Discover
Gibeon Church Surabaya
276 Episodes
Reverse
JARI SI PERAGU - (Keraguan Tomas, Kesetiaan Kristus)
'Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ”Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”'
Yohanes 20:27 TB
Ketika jari si peragu itu ditaruh di tangan dan lambung Yesus, hidupnya berubah. Kita sering mendengar bahwa janganlah seperti Tomas si peragu, yang meragukan kebangkitan Kristus dan menuntut tanda. Dan hal ini ditambah dengan Firman Tuhan di ayat 29 dalam Yohanes 20 yang berkata: “Berbahagilah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Padahal jika boleh jujur, berapa sering kita meragukan Tuhan, mempertanyakan sesuatu di dalam hidup kita dan seakan heran kenapa hal ini bisa terjadi di dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Apakah Tomas benar-benar tidak percaya? Apa yang melatarbelakangi Tomas, sehingga ia menuntut tanda? Apakah hari ini pun kita ada dalam posisi yang sama?
Lalu apakah respon Tuhan Yesus ketika tahu sikap Tomas akan kebangkitanNya? Dan apa yang bisa kita pelajari ketika kita juga sedang alami keraguan yang sama?
Teks: Markus 9:14-20
Hidup mengikut Yesus adalah sebuah perjalanan dari satu langkah iman kepada langkah iman selanjutnya. Iman yang sering bercampur dengan keraguan dan kerapuhan, sulit untuk terus percaya karena betapa berat beban yang menekan. Justru di saat itu datanglah kepada Yesus, Sang Pencipta dan Penyempurna Iman, berserulah “Tolong aku yang tidak percaya ini !”. Sambil mengacungkan tangan, katakan, “O Juruselamat, pegang tanganku!”. Percayalah tangan-Nya yang sudah terpaku di kayu salib untuk menyelamatkanmu, akan menggandeng erat tanganmu selamanya. Perjalanan iman itu ternyata adalah sebuah seni bergandengan tangan dengan Yesus.
Saat ini, tidak sedikit orang mengalami kekecewaan dalam hidupnya. Termasuk juga kecewa pada Tuhan. Apa yang selama ini ia pikirkan tentang Tuhan rupanya berbeda dengan Tuhan itu sendiri. Ini kemudian berlanjut pada munculnya keraguan, relasi jadi renggang dan pemberontakan terbuka.
Jika ini dibiarkan makin surut dan suntuklah hidup ini karena tekanan dan penderitaan batin bisa makin merajalela.
Memang patut diakui hidup bisa kelihatan buram, nah apa yang perlu kita lakukan untuk membebaskan kita dari tipu muslihat Iblis, hasutan dunia dan tarikan nafsu yang menghanguskan.
Mari buat 1 langkah iman yang berani! Tinggalkan kedangkalan dan masuklah pada kedalaman firmanNya!
Seri ini dimulai dengan kisah keraguan iman dari Yohanes Pembaptis dimana dia bukanlah tokoh sembarangan. Bahkan, Yesus memuji dia sebagai yang terbesar dibandingkan semua orang yang dilahirkan sebelumnya. Akan tetapi, dalam kisah ini Yohanes pun dilanda keraguan iman yang berat terhadap Yesus sampai dia mempertanyakan apakah Yesus adalah Sang Mesias yang sejati.
Di satu sisi, kisah ini melegakan kita karena bila orang percaya sekaliber Yohanes bisa mengalami keraguan iman. Secara paradoksikal, keraguan iman merupakan tanda dari keseriusan kita mengikuti, mengasihi, dan mempercayai Allah. Keraguan iman bukanlah musuh iman. Keraguan iman adalah bagian dari dinamika iman yang menggeliat untuk bertumbuh dan dapat dipakai Allah sebagai sarana untuk mendewasakan iman kita.
Bagaimana bisa Yohanes yang awalnya begitu meyakini Yesus sebagai Sang Mesias bisa mengalami episode keraguan iman? Apakah karena penderitaan Yohanes dalam penjara yang menyebabkan keraguan imannya? Bagaimana Firman Tuhan menyingkapkan penyebab sebenarnya dari keraguan iman Yohanes dan dan bagaimana mengantisipasi serta mengatasi keraguan iman yang serupa dalam diri kita?
Kita akan membahas lanjutan dari minggu lalu yaitu eksposisi kitab Roma pasal 10 yang adalah kebalikan dari sisi Roma pasal 9. Fokus dari Roma 9 adalah pada kedaulatan Allah dalam Anugerah-Nya untuk menyelamatkan kita. Sedangkan Fokus dari Roma pasal 10 adalah pada tanggung jawab manusia di dalam Injil.
