Discover
MDC Surabaya
398 Episodes
Reverse
Melalui Kolose 1:15-20, kita belajar bahwa Kristus adalah Sumber (Pencipta), Penopang (Pemelihara), dan juga Tujuan (Penebus) dari seluruh realitas alam semesta. Karena itu apa saja yang berada di luar Kristus, termasuk rasa aman manusia, adalah bentuk penyembahan berhala bila diletakkan di luar Dia.Marilah percaya dan menyerahkan hidup kita seutuhnya pada Dia. Jadikan Dia sebagai yang utama dan segala-galanya, di hidup kita. —Pdt. Markus Simanjuntak, “Kristus, Pusat yang Menopang Segalanya.” Dibagikan di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 18 Januari 2026.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Pdt. Elsypurnama Adisuputra - El Shaddai.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Pdt. Betuel Himawan - Tiga Doa di Tahun Baru.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Pdt. Budi Setiawan - Menutup Dengan Syukur, Melangkah Dengan Iman.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Bpk. Soetjipto Koesno - Takut akan Tuhan.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh drg. Kamaludin Sutedjo - Adventus.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh ibu Cindy Wijaya - Be Fruitful and Multiply
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Pdt. Betuel Himawan - Ketaatan sang Raja.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Pdt. Elsypurnama Adisuputra - Hidup Yang Dipersembahkan.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Pdt. Agus Lianto - Hidup Dalam Ketulusan.
Khotbah MDC Surabaya satelit Ciputra World, oleh Pdt. Betuel Himawan - Seperti untuk Tuhan.
Keperkasaan Allah dalam Kemanusiaan Kristus ditujukan pada Yesus dalam status sebagai manusia. Dinyatakan melalui kasih, ketaatan, dan juga kelemahlembutan. Diwujudkan dalam kekuatan untuk menanggung segala sesuatu dengan sabar dan bertekun. Keperkasaan Allah Menghancurkan Kuasa Dosa dan Maut dinyatakan oleh kematian Kristus sebagai manusia. Setelah hancurnya kuasa perbudakan dosa dan maut, jangan menyerahkan kembali tubuh kita pada perhambaan dosa, tetapi gunakanlah untuk senjata kebenaran Allah.Kuasa-Nya Sempurna dalam Kelemahan Kita, merupakan sarana bagi kita untuk menerima anugerah dan kuasa Allah. Seorang yang perkasa di dalam iman akan dikenal karena kerapuhan dan kelembutannya, bukan dari superioritas atau sikap menguasai orang lain.—Pdt. Agus Lianto, “Keperkasaan-Nya dalam Kita.” Dibagikan di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 11 Januari 2026.
Mengapa memenangkan peperangan di dalam pikiran merupakan hal yang sangat penting?Karena kualitas dari apa yang kita pikirkan nantinya akan menentukan bagaimana kualitas dari hidup kita. Selain itu kita juga tidak akan dapat memiliki dan menjalani kehidupan positif, bila apa yang ada di dalam pikiran kita selama ini isinya negatif. Setiap pergumulan yang sedang dihadapi, setting / pengaturannya itu bermula dari dalam pikiran kita masing-masing.Bagaimana kita dapat menang?Pikiran kita harus diprogram dan dikalibrasi ulang sesuai kebenaran firman-Nya, lawanlah setiap pikiran negatif, memilih untuk berpikir yang baik (Filipi 4:8), jagalah hati dan pikiran kita. Kemenangan di dalam pikiran kita, akan membawa kemenangan di dalam hidup kita. —Pdt. Andreas Rahardjo, “Memenangkan Peperangan di dalam Pikiran.” Dibagikan di Ibadah Minggu MDC Graha Pemulihan, Tgl. 4 Januari 2026.
Dalam menyongsong tahun 2026, marilah kita mempersiapkannya dengan,“Keyakinan Iman, Kerendahan Hati, Ketaatan, Ketekunan, dan juga Memiliki Kasih.”“Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.” (Yesaya 50:7).—Pdt. Andreas Rahardjo, “Berlari dengan Tekun.” Dibagikan di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 28 Desember 2025.
Melalui perjumpaan malaikat pada Maria, Yusuf, para gembala, dan juga kehadiran mereka di kandang Betlehem kita dapat belajar,Ketaatan tidak selalu terasa nyaman, penggenapan janji Allah sering kali datang melalui jalan yang tidak mau kita pilih, dan kemuliaan Allah tidak selalu tampil dalam bentuk yang kita bayangkan sebelumnya.Kita bisa memegang teguh setiap janji-Nya yang pasti akan digenapi, walau kapan waktu-Nya kita tidak mengetahuinya. Saat kita dapat mempercayai kesetiaan-Nya di hidup ini, di sanalah iman berhenti menjadi teori, dan bertumbuh menjadi relasi yang yang menenangkan, percaya, dan juga taat.—dr. Paulus Rahardjo, “Seandainya Saya Menjadi Malaikat Natal.” Dibagikan di Ibadah Minggu MDC Graha Pemulihan, Tgl. 21 Desember 2025.
