DiscoverPinter Politik
Pinter Politik
Claim Ownership

Pinter Politik

Author: Pinter Politik

Subscribed: 133Played: 2,385
Share

Description

JAGA NEGERI. Pinter Politik adalah Suara Politik Milenial Indonesia, yang akan membicarakan seputar politik terkini dengan pembawaan yang santai.
601 Episodes
Reverse
KATA PEMRED #11PinterPolitik.comAda sebuah kecemasan yang purba dalam angka. Ketika sejumlah analis dan komentator ekonomi mendedahkan kemungkinan Rupiah menyentuh Rp20.000 per Dolar AS, mereka sebenarnya tidak sedang menyodorkan sebuah kalkulasi semata. Mereka sedang melukis sebuah memento mori bagi ekonomi kita. Di balik deretan data itu, ada sebuah drama yang sedang dipentaskan: sebuah narasi tentang kerapuhan, tentang hantu geopolitik yang bangkit, dan tentang kita—sebuah bangsa yang seolah-olah ditakdirkan untuk senantiasa cemas di hadapan hijau lembaran Dolar.
Skytrax turunkan peringkat Garuda Indonesia dari bintang 5 ke 4. Rugi bersih 2025 melonjak 4,5 kali lipat jadi Rp5,4 triliun. Penumpang turun 10,5 persen. Dari ratusan pesawat, hanya 60-an yang bisa terbang. Maka wajar, wacana pembubaran sempat bergulir di DPR tahun lalu. Pertanyaannya: haruskah dilakukan?
In MemoriamMichael Bambang Hartono“Beliau datang bukan untuk menjajah identitas kami dengan uang, melainkan untuk membelai sejarah kami dengan hormat. Di Como, ia bukan lagi seorang taipan; ia adalah napas yang menghidupkan kembali harapan yang nyaris mati.”
Program MBG bukan hanya soal memberi makan. Ia adalah lingkaran besar pembangunan ekonomi — dari 30 ribu dapur SPPG, dana Rp 10.000 per porsi berputar langsung di level kecamatan, diserap petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal. Ini bukan trickle-down — ini investasi dari bawah yang mengalir ke atas.
Di sebuah panggung yang remang, seorang komedian berdiri tegak. Ia tidak sedang melempar tawa—tidak pula merajut punchline yang meledakkan suasana. Kali ini, ia membawa surat terbuka. Pandji Pragiwaksono, dengan keberanian yang patut kita hormati, mengetuk pintu istana melalui medium digital yang riuh. Ia bicara tentang Andrie Yunus, tentang wajah yang melepuh disiram air keras, dan sebuah perumpamaan yang begitu getir: air susu dibalas air tuba.Ada keindahan dalam keberanian Pandji. Kita harus mengakuinya—sebagai bagian dari kesehatan demokrasi yang masih berdenyut. Namun, dalam labirin politik—sebagaimana dalam sastra yang bermutu—metafora sering kali menjadi tirai sutra yang menyembunyikan realitas yang lebih dingin, lebih purba, dan jauh lebih kompleks dari sekadar soal budi yang tak terbalas.
Di tengah polarisasi sosial-politik, Didit Hediprasetyo hadir sebagai simpul sunyi yang menjembatani elite lintas kubu. Tanpa jabatan formal, ia memainkan diplomasi personal berbasis trust dan simbol.
KATA PEMRED #8PinterPolitik.comAda nestapa yang jujur dalam esai Bapak Laksamana Sukardi. Tentang seorang aktivis muda yang wajahnya hancur disiram air keras. Tentang kekerasan yang menyerang bukan hanya tubuh, melainkan hak untuk bicara. Siapa pun yang membacanya dengan hati terbuka tak akan mampu menahan getaran itu.Namun, sastra — dan juga politik — mengajarkan kita bahwa nestapa yang jujur pun bisa dimanfaatkan. Bahwa luka orang lain kadang menjadi cermin yang kita poles untuk membuat diri sendiri tampak lebih bersih. Dan di sinilah, dengan hormat yang tulus kepada seorang senior bangsa, saya merasa perlu berbicara.
Tulisan Ray Dalio soal “pertempuran akhir” di Selat Hormuz bukan sekadar analisis pasar, melainkan soal apakah tatanan dunia AS akan bertahan atau runtuh.
Selat Hormuz tidak hanya bisa membawa malapetaka energi, tapi juga “kiamat data”. Apakah teknologi telah melahirkan keseimbangan kekuatan yang baru?
KATA PEMRED #7PinterPolitik.comSejarah tidak mencatat semua luka. Tapi ia tidak pernah benar-benar melupakannya
Kepemimpinan Pramono Anung di Jakarta memunculkan pertanyaan besar: apakah kota ini dipimpin oleh reformator struktural atau sekadar manajer citra? Dengan anggaran terbesar di Indonesia, Jakarta dibandingkan dengan London, New York City, dan Singapura—mengungkap paradoks governance ibu kota.
Perang Iran-Amerika Serikat (AS) memaksa semua negara memilih pihak. Bagaimana kalau menolak pun bukan pilihan?
KATA PEMRED #6PinterPolitik.comAda sebuah fenomena yang tidak akan pernah bisa ditangkap oleh siaran pers manapun: cara seorang pemimpin menapakkan kaki dan berdiri di atas panggung yang telah ia tunggu dengan kesabaran asketis selama seperempat abad. Prabowo Subianto adalah pria yang memahami sepenuhnya bagaimana rasanya dikhianati dan dipermalukan oleh putaran roda sejarah — ia yang pernah dicopot dari jabatannya, dikalahkan dalam palagan politik, hingga diasingkan dalam kesunyian yang panjang.
Pada suatu malam di tahun 2019, dalam sebuah diskusi yang disiarkan langsung, seorang panelis bertanya kepada Prabowo Subianto mengapa ia begitu keras memperingatkan tentang ancaman perang, tentang ketahanan pangan, tentang kemungkinan Indonesia runtuh dari dalam.Prabowo menjawab dengan tenang: “Mazhab saya adalah mazhab akal sehat. Common sense and reality. Saya selalu mencari the basics, mencari esensi dari masalah.”Dan saat ini, pernyataan Prabowo itu terbukti. Ini menunjukkan kemampuannya membaca tanda-tanda politik internasional berdasarkan pola sejarah yang telah ditulis sejak ribuan tahun lalu.
KATA PEMRED #4PinterPolitik.comAda sebuah kebiasaan kecil yang luput dari perhatian para analis politik Indonesia — sesuatu yang tersembunyi bukan karena disembunyikan, melainkan karena kita terlalu sibuk melihat yang besar untuk memperhatikan yang kecil.
Bisikan dan Podium