.
Nah Apa yang menjadi tanggung jawab kita? Bagaimana kebenaran Injil ini berpengaruh dalam hidup kita sehari-hari?
Minggu ini kita akan membahas eksposisi kitab Roma pasal 10 yang adalah kebalikan dari sisi Roma pasal 9. Fokus dari Roma 9 adalah pada kedaulatan Allah dalam Anugerah-Nya untuk menyelamatkan kita. Sedangkan Fokus dari Roma pasal 10 adalah pada mekanisme peranan kita di dalamnya.
.
Yang menarik, Alkitab menjelaskan bahwa kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia dipresentasikan sebagai paradoks—yang artinya, di permukaan, sesuatu mungkin bisa tampak kontradiktif, tetapi kenyataannya sama sekali tidak. Nah Apa yang menjadi tanggung jawab kita? Bagaimana kebenaran Injil ini berpengaruh dalam hidup kita sehari-hari?
Ada banyak perdebatan teologis yang terjadi terutama di pasal 9 dari kitab Roma. Minggu ini kita tidak akan membahas hal-hal yang diperdebatkan, tetapi lebih berfokus kepada hal-hal yang disepakati yaitu pesan utama yang terkandung dalam Roma 9 yang adalah tentang KEDAULATAN ANUGERAH TUHAN.
.
Seperti yang di jelaskan di minggu-minggu sebelumnya ada dua jenis orang Kristen di Roma: orang Kristen Yahudi dan orang Kristen non-Yahudi. Orang-orang Kristen Yahudi menganggap diri mereka lebih tinggi karena mereka memiliki Hukum, janji, perjanjian, dan garis keturunan manusia Kristus. Orang-orang Kristen non-Yahudi menganggap diri mereka lebih unggul karena sebagian besar orang Yahudi menolak Kristus dan sebagian besar orang percaya di Roma adalah orang-orang bukan Yahudi.
.
Paulus menulis untuk mengatasi perpecahan ini dengan berbicara tentang bagaimana Allah menyelesaikan kehendak-Nya yang berdaulat baik melalui orang Yahudi maupun bukan Yahudi.
.
Lantas apa implikasi dari kebenaran ini terhadapi iman kita dan bagi kita yang saat ini sedang menghadapi pergumulan hidup di masa pandemi ini? Apa aplikasi Injil-Nya?
Kata "Percaya Diri" kerap kali digunakan dan dikaitkan dengan kunci motivasi utk keberhasilan, tetapi taukah kita bahwa percaya diri bukanlah konsep yang alkitbiah karena problem manusia yang terbesar sebenarnya bukan ada di luar dirinya tetapi adalah dirinya sendiri yang berdosa. Lantas bagaimana yang benar? Minggu ini kita akan meneruskan eksposisi kitab Roma pasal 3. Orang Kristen pada umumnya tahu bahwa kita diselamatkan karena Kasih Karunia Oleh Iman tetapi pertanyaannya, bagaimana mekanismenya? Apakah kita kembali kepada kepercayaan pada kemampuan kita dalam hidup kita sehari-hari? Bagaimana saat kita gagal dalam kekudusan kita? Bagaimana saat kita berhasil? Apa yang ada di benak kita? Bagaimana kacamata Injilnya? untuk terus mengkalibrasi hati kita sehingga kita bisa hidup dalam "Rest" tetapi tidak malas, hidup tidak kuatir tetapi tidak pasif, Kerja Keras tapi bukan karena ambisi yang fana?
Mengapa Orang yang bermoral dan kelihatan baik belum tentu selamat? Karena moralitas tidak bisa mencegah hati manusia untuk berdosa. Agama dan daftar peraturan-peraturannya tidak memiliki kekuatan dan jawaban untuk menghilangkan kecenderungan hati yang serakah, sombong, iri, egois dan penuh dengan hawa nafsu. Malah sebaliknya moralitas dan keagamawian membuahkan kemunafikan dan kesombongan rohani yang sebenarnya adalah penghujatan (Blasphemy) terhadap Allah yang maha Kudus dan tak bercela. Episode kali ini kita akan melihat Roma 2:17-29 di mana Rasul Paulus menegur pola pikir orang Yahudi bahwa bukanlah praktek lahiriah atau yang terlihat orang yang menyelamatkan seseorang & menempatkan mereka pada posisi yang benar di hadapan Tuhan, tetapi ini adalah masalah hati yang diubah oleh Roh Kudus. Bagaimana kebenaran Injilnya?
