DiscoverTulisan Votavato
Tulisan Votavato
Claim Ownership

Tulisan Votavato

Author: Anisa Rahma

Subscribed: 0Played: 0
Share

Description

Karena, anak introvert juga punya cerita untuk minta didengar
127 Episodes
Reverse
Lima hari adalah waktu yang cepat dan singkat untuk membuat jalur kereta bawah tanah dengan jarak yang bermil-mil jauhnya. Robot turbo itu hampir saja muncul ke jalur kereta bawah tanah milik negara kalau saja ia tidak langsung memutar balik haluan bordirnya. Kereta sendiri dibuat oleh Brown dan Skylar. Bentuknya seperti kapsul. Skylar memasangkan alat pengaman secukupnya pada bagian ruang penyimpanan kapsul, dan terlebih adalah pasokan oksigen. Oksigen yang disimpan dan dimasukan Skylar ke dalam kapsulnya itu berasal dari area hutan yang benar-benar belum terjamah oleh tangan manusia. Aroma tanah basah serta embun yang menempel basah pada dedaunan dipagi hari, adalah sensasi yang dapat dirasakan dari oksigen tersebut. "Ini yang kau sebut hanya cukup dua manusia saja yang masuk ke dalamnya?" tanya Hester setelah diizinkan oleh Skylar untuk melihat alat barunya itu. Para robotnya tengah mendorong dan membawa kapsul itu ke jalur relnya. "Ya, betul sekali. Apa kamu punya pemikiran lain mengenai ini?" "Tidak. Tapi, bukankah kapsul itu terlalu besar dan luas untuk ukuran dimasuki dua manusia saja?" "Robotku banyak." sahut Skylar dengan cueknya berjalan menuju jalur mengikuti para robotnya. "Ta-tapi, kau tidak mungkin mengajak mereka semua pergi sekaligus." kata Hester lagi dengan mengikuti langkah Skylar. "Mereka semakin dekat saja." komentar Hugi. "Iya, sampai-sampai ketiga majikan kita itu terabaikan di sana." tunjuk Jennie pada ketiga kucing yang seperti menatap sebal pada arah dimana Skylar dan Hester tadi bicara. Hester benar-benar dibuat terperangah dengan langit-langit yang dibuat oleh robot Skylar itu. Sepanjang lorong dihiasi dengan penerangan serta pemandangan luar pada dindingnya yang seperti menyala. Ia lalu mengusap pelan pada dindingnya, tak ada pasir sama sekali. Rasanya seperti menyentuh beton yang dilapis dengan keramik. "Mau naik?" ajak Skylar. "Tunggu dulu, apa benda ini sudah pernah diuji coba?" tanya Hester khawatir. "Justru itu, keberadaan kita di sini adalah untuk mengujinya. Ayo!" "Bagaimana jika terjadi sesuatu?" "Ya sudah jika tidak mau ikut." Skylar berniat menggeser pintunya kembali namun ditahan oleh Hester yang sesaat kemudian ia pun masuk ke dalam. Lagi-lagi Hester dibuat kagum dengan interior di dalamnya. Kapsul kereta itu hampir mirip dengan kapsul yang digunakan Skylar untuk menggali tanah. "Aku akan menyalakan mesinnya, Hester. Kau tidak lupa untuk memasang sepatu penyeimbang itu kan." kata Skylar menunjuk pada sepatu yang berada di dinding. Sepatu itu fungsinya membuat getaran pada lantai tidak terasa atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali. Hester mengangguk kaku lantas langsung memasang sepatu itu yang ternyata sangat pas di kakinya. Menit berikutnya kereta kapsul itu berjalan. Skylar membuka bagian atapnya dan menyalakan hologram di atasnya. Layar hologram di langit-langit langsung memunculkan situasasi nyata yang tengah berlangsung dari apa yang dilewati jalur itu dibagian atasnya. Serta lukisan pada dinding yang menyala itu, begitu sinkron dengan apa yang ada diatasnya. Hester tak  bisa berkata apa-apa lagi. Karya Skylar benar-benar sangat luar biasa. "Woaah!!" Skylar yang membuatnya pun takjub dengan apa yang ia lihat di atas serta layar yang ada di depan. Ada dua layar di depannya. Satunya mengenai peta rute yang mereka lalui. Sedang satunya lagi adalah pemandangan depan pada bagian atas permukaan. "S-Skylar!" Hester tergagap. "Diam saja kau Hester. Nikmati saja rasa takjubmu itu. Kalau kau paksakan untuk bicara, kau pasti tidak akan tahu apa yang ingin kau katakan." ucap Skylar dengan tersenyum. Ia berdiri dan mulai memasang kacamata VR-nya. Ia ingin merasakan seperti sensasi berada di atas permukaan. Lagi-lagi Hester takjub dengan mulut yang menganga. "Jennie, aku yakin Hester sekarang seperti kambing congek di sana." "Hust!"
Bisa didengar dan ditonton juga lewat channel youtube aku Tulisan Votavato. Harap untuk tidak menyalin, menjiplak, atau memgembangkan karya ini tanpa izin. Terima kasih.
Cerita suara ini juga tersedia di youtube channel aku namanya Tulisan Votavato. Juga ada versi tulisannya di aplikasi J*ylada dan N*velt**n dengan nama penulis dan judul yang sama. Terima kasih sudah mendengarkan.