Bisikan dan Podium

2026-03-1912:59

“Ada yang lebih keras dari kritik. Yaitu diam yang tahu kapan harus berbicara – dan kepada siapa.”– Wim Tangkilisan
KATA PEMRED #2PinterPolitik.comParadoks Pembangunan Nasional: Antara Akselerasi Infrastruktur, Pragmatisme Korporasi, dan Bahaya Moral Hazard
Di tengah gejolak harga minyak akibat konflik global, pemerintah memilih jalan sunyi: menjaga defisit tetap di bawah 3%. Bukan sekadar disiplin fiskal, ini strategi menjaga kepercayaan dan stabilitas. Efisiensi jadi kunci tanpa mengorbankan prioritas. Indonesia tampak tidak panik, justru mengendalikan arah di tengah tekanan.
Perang Tanpa Seragam

Perang Tanpa Seragam

2026-03-1811:35

KATA PEMRED #1PinterPolitik.com“Ketika negara-negara besar tidak lagi bertempur dengan senjata, mereka bertempur dengan narasi, jaringan, dan pendanaan yang terstruktur — halus seperti embun, namun dalam seperti akar yang menembus karang.”– Wim Tangkilisan
Perang Iran-AS menunjukkan biaya perang era modern sangatlah mahal. Mungkinkah ini akhirnya membuat negara enggan berperang?
loading
Comments