi kekuatan yang berbeda dan tak bisa diseragamkan. Sukses bukan soal meniru Steve Jobs atau Jeff Bezos, melainkan tentang menemukan dan memaksimalkan versi terbaik diri kita sendiri. Inilah yang ditekankan oleh Tanadi Santoso yang mengajak kita berpikir untuk berhenti membandingkan dan mulai memahami keunikan diri.
Dalam episode podcast kali ini, kita mengundang tamu spesial, Yuliana, seorang praktisi parenting asal Surabaya yang dikenal karena pendekatan realistis dan penuh kehangatan dalam mendidik anak. Topik ini bukan tentang teori melainkan bagaimana sebenarnya cara membesarkan anak yang percaya diri tanpa kehilangan ketulusan, kedisiplinan, dan kasih sayang.Melalui episode ini, Yuliana membongkar mitos-mitos seputar pola asuh modern, seperti "tidak boleh marah" sampai "gentle parenting" yang sering disalahartikan. Ia menegaskan bahwa menjadi orang tua bukan berarti harus sempurna, melainkan sadar dan tumbuh bersama anak. Melalui contoh nyata dan refleksi pribadi, kita diajak menyadari bahwa marah pun bisa menjadi bagian sehat dari komunikasi, asalkan dilakukan dengan kesadaran dan kasih.Selain itu, episode ini juga membahas mengenai konsep Forte Communication, sebuah metode komunikasi berbasis kekuatan (strength-based communication) yang membantu orang tua memahami karakter unik setiap anak. Dengan cara ini, teguran tidak lagi terasa seperti hukuman tetapi menjadi ruang belajar bersama. Yuliana juga membagikan tips praktis seperti metode Yes–No–Yes, cara menanamkan disiplin tanpa teriakan, serta bagaimana menghadapi anak yang lebih nyaman di dunia digital daripada dunia nyata.Pembahasan tidak berhenti tentang anak saja. Pembahasan ini juga menyoroti pentingnya kerja sama antara ayah dan ibu sebagai sebuah tim dalam mendidik anak, saling bergantian peran antara good cop dan bad cop, dan menyadari bahwa keluarga yang sehat dibangun dari komunikasi yang setara dan penuh empati. Di sini, parenting bukan lagi tanggung jawab satu pihak, tapi perjalanan spiritual dua orang dewasa yang memilih untuk terus belajar.
Dalam episode kali ini, kita membahas buku fenomenal Don't Believe Everything You Think karya Joseph Nguyen yang membuka mata kita tentang perbedaan antara pain (rasa sakit) dan suffering (penderitaan). Seringkali kita merasa tersiksa itu sebenarnya bukan karena peristiwa buruk itu sendiri, melainkan karena pikiran kita yang tak berhenti memutar skenario negatif. Melalui kisah dan ilustrasi yang sederhana, buku ini mengajak kita menyadari bahwa sumber penderitaan terbesar bukanlah dunia luar, melainkan cara kita menafsirkan pikiran sendiri.Buku ini menyoroti perbedaan mendasar antara thought (pikiran yang muncul) dan thinking (proses berpikir yang berlebihan). Thought hanyalah peristiwa mental yang datang dan pergi, tetapi thinking-lah yang sering berubah menjadi jerat penderitaan. Dalam episode kali ini, kita akan diajak memahami bahwa "berhenti berpikir" bukan berarti pasif, melainkan membebaskan diri dari belenggu pikiran yang tidak perlu.Selain itu, episode ini akan membahas konsep flow dan bagaimana kondisi hanyut dalam pekerjaan membuat kita bahagia tanpa perlu memaksakan pikiran positif. Ada pula kisah inspiratif tentang samurai muda dan seorang master yang dengan sederhana menunjukkan betapa tipisnya batas antara "neraka" dan "surga", semuanya ditentukan oleh cara kita memandang.Episode ini juga menyajikan langkah praktis dengan akronim PAUSE yang merupakan sebuah panduan sederhana untuk menghentikan arus pikiran negatif, memberi ruang jeda, memahami, dan pada akhirnya melepaskan penderitaan. Dari sini kita akan menemukan bahwa salah satu kekuatan terbesar manusia adalah kemampuan memilih. Apakah mau terus terjebak dalam arus pikiran yang menyesakkan atau melangkah menuju ketenangan.
Episode podcast kali ini menghadirkan tamu spesial, Hari Kurniawan, seorang praktisi sekaligus akademisi berpengalaman di bidang market research. Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, keputusan tanpa data sering kali menjadi awal dari kegagalan. Kita diajak untuk memahami mengapa riset pasar bukan hanya teori saja, melainkan kompas utama yang mengarahkan bisnis agar tetap relevan dengan kebutuhan manusia sebagai konsumen.Melalui contoh nyata seperti coffee shop hingga proyek besar bernilai triliunan di IKN, episode ini berusaha mengingatkan kita bahwa market research adalah fondasi penting sebelum melangkah. Dengan melakukan riset, hal itu dapat membantu memetakan kompetitor, membaca perilaku konsumen, hingga meminimalisir risiko yang sering luput dari intuisi semata.Selain itu, episode ini juga membahas bahwa market research bukan hanya milik korporasi besar. UMKM pun bisa melakukannya dengan cara sederhana, bahkan gratis. Bisa dengan bertanya kepada pelanggan, mengamati perilaku di media sosial, atau membuat ide kreatif seperti giveaway murah yang menghasilkan ratusan insight.Episode ini juga menyajikan kisah inspiratif seperti fenomena kursi Herman Miller yang sempat divonis "tidak laku" oleh riset, namun akhirnya menjadi produk legendaris dunia. Cerita-cerita ini memperlihatkan bahwa riset memang penting, tetapi tetap harus dibarengi dengan keberanian mengambil keputusan dan kepekaan membaca dinamika pasar.
Episode kali ini mengajak kita untuk melihat ke dalam diri kita sendiri. Pernahkah Anda merasa lelah tanpa sebab yang jelas, atau kehilangan semangat padahal pekerjaan masih menumpuk? Seringkali kita melupakan sebuah rahasia kecil yaitu menemukan energizer dalam hidup kita. Hal itu tidak hanya motivasi saja, melainkan hal-hal sederhana yang benar-benar memberi energi besar untuk melangkah lagi.Tanadi Santoso membagikan pengalaman pribadi sekaligus insight praktis tentang bagaimana setiap orang punya energizer dan zapper yang berbeda. Apa yang membuat seseorang bersemangat bisa jadi membosankan bagi orang lain. Di situlah kuncinya, belajar mengenali apa yang menambah energi kita dan apa yang diam-diam mengurasnya.Dari kisah sederhana tentang memotret pagi hari, hingga contoh nyata bagaimana CliftonStrengths dapat membantu kita mengenali kekuatan yang benar-benar menghidupkan, Anda akan menemukan betapa pentingnya mengisi "kotak rahasia energi" versi Anda sendiri. Inilah yang disebut Jewelry Box of Energizer, sebuah metafora tentang menyimpan hal-hal kecil yang bisa jadi sumber kekuatan di saat jenuh dan lelah.Selain berbagi pengalaman dan kisahnya, Tanadi Santoso juga berbagi tips praktis yang bisa langsung diterapkan. Bagaimana cara menambah energizer dalam aktivitas sehari-hari, bagaimana menyiasati hal-hal yang melelahkan, dan bagaimana memanfaatkan orang, tempat, serta pengalaman positif sebagai pengisi ulang energi hidup kita.
loading
Comments