Janji yang Ditepati berbicara tentang,Pertama. Rencana Abadi yakni kelahiran Yesus yang telah direncanakan dan dijanjikan sejak awal sejarah. Ribuan tahun telah berlalu, tetapi Allah tidak pernah mengubah rencana-Nya.Kedua. Waktu yang Tepat. Untuk menggenapi janji-Nya, Dia memiliki jadwal dan waktu-Nya sendiri yang tidak terpahami dan pasti ditepati pada waktu-Nya. Penantian yang tekun akan menyempurnakan karakter kita. Ketiga. Janji Yesus Sang Juruselamat yang sudah datang ke dalam dunia. Diselamatkan dari dosa berbicara tentang dilepaskan dari ikatan dosa, bebas untuk menjadi dan melakukan terbaik.. adalah realita yang harus dialami saat ini. Keempat. Memerintah Kerajaan Kekal. Diselamatkan berbicara tentang dipindahkan dari kerajaan gelap pada Kerajaan Allah yang tak berkesudahan. Yesus akan memerintah secara kekal, bersama semua pengikut-Nya. —Pdt. Agus Lianto, “Janji yang Ditepati” di Ibadah Minggu MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 14 Desember 2025.
Bagaimana caranya agar kita dapat menjadi Saksi Kristus dari Kehidupan yang Berbuah, untuk dapat memperlebar pekerjaan-Nya? Yakni dengan mengizinkan Roh Kudus untuk,Pertama. Menerangi mata, hati, dan pikiran sehingga kita dapat mengerti kehendak Tuhan. Kedua. Mengubah hidup agar kita dapat menghasilkan buah nyata, yang manisnya dapat dinikmati banyak orang. Ketiga. Memberi kekuatan agar kita dapat bertekun di dalam segala situasi kehidupan, sehingga kita tetap setia bersaksi. Keempat. Menyalakan api keberanian, sehingga kita berani untuk dapat memberitakan Injil Kristus. Setiap tantangan yang diizinkan terjadi merupakan kesempatan bagi Tuhan untuk bekerja dan agar kita nantinya dapat bercerita mengenai Injil Kristus dan kebesaran-Nya, serta semua hal yang sudah Dia perbuat dalam hidup kita.—Pdt. Elsypurnama Adisuputra, “Menjadi Saksi Kristus dari Kehidupan yang Berbuah”, di Ibadah Minggu MDC Graha Pemulihan, Tgl. 30 November 2025.
Paradoks di dalam Alkitab yang dapat menjadi prinsip hidup dalam Kerajaan Allah adalah,Pertama. Untuk hidup kita harus mati, yang berbicara tentang bertobat dan meninggalkan kehidupan lama untuk beralih menjadi ciptaan baru, yang mau hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kedua. Ketika kita lemah justru kita kuat yang berbicara tentang meluluhkan ego, meningkatkan kebergantungan kita pada Dia, serta nantinya membuka lebar pintu kuasa-Nya untuk dinyatakan di dalam hidup kita. Ketiga. Memberi lebih membahagiakan daripada menerima. Keempat. Untuk menjadi besar harus menjadi pelayan, hiduplah rendah hati. Kelima. Orang miskin di hadapan Allah memiliki Kerajaan Surga, milikilah sikap selalu membutuhkan Dia, apa pun keadaan yang sedang kita alami. Kristus menjadi lemah untuk menguatkan kita, mati agar kita hidup, memberi diri-Nya agar kita dapat menjadi kaya di dalam kasih, serta rela menjadi Hamba untuk menyelamatkan kita. —Pdt. Andreas Rahardjo, “Paradoks dalam Alkitab” di Ibadah Minggu MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 7 Desember 2025.
Karena kasih-Nya, Tuhan memberikan firman-Nya untuk membimbing kita di dalam hidup ini. Tetapi bila tidak menyetel hidup kita ke dalam “God’s Love Frequency,” maka kita tidak akan dapat mendengar suara-Nya dengan jelas. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Kasih mengungkapkan dirinya melalui ketaatan dan kepatuhan kita terhadap firman Tuhan, yang semuanya berbicara mengenai Kasih. —Cindy Wijaya, God’s Love Frequency, dari Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 23 November 2025. #SundayService #IbadahMinggu #MovingTogether #thePowerofHolySpirit #Covenant #HidupyangBerkenan #FruitfulLife #MDCSurabayaChurch
Hari-hari ini dunia lebih memandang tinggi sifat rebel / memberontak daripada ketaatan / obedience. Tetapi kita dapat belajar dari sikap Naaman mengenai Ketaatan ini,1. Ketaatan pada Tuhan dimulai dengan iman, bukan dengan pengertian kita manusia yang terbatas. 2. Ketaatan mengubah apa yang berada di dalam diri kita terlebih dahulu, yakni hati kita, sebelum mengubah keadaan yang ada di luar kita.3. Ketaatan membuka jalan untuk pemeliharaan dan kuasa Tuhan di dalam hidup kita.Taat pada Tuhan bukan hanya sekadar apa yang dilakukan itu nantinya akan mendapat berkat, mengalami mukjizat kesembuhan, keluarga yang dipulihkan Tuhan, dan banyak hal baik lainnya dari Dia.. tetapi lebih kepada relasi kita dengan Bapa yang ada di Surga, yang dipulihkan.—Bp. Soetjipto Koesno, Obedience, dari Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 16 November 2025.










