Discover
Aqwalunubala
Aqwalunubala
Author: hasib amrullah
Subscribed: 0Played: 3Subscribe
Share
© hasib amrullah
Description
Rekam jejak manusia dan pikirannya saat bertemu dengan peristiwa sejarah, pertarungan nilai kebaikan dan keburukan, dan usaha untuk bertahan menjadi manusia ditengah gelombang godaan untuk berubah menjadi setan dan binatang... semoga menjadi jejak jariah bagi yang mendapatkan pelajaranya
85 Episodes
Reverse
al-baqarah 267, tayammamu adalah memalingkan muka, ekspresi tidak suka. kata ini digunakan Allah dalam menggambarkan orang pelit, yang evident darinya adalah - jika ia memberi, ia membari sesuatu yang ia sendiri tidak inginkan - fala tayamamu al-khabitsu minhu tunfiqun... selamat mendengar...
al-Baqarah 266, ia bicara cinta, dan cermin yang dipantulkanya, adalah apa yang anda dengar di episode ini
al-baqarah 265, tsabat adalah tertancamnya keyakinan dalam hati, untuk tidak goyah sebab hantaman badai kehidupan, untuk tidak berubah memegang kebenaran, tsabat adalah doa agar hal hal itu ditetapkan untuk selamanya bersama kita dalam perjalanan menujunya, semoga ada gunanya
dari kumpulan catatan surah al-baqarah, saya sebut sebagai cermin, sebab lintasan ayat itu seperti cermin dan yang nampak saat wajahku berhadapan denganya adalah apa yang saat ini anda dengar, semoga menjadi jariyah.
Ada tiga kunci keselamatan di dalam hidup seorang muslim. Pertama, agar badan jasmaninya selamat, maka seorang muslim hendaknya mensedikitkan makanan yang masuk, seorang muslim adalah kaum yang tidak makan kecuali lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Kedua, kunci keselamatan jiwa adalah sedikitnya dosa, sebab banyaknya dosa menutup jiwa dari petunjuk dan hidayah pemilik kehidupan. Yang ketiga adalah kunci keselamatan pada agama, terletak pada shalawat kepada kanjeng nabi Muhammad S.A.W, disini terletak rahasia cinta, shalawat adalah ungkapan mendasar dari rasa cinta kepada manusia yang dicintai Allah dan seluruh alam raya, cinta mensyaratkan ketundukan, bukti ketundukan adalah menjalankan apa yang diperintahkan oleh yang dicintai, dan melaksanakan hanya apa yang disukai, tidak membuat-buat sendiri pilihan, apa yang harus dijalankan dan apa yang harus ditinggalkan, cinta itu mensyaratkan untuk tidak melakukan apapun, kecuali ia menghendakinya...
Din itu agama, secara kata ia mengandung makna berbeda dengan agama ataupun religion dalam bahasa Inggris, sebab agama yang dipahami oleh ahli theologi adalah bagian dari budaya, ia mengalami proses adaptasi dan perkembangan, ajaranya akhirnya disesuaikan dengan situasi dan kondisi berkembangnya budaya masayarakat. Din, mengandung makna konsep, ia adalah petunjuk tetap bagaimana hidup harus dijalankan, dan tatacara menjalankan kehidupan itu tidak berubah, ia tetap dari awal turunnya, ia diperintahkan kepada orang-orang seribu tahun yang lalu sama dengan apa yang diperintahkan orang-orang sekarang, tidak mengalami perkembangan, sebab ia bukan bagian dari budaya. Memahami Din dengan frame agama atau religion, bisa menjebak kita untuk salah mengerti, bahwa agama adalah budaya, perlu diperbaiki dan diperbaharui. Tidak, kita tidak memerlukan memperbaharui, yang kita perlukan adalah memperbaiki kesalahan berfikir kita, lalu mengeluarkan din dari tafsiran-tafsiran ulama' palsu, yang karena itu makna dari konsep-konsep kuncinya menjadi rancu, ya.. kita memerlukan membuang debu yang menempel dan menutupi kecantikan Islam sebagai Din ini...
