Discover
Pinter Politik
520 Episodes
Reverse
Kursi menteri di Indonesia tampaknya bukan sekadar soal kompetensi. Di baliknya ada negosiasi panjang antara negara, partai, dan kekuatan sosial seperti PKB, Golkar, NU, hingga Muhammadiyah. Inilah rahasia “jatah kursi abadi” yang jarang dibicarakan publik.
Sir David Beckham resmi jadi “Sir” dari Raja Charles III. Apa yang sebenarnya bisa dipelajari Indonesia, khususnya Danantara, dari kisah Beckham?
Viral Kezia Syifa di US Army National Guard memantik debat nasionalisme, kewarganegaraan, dan diaspora. Dari sejarah TNI hingga wacana dua kewarganegaraan, tajuk nasionalisme baru dan peluang reverse brain drain bagi Indonesia di era global kiranya terbuka.
Perseteruan PSI dan PDIP bukan sekadar adu strategi partai, melainkan pertarungan simbolik antara generasi politik baru dan warisan lama. Gajah muda menantang banteng sepuh di gelanggang kekuasaan Jokowi–Megawati, memperebutkan bukan kursi, tapi legitimasi moral dan arah masa depan politik Indonesia.
Saat PBB makin buntu, dunia melirik forum baru bernama Board of Peace. Apakah ini awal tatanan perdamaian global baru?
Putusan Mahkamah Konstitusi No. 90/2023 yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden menjadi monumen dari kondisi Kafkaesque hukum Indonesia. Ini bukan sekadar soal satu orang menjadi Wapres, melainkan tentang “Normalisasi Manipulasi”—sebuah trauma konstitusional yang akan membekas selama berpuluh-puluh tahun.
Belakangan muncul rumor bahwa Tiongkok menyimpan pasokan emas yang jauh lebih banyak dari data resminya. Mungkinkah ini dibuktikan?
Dalam lanskap politik ekonomi Indonesia kontemporer, muncul fenomena menarik yang layak dicermati: bagaimana Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggunakan pendekatan psikologis dalam menggerakkan roda ekonomi. Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan bukan sekadar angka ambisius di atas kertas, melainkan instrumen strategis untuk membentuk persepsi dan kepercayaan pasar. Ini adalah penerapan konsep “animal spirits” yang dipopulerkan ekonom legendaris John Maynard Keynes, di mana optimisme dan kepercayaan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi—bahkan terkadang melampaui perhitungan rasional semata.
Hampir setahun setelah Pilkada 2024, empat kepala daerah menonjol di panggung nasional. Siapa di antara mereka yang siap menuju Jakarta 2029?
Kontroversi pernyataan Purbaya soal rupiah bukan sekadar ucap koboy. Ia hadir di tengah kelelahan publik, stagnasi moneter BI, dan agenda pergantian gubernur. Munculnya Thomas Djiwandono membuka dugaan desain koordinasi baru fiskal–moneter yang bisa mengakhiri era kehati-hatian berlebih di balik transisi kepemimpinan Bank Indonesia ke depan.
Cuitan SBY soal kiamat 5 miliar manusia gemparkan publik. Benarkah ini sinyal SBY bertransformasi jadi sosok ‘Uncle Iroh’ di dunia nyata?
Delapan dekade Indonesia merdeka, namun kemerdekaan dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar seperti air minum masih menjadi pertanyaan besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mengungkapkan fakta yang mengejutkan: 40% masyarakat Indonesia masih bergantung pada air galon atau air minum dalam kemasan (AMDK) untuk memenuhi kebutuhan minum sehari-hari. Fenomena ini bukan sekadar pilihan konsumen, melainkan cerminan absennya negara dalam menjamin hak dasar warga negaranya. Ketika akses terhadap air minum harus dibeli dengan harga yang tidak murah, pertanyaan mendasar muncul: apakah kita benar-benar sudah merdeka dalam urusan air minum?
Di bawah kepemimpinan Amran Sulaiman, pertanian Indonesia seolah kembali berdenyut dan menemukan harapan. Dari sawah hingga sistem digital, “padi berbisik” menjadi metafora kebangkitan agraria modern—sebuah kisah tentang teknokrat, kapital, dan tanah yang berbicara, menakar apakah legenda itu akan abadi atau sekadar gema sesaat
Istilah “Zeitenwende” pertama kali diucapkan Kanselir Jerman Olaf Scholz pada Februari 2022, tiga hari setelah Rusia menginvasi Ukraina. Kata Jerman yang berarti “titik balik era” ini menandai perubahan radikal kebijakan pertahanan Berlin: dari pasifisme pascaperang menjadi kekuatan militer yang siap bertindak. Akankah ini juga terjadi di Greenland?
Ia tak berdiri di podium, tapi di balik desain kekuasaan. Isu rotasi Thomas Djiwandono ke Bank Indonesia membuka bab baru: arsitek senyap, tameng teknokratik, dan King’s Hand Presiden Prabowo di jantung fiskal–moneter negara.
Projo, relawan yang dulu menjadi simbol militansi Jokowi, kini mengesankan bahwa mereka seolah menghadapi ujian identitas saat menghilangkan siluet Jokowi dari panjinya. Loyalitas, strategi, atau oportunisme? Fenomena ini agaknya membuka tabir problematik relawan dalam politik kekuasaan Indonesia.
Diskursus tentang otonomi strategis Eropa kembali mengemuka. Mungkinkah Benua Biru menyimpan ‘senjata rahasia’?
Dalam konteks politik, seorang putra atau putri mahkota adalah potensi kepemimpinan. Mereka memiliki nama besar, akses ke jaringan kekuasaan, dan legitimasi darah atau ideologi. Namun, mereka tetaplah potensial—hanya bayangan dari pendahulu mereka. Menarik untuk melihatnya dalam kontras perbandingan kisah AHY dan Puan Maharani.
Di balik pemilu, jabatan formal dan tabu dalam konteks tertentu, kekuasaan Indonesia kiranya bekerja melalui “kasta” simbolik. Akumulasi modal, loyalitas, dan figur leadership tampak membentuk hierarki politik baru—efisien, solid, namun menyimpan risiko eksklusivitas dan tantangan demokrasi ke depan bagi elite konstituen, stabilitas nasional, dan masa depan republik.
Kalimantan bukan hanya tentang IKN atau hutan tropis—pulau ini menyimpan sumber daya strategis yang bisa jadi kunci masa depan ekonomi dan pertahanan Indonesia.