Dalam perikop ini, Paulus sedang berbicara kepada dua kelompok orang — orang bukan Yahudi dan orang Yahudi. Yang pertama adalah sekelompok orang berdosa yang terang-terangan terus melakukan kejahatan bahkan ketika mereka tahu perintah Tuhan. Yang kedua adalah sekelompok orang Yahudi yang merasa benar sendiri yang menghakimi orang lain yang berbuat dosa, namun mereka sendiri sebenarnya diam-diam melakukan hal yang sama. Kedua kelompok ini juga bisa ditemukan di dalam kehidupan zaman modern dan banyak dari mereka berpikir bahwa mereka bisa lolos dari penghakiman Tuhan. Kebenarannya adalah tidak ada yang bisa lolos dari penghakiman Tuhan. Tetapi Meskipun demikian, melalui Injil, Allah memberikan kebenaran melalui Kasih Karunia Kristus kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Apa artinya ketika kita mengatakan bahwa Tuhan adalah hakim? Bagaimana implikasinya saat kita mengetahui bahwa kita tidak dapat lolos dari penghakiman Tuhan yang maha adil dan bagaimana aplikasi kebenaran Injilnya bagi kita yang percaya kepada-Nya?
Tema - tema penginjilan gereja modern yang kontemporer dengan sengaja menghindari tema MURKA ALLAH. Kita selalu berbicara tentang KASIH Tuhan, dan kita membicarakan hidup yang penuh kebahagiaan, damai sejahtera dan menyampaikan message mengenai hidup yang berkelimpahan, dan tentang pengampunan atau hidup yang penuh sukacita. Gereja dan kebanyakan pendeta mengkotbahkannya dan menawarkan semua hal itu, tapi jujur kita para hamba Tuhan sangat jarang berbicara tentang penghakiman Tuhan, murka Tuhan. Tahukah anda bahwa Pesan Injil dimulai dengan pernyataan tentang murka Allah.
.
Mengapa Rasul Pulus memulainya dengan pernyataan Murka Allah? Bagaimana ini semua berkaitan dengan hidup kita saat ini?
Banyak orang berpikir bahwa Injil adalah kotbah yg di kotbahkan waktu KKR2 saja, atau banyak juga yang berpikir Injil adalah hal yang perlu di ketahui sebagai langkah awal saja untuk seseorang diselamatkan, sehingga setelah dia diselamatkan maka, sekarang sudah waktunya untuk orang itu belajar hal-hal lain yang ada di Alkitab. Pendeknya kita berpikir INJIL or THE GOSPEL adalah ABC dari kekristenan (permulaan saja) kemudian ada hal-hal yang lain yaitu DEFGHIJKLMNOP dst yang menjadi inti dan esensi Kekristenan. Apakah begitu? Bagaimana kebenarannya? Temukan jawabannya minggu ini, kita akan meneruskan eksposisi kitab Roma bersama dengan Rev. Michael Chrisdion di dalam kotbah berseri "The Gospel -
Banyak orang Kristen berpikir mereka mengerti apa itu injil. Tetapi pada kenyataan yang saya temui, ada banyak kebingungan dan kerancuan pemahaman kebanyakan orang tentang Injil, Injil itu bukan semata-mata kitabnya, Injil bukan hanya awal dari ajaran kekristenan kemudian kita beralih kepada ajaran-ajaran lain yang lebih dalam, Injil juga bukan hanya konsep dan doktrin dasar belaka. Lalu apakah esensi Injil? What is the Gospel
Seringkali kita mengira masalah hidup rohani ada pada kurangnya disiplin atau aturan. Padahal, Alkitab menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: hati kita sendiri.Sejak kejadian 3, manusia tahu apa yang benar, tetapi tetap memilih yang lain. Bukan karena tidak mengerti, melainkan karena arah hati yang telah bergeser.Disinilah kisah kejatuhan manusia menjadi kisah kita hari ini.Minggu ini kita akan kembali membuka Kejadian 3, untuk melihat bagaimana pilihan-pilihan kita menyingkapkan hati kita dan bagaimana Injil menawarkan pemulihan yang tidak mampu kita hasilkan sendiri.JOIN US THIS WEEKPILIHANMU MENYINGKAPKAN HATIMU[Kisah Kejatuhan Manusia Dalam Dosa]Reading the Times thru the Lens of Genesis
