Discover
Sajak Kini
Sajak Kini
Author: Sajak Kini
Subscribed: 0Played: 7Subscribe
Share
© Sajak Kini
Description
Podcast Sajak Kini adalah sebuah sajak tercipta yang selalu berangkat dari kegelisahan dan gelisah harus di sampaikan melalui akun @podcastdajakkini yang rutin tayang setiap hari Sabtu | Jika Ingin ceritamu di buatkan literasi, tapi tak ingin rahasianya diketahui, ingin sekedar curhat atau meluapkan kegelisahan, kirim segera cerita menarikmu.
Email : [email protected]
Instagram : @podcastsajakkini
Email : [email protected]
Instagram : @podcastsajakkini
132 Episodes
Reverse
Kita sering merasa lelah bukan karena terlalu banyak berjalan,tapi karena lupa berhenti sebentar.Kadang kita butuh diam,butuh hening,untuk sekadar ingat bahwa diri ini juga pantas dicintai.🎧 Sajak Kini : Kita Nggak Lelah Sendirian, Cuma Lupa IstirahatKarena rehat bukan tanda kalah—tapi bentuk cinta untuk diri yang terlalu sering dipaksa kuat.Penulis : Ahmad Tri Hawaari @ahmadtrihawaariPengisi Suara : Khairun Nisa @icaa1601
✨ Sajak Kini – “Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu”Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika orang lain terlihat sudah sampai ke tujuan, sementara kita masih sibuk memahami arah sendiri. Pertanyaan tentang pekerjaan, rencana, dan masa depan kadang terasa menyesakkan—bukan karena tidak punya mimpi, tetapi karena proses setiap orang memang berbeda.Di fase ini, kita belajar menerima bahwa belum berhasil bukan berarti gagal. Tetap bangun, tetap mencoba, dan tetap bertahan juga bagian dari perjalanan yang sering tidak terlihat. Tidak menjadi siapa-siapa dulu bukan hal yang memalukan, melainkan ruang untuk tumbuh pelan-pelan tanpa harus terburu-buru menjadi sempurna.Dan kalau hari ini kamu masih berada di fase “belum”, tidak apa-apa. Kamu tidak tertinggal. Kamu hanya sedang berjalan dengan ritmemu sendiri.🎧 Sajak Kini – “Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Riky Yulianto
✨ Sajak Kini – “Di Balik Papan Tulis yang Sunyi”Tidak semua perjuangan datang dengan sorotan. Ada yang berlangsung diam-diam, setiap hari, di ruang kelas sederhana—di mana satu suara terus hadir, menjelaskan, mengulang, dan bertahan, meski tidak selalu didengar. Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tapi tentang memahami bahwa setiap anak datang dengan cara yang berbeda. Di situlah kesabaran bekerja, pelan-pelan, tanpa banyak suara. Ada lelah yang tidak selalu terlihat—tentang pulang dengan suara yang habis, tentang pikiran yang tetap tinggal di kelas bahkan setelah hari selesai. Namun di balik itu, ada harapan-harapan kecil yang terus dijaga: satu anak yang mulai mengerti, satu perubahan yang mungkin tampak biasa bagi orang lain, tapi berarti besar bagi mereka yang memilih untuk tetap percaya.Tidak semua usaha langsung terlihat hasilnya. Ada pelajaran yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian, ada nasihat yang baru terasa ketika waktu sudah berjalan jauh. Dan mungkin, saat itu, guru tidak lagi ada di sana—tapi jejaknya tetap tinggal, dalam cara berpikir, dalam sikap, dalam keputusan-keputusan kecil yang membentuk hidup seseorang. Menjadi guru adalah tentang menanam tanpa tahu kapan akan tumbuh, memberi tanpa selalu menerima kembali. Namun mereka tetap datang, membuka buku, menyapa kelas, dan melanjutkan apa yang sudah dimulai. Karena bagi mereka, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekadar kalimat—melainkan sesuatu yang dijalani, perlahan, setiap hari.🎧 Sajak Kini – “Di Balik Papan Tulis yang Sunyi”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Miftah Alfiah Ulum