Kisah sisipus yang dihukum oleh zeus untuk mendorong batu dari kaki bukit sampai ke puncak, lalu batu itu menggelinding ke bawah lagi, lalu didorong ke atas lagi berulang-ulang tanpa ujung, telah menjadi model barat dalam memandang kehidupan, Nietszhe dalam ungkapan berbeda menyebutkan bahwa dunia adalah lautan tanpa pantai dan kita ada diatasnya dengan sebuah perahu, kemanapun arah perahu ditujukan, hanya lautan yang ada, itulah hidup bagi barat, tragis... seluruh nilai tidak ada beda, baik dan buruk dihukumi sama, peradaban itu akhirnya berpuncak pada nihilisme... hati-hati dengan kerasukan cara pandangnya, ia akan pasti meremehkan ajaran agama
Kebahagiaan tidak pada kecantikan, kekayaan, kekuatan, kepadaian, tetapi ia ada pada cara bagaimana segala potensi yang diberikan itu digunakan, penggunaan yang menyaratkan pengetahuan, sebab jika digunakan tidak tepat ia berakibat kebalikanya, yakni derita atau saqawah. Kecantikan, kekayaan, kekuatan, yang tidak tepat cara penggunaanya hanya akan mendatangkan penderitaan. Mengetahui bagaimana potensi itu digunakan dengan tepat, disitulah letak kebahagiaan...
Jadi menurutmu, tahumu itu objektif, dan sebab objectif ia menjadi bebas nilai? pengetahuanku adalah apa yang ingin aku tahu, inginku adalah apa yang menjadi dorongan dan kecendrungan yang ada di dalam diriku, kecendrungan yang ada padaku adalah informasi-informasi dari tahu yang telah menjadi keyakinan, yang muncul karena pergaulan dengan bacaan, lingkungan dan kondisi masa, jadi jika akhirnya ia ku gunakan untuk membaca object yang baru lalu karenanya lahir pengetahuan baru, maka ia tidak bebas dari nilaiku yang telah menjadi kacamataku melihat sesuatu, jadi, jika pengetahuan itu dilahirkan oleh orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan, maka pasti ia dikandungi nilai-nilai atheis, dan bisa jadi tidak sesui dengan kehendak penciptaan...
pesan lewat pembacaan puisi, bahwa berbuat baik tidak perlu direlasikan dengan hasil akhir, proses menyempurnakan kebaikan lebih utama ketimbang memikirkan hasil, taburlah benih, itu saja tugas pembuat kebaikan, sebab menjadi pohon atau tidak benih itu, bukan menjadi urusanmu, apa yang bukan urusan kita biar yang punya urusan yang mengurusnya, adapun kita hanya melakukan yang menjadi urusan kita dan itu diperintahkan oleh pemilik kehidupan... selamat menikmati
Jangan merasa sebab tidak ada yang melihat lalu perbuatan bisa dilakukan semuanya, jangan merasa bahwa sebab keadilan tidak bisa ditegakan lalu kita bisa berbuat anianya, apa yang kau lakukan hari ini, tidak bisa dibela nanti oleh perkataan dusta dan argumentasi pikiran yang menyuruh lidahmu merangkai kata, sehingga keburukan tertutupi, sehingga kejahatan dikesankan sebagai kebaikan. Pada pengandilanNya, mulut terkunci lidah tak mampu menyusun kalimat, saat itu bumi bersaksi atas apa yang kau lakukan diatasnya, secara menyeluruh, tak ada jengkal kecuali engkau akan terdiam sebab kesaksianya tidak mampu kau bantah... berhati-hatilah dengan hari yang akan datang jika memang engkau orang yang berakal...
jika kita hendak mengkatagorikan perbuatan kita, perbuatan itu tidak akan lepas dari tiga macam, perbuatan yang bernilai pahala, perbuatan yang bernilai dosa, dan perbuatan yang tidak dinilai sebab ia hanya mubah saja. Jika anda cerdas, dan percaya bahwa perbuatan di dunia berakibat pada hasil di akherat, maka memperbanyak perbuatan yang buahnya pahala adalah satu-satunya pilihan, meskipun manusia akan sulit sekali menghindar dari perbuatan dosa, setindaknya ada bangunan kesadaran dalam diri kita, bahwa perbuatan haruslah yang bernilai pahala...