Kalau kamu lelah dengan relasi, takut menikah, sedang menikah tapi capek secara emosional atau ingin melihat cinta dari perspektif InjilKotbah minggu ini buat kamu !“Aku cuma mau dicintai.”Tapi tanpa sadar, kita sering menuntut pasangan melakukan apa yang hanya Tuhan bisa lakukan.Di dunia yang retak, relasi sering berubah jadi tempat luka.Bukan karena cinta itu salah.Tapi karena desainnya diabaikan.Minggu ini kita akan kembali ke awal cerita:Pernikahan pertama dalam Alkitab —dan bagaimana di baliknya tersimpan kisah penebusan yang jauh lebih besar.📖 The Design of MarriagePernikahan Pertama & Kisah PenebusanGenesis 2:18–25
Kalau kamu capek tapi masih harus “kelihatan kuat”…this sermon is for you.Awal tahun sering terasa seperti lomba baru.Target baru. Tekanan baru. Ambisi baru.Tapi izinkan jujur:berapa banyak dari kita yang bekerja…bukan karena cinta pada panggilan,tapi karena takut tidak dianggap?Injil datang bukan untuk membuat kita malas.Tapi untuk membebaskan kerja kita dari beban identitas palsu.Minggu ini kita belajar:bagaimana Kejadian 2 menolong kita melihat ulang pekerjaan,karier, dan panggilan hidup.Kejadian 2:2–17
Kita hidup di dunia yang terus bertanya:“Seberapa berguna kamu?”“Seberapa sukses kamu?”“Seberapa kuat kamu?”Tapi Kejadian 1 bertanya sesuatu yang lebih dalam:Siapakah manusia di hadapan Allah?Kalau nilai hidup kita tidak ditentukan oleh prestasi, status, atau kapasitas—lalu dari mana nilai hidup kita berasal?Minggu ini kita akan melihat kembali sebuah kebenaran yang hampir hilang:IMAGO DEI — manusia diciptakan menurut gambar Allah.Temukan jawabannya minggu ini and Join us!karena jawaban ini bukan sekadar teologi,namun tentang identitas, martabat, dan hidupmu sendiri.
Di tengah dunia yang terasa rusak, melelahkan, dan penuh ketegangan, kita sering bertanya: Bagaimana seharusnya kita memandang hidup dan dunia ini?Kejadian 1 mengajak kita kembali ke fondasi paling awal, bukan untuk memperdebatkan sains atau kronologi, tetapi untuk membentuk cara pandang kita terhadap kehidupan. Melalui kisah penciptaan, Alkitab menyatakan bahwa dunia ini diciptakan dengan baik, namun tidak untuk disembah; berharga, namun terbatas; rusak, namun tetap layak diperjuangkan.Dalam kotbah ini, kita belajar melihat kehidupan dari lensa Kejadian 1:bagaimana Injil menolong kita menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya, menghadapi kehilangan tanpa hancur, memperlakukan sesama dengan kerendahan hati, dan tetap peduli pada dunia yang Allah kasihi.Pada akhirnya, Kejadian 1 tidak hanya berbicara tentang awal dunia, tetapi menunjuk kepada Injil. Tentang Firman yang mencipta, Firman yang menjadi manusia, dan Firman yang mencipta ulang hidup kita di dalam Kristus. Melalui lensa ini, kita diajak membaca zaman dan menjalani kehidupan dengan pengharapan yang teguh.
Bagaimana jika hadiah terbesar dari Tuhanbukan sekadar menenangkan hatimu,tetapi membawamu pada hidup yang lebih utuh?Maria tidak sedang mencari perubahan besar.Namun Allah datang tanpa diundang,dan justru di tengah kebingungannyaMaria menemukan anugerah yang besar.Natal bukan tentang kehilangan kendali,tetapi tentang menemukan tangan yang layak dipercayauntuk memegang hidup kita.Jika Allah benar-benar datang mendekat,apa artinya hidup bersama Dia hari ini?
Kita hidup di dunia yang mengajarkan satu hal sejak kecil:jadilah seseorang, baru kamu berarti.Maka kita berlari…mengejar prestasi, pengakuan, pencapaian,bahkan pelayanan…sering kali bukan karena sukacita,tapi karena takut tidak cukup.Natal datang dengan pertanyaan yang tidak nyaman:identitas kita dibentuk oleh apa?Ambisi yang harus terus dibuktikan,atau anugerah yang sudah lebih dulu diberikan?Dalam seri Silsilah Anugerah dalam Kelahiran Kristus,kita sampai pada puncaknya:Yesus tidak datang untuk orang yang sudah “jadi”,tetapi untuk hati yang lelah membuktikan diri.Mungkin masalah terbesar kita bukan kurang iman,tapi salah sumber identitas.Minggu ini, mari kita berhenti sejenak…dan mendengar kabar baik itu bersama.