✨ Sajak Kini – “Memaafkan Diri yang Pernah Salah”Semakin dewasa, kita makin lihai menyimpan kesalahan—bukan kesalahan orang lain, melainkan milik kita sendiri yang diam-diam terus diingat, terutama saat malam terlalu sunyi. Kita mudah berkata “tidak apa-apa” pada orang lain, mudah memahami dan memaklumi mereka, namun saat berhadapan dengan diri sendiri, kita berubah menjadi hakim yang paling keras—mengulang-ulang kejadian lama, menyesali pilihan, dan terjebak pada kalimat “seharusnya” yang tak pernah selesai. Ada rasa malu yang tidak pernah diceritakan, penyesalan yang disimpan rapi di balik senyum, sementara hidup tetap berjalan seperti biasa.Dewasa akhirnya mengajarkan bahwa terus-menerus menyalahkan diri sendiri tidak membuat segalanya membaik. Ada titik di mana kita perlu berhenti dan bertanya: berapa lama lagi kita akan menghukum diri sendiri? Karena memaafkan diri bukan tentang melupakan, melainkan memahami bahwa kita pernah melakukan yang terbaik dengan versi diri kita saat itu—yang sedang belajar, bukan sengaja menyakiti. Pelan-pelan, kita belajar berbicara lebih lembut pada diri sendiri, hingga akhirnya ada kelegaan kecil saat kita berani berkata: aku boleh salah, aku boleh lelah, aku boleh belum selesai—dan dunia tidak runtuh karenanya.🎧 Sajak Kini – “Memaafkan Diri yang Pernah Salah”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari 🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
✨ **Sajak Kini – “Tunggu Aku Sukses Nanti”**Ada fase dalam hidup ketika kita tidak banyak bicara—bukan karena kehilangan mimpi, tapi karena sedang sibuk mengejarnya. Semakin dewasa, kita mulai mengenal diam yang penuh arti: bekerja tanpa banyak pengakuan, jatuh tanpa banyak diketahui, dan bangkit tanpa perlu diumumkan. Dulu kita ingin dimengerti, didengar, dan diakui, tapi sekarang kita lebih memilih menyimpan banyak hal sendiri, karena tidak semua perjalanan butuh penonton. Menjadi dewasa ternyata bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang bertahan—tentang tetap bangun meski lelah belum selesai, tetap melangkah meski arah kadang terasa kabur. Ada hari-hari ketika kita merasa tertinggal, melihat orang lain sudah sampai lebih dulu, sementara kita masih berjalan di tempat yang sama. Tapi entah kenapa, langkah ini tetap bergerak—pelan, namun tidak berhenti.Di dalam diam itu, ada satu kalimat yang terus kita ulang: *“tunggu aku sukses nanti.”* Bukan untuk membalas siapa-siapa, melainkan sebagai janji kecil pada diri sendiri—bahwa semua lelah dan jatuh ini tidak sia-sia. Perjalanan ini memang tidak selalu indah; ada ragu, takut, dan malam-malam panjang yang hanya diisi oleh pikiran sendiri. Namun justru di situlah kita belajar bahwa kekuatan tidak selalu terlihat, dan orang yang tampak biasa saja bisa saja sedang membawa mimpi yang luar biasa. Jika hari ini kamu masih berjuang dan merasa jauh dari tujuan, ingatlah: kamu tidak tertinggal, kamu hanya sedang berada di jalurmu sendiri. Dan selama kamu masih bertahan, masih mencoba, dan masih percaya—itu sudah cukup. Suatu hari nanti, kamu akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa kamu tidak pernah benar-benar berhenti.🎧 **Sajak Kini – “Tunggu Aku Sukses Nanti”**✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Miftah Alfiah Ulum