"Wa l tandzur nafsun ma qadamat lighad" adalah garis haluan hidup seorang muslim, bahwa aktivitas apapun yang dilakukan selama hidup adalah demi investasi kehidupan setelah hari kebangkitan kelak. karena itu, seorang muslim selalu memperbaiki niat setiap saat, jangan sampai segala apa yang dilakukan bukan sebagai amal untuk menanam kebaikan agar kelak setelah kehidupan berganti ia mendapatkan peluang untuk memanen buahnya... kebahagiaan abadi, kebahagian yang tidak diikuti oleh penderitaan selamanya
Eksistensi wujud di ukur dari fungsi utamanya, jika fungsi utama wujudnya tidak bisa dilakukan, ia akan mengambil fungsi yang lebih rendah darinya. sebab mengambil fungsi yang lebih rendah, maka ia sebenarnya tidak sedang mewujud dalam tugas dan fungsi utamanya, seperti pisau fungsi utamanya adalah untuk mengiris, kalau pisau itu tumpul, mungkin fungsinya berubah menjadi ganzal pintu. Kuda -dulu- fungsi utamanya adalah untuk kendaraan perang, namun jika ia tidak layak untuk digunakan dalam peperangan, maka fungsinya jadi jatuh menjadi seperti keledai yang hanya untuk mengangkut beban. Manusia fungsi utamanya adalah untuk ibadah kepada penciptanya, kalau ibadah tidak berfungsi pada dirinya, ia mengambil fungsi binatang sebagai bentuk mengeksistensinya.... wallahu a'lam
Imam al-Ghazali menjelaskan kebahagiaan pada manusia itu terletak pada materi penciptaanya. Setiap manusia memiliki ukuran kebahagaiaan yang berbeda tergantung dari bahan baku penciptaanya, kalau asal materinya sama dengan setan, maka kebahagiaanya terdapat pada perbuatan curang, menipu dan aniaya. Kalau materinya sama dengan binatang ternak (bahimah), maka kebahagiaan pada sandang pangan, materi dan kekayaan. Kalau asal materinya sama dengan binatang buas (siba') maka kebahagiaanya pada kekuasaan, kedudukan dan jabata. Namun kalau asal materinya sama dengan malaikat, maka kebahagiaanya pada mendapatkan pengetahuan dan ilmu, jika asalmu adalah malaikat, maka sesungguhnya manusia melampaui malaikat, sebab manusia memiliki iradah yang membuatnya harus berjuang untuk sampai level tersebut, dan jika dia berhasil, manusia itu akan melampaui malaikat dalam kemenanganya..
Ghaflah adalah kondisi terpaling dari focus yang telah ditetapkan sebelumnya. Ia lebih dari sekedar lupa, ia lupa sebab tertarik oleh yang datang kemudian sebagai penggodanya. Hidup focusnya adalah ibadah, lalu jika dalam perjalananya ia tidak lagi tertuju untuk ibadah, maka hal-hal yang memalingkan dari tujuan sesungguhnya itulah makna ghaflah.
"al-Nasihatu sahlun, wa al-Mushkilu qubuluha"
Nasehat itu mudah, menerimanya yang rumit
- Imam al-Ghazali-
Antum kalau cocok dengan saya syukur
kalau enggkak yo wis!
Jangan mudah-mudah ta’ajub pada siapa siapa
Jangan mudah-mudah minta dipuji atas prestasimu
Omong kosong!
Orang yang memujimu omong kosong!
karena kamu sebetulnya tau tentang kelebihan kekuranganmu
Betul? Jangan punya pikiran itu?
Maka orang mungkin jengkel dengan saya
Kok saya kok enggak ta’ajub gitu?
Buat apa ta’ajub, pada diri sendiri saja tidak ta’ajub
fahimtum?
-KH. Hasan Abdullah Sahal-
“Kalau perhatian kita hanya berkisar kepada apa dan berapa dan bagaimana mendapatkannya, maka derajat kita hanyalah sampah-sampah kehidupan, kata ahli hikmah, barang siapa yang perhatianya hanya yang masuk ke perutnya, derajatnya setinggi yang keluar daripadanya, maka hati-hati kepada oportunis-oportunis! yang hanya mementingkan urusan pribadi! interest-interest pribadi!”
-KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasy, M.A.-
“Tamāmu l-saʻādati mabniyun ʻalā tsalātsati asyyāʼin
Quwwatu l-ghadabi, Quwwatu l-Syahwati, Quwwatu l-“ilm”
-Abu Hamid al_Ghazali-