Cerita suara ini juga tersedia di youtube channel aku namanya Tulisan Votavato. Juga ada versi tulisannya di aplikasi J*ylada dan N*velt**n dengan nama penulis dan judul yang sama. Terima kasih sudah mendengarkan.
Dapat dibaca tanpa suara penulisnya dengan mengetikan judul cerita pada aplikasi Joylada atau Wattpad. Tolong jangan disalin dijiplak atau ditiru, ya :) Temukan Versi audio videonya juga di channel youtube aku, Tulisan Votavato. Terima kasih sudah mendengarkan. Maaf kalau akunya terlalu random.
Teksnya lihat dichannel youtube aku aja Tulisan Votavato
Mampir ke channel youtube saya Tulisan Votavato. Suga sudah menunggu Jeara keluar dari rumahnya sejak setengah jam yang lalu. Namun, Jeara tak kunjung keluar dari rumahnya. Sementara waktu terus berjalan, hingga dalam waktu 15 menit lagi Jeara tidak keluar, maka mereka akan terlambat jika berangkat dalam 15 menit lagi. Suga sudah berkali-kali mengetuk pagar rumahnya, namun Jeara tidak kunjung keluar. Sampai akhirnya tiga sekawan yang biasanya muncul lebih awal dibanding Suga, mendadak kompak untuk bangun kesiangan. "Suga, kenapa masih di sini? Kok, belum berangkat juga?" tanya dan sapa Venus setelah dekat. "Jeara tidak keluar sedari tadi. Aku sudah menunggunya cukup lama di sini dan mengetuk-ngetuk pagarnya. Tapi, tak ada tanda apapun di dalam sana." kata Suga sambil menunjuk ke pintu rumah Jeara yang ada di dalam. "Ha! Jeara masih belum keluar juga? Nggak kayak biasanya dia begitu. Tunggu, deh, aku masuk ke dalam buat cek dia." kata Venus dengan beranjak sambil diikuti Yusuf yang akan membantunya sebagai pijakan untuk melewati pagar yang setinggi bahunya itu. Begitu ia masuk dan berada di depan pintu, suasana rumah Jeara lengang tak terdengar aktivitas sama sekali. "Jeara! Jeara! Kamu di dalam ngapain!? Kita bakalan telat kalau berangkatnya lebih lama lagi!" teriak Venus sambil mengetuk kaca rumahnya. Tetap tidak ada sahutan. Venus lalu berjalan ke samping rumah menuju kamar yang ditiduri Jeara. Ia mengintip pada jendelanya dan tak dapat melihat apapun karena tertutup oleh tirai. "Jeara! Jeara!" teriaknya lagi namun tetap tak ada sahutan. Venus pun kembali ke depan dengan Yusuf yang sudah ikut masuk dan bersiap jadi pijakannya Venus lagi. Seolah hal itu memang sudah biasa ia lakukan untuk Venus. Setelah keduanya keluar, mereka akhirnya memilih untuk berangkat berempat lantaran jam sudah menunjukan waktu yang sudah cukup siang jika untuk bersantai-santai lagi. "Mungkin Jeara sudah berangkat duluan kali." kata Raka dengan diisyaratkan oleh Venus agar Suga mengerti. "Bisa jadi, soalnya dia cukup sering sih pada ninggalin kita buat berangkat duluan. Udah, Suga kamu tenang aja. Jeara pasti sudah ada di sekolah sekarang." kata Venus dengan menggunakan bahasa isyarat. Suga hanya mengangguk dengan perasaan aneh yang mendadak merasuki rongga dadanya. Entah kenapa ia merasa cemas pada Jeara. Ditambah saat ia mengingat ekspresi Jeara kemarin. Sepertinya ada sesuatu yang Jeara sembunyikan darinya. Mereka tak sempat mengobrol seperti biasanya agar cepat lekas sampai. Dan bertepatan dengan bel yang berdering, mereka akhirnya tiba di gerbang sekolah. "Huh!" ujar keempatnya dengan membungkukan badan karena lelah. Napas mereka juga tersengal karena sedari tadi langkahnya terus diajak berjalan dengan setengah berlari. "Tuh, benar, kan apa aku bilang." kata Venus saat mereka sudah sampai di depan pintu kelas mendapati Jeara yang sedang mendengarkan musik dari earphonenya sambil menggambar. "Oy!" tegur Venus begitu ia melepaskan ranselnya yang ada di bangku depan meja Jeara. Jeara terkejut sampai membuat goresan tak terduga pada gambarannya. "Yah, Venus. Gambarannya kan jadi rusak." ujar Jeara dengan wajah yang cemberut berusaha mengimpropisasi goresan tersebut menjadi sesuatu. "Biarin. Abisnya kamu tega banget ninggalin kita berangkat duluan. Tuh, Suga lama banget nungguin di depan rumah kamu. Tapi kamunya malah berangkat duluan." kata Venus dengan suara sarat kekesalan. "Suga, maaf. Aku tidak bermaksud ninggalin kamu duluan. Tadi aku juga lupa buat mengirimi kamu pesan untuk berangkat duluan. Maaf, ya, Ga." kata Jeara dengan matanya yang merasa bersalah. "Kamu emangnya tadi berangkat jam berapa, Je?" tanya Raka yang duduknya di seberang dudukannya Jeara.
Mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. "Pemandangan yang bagus di pagi hari, eh?" tegur Hester saat mendapati Skylar sudah berada di atas menara sambil melihat pada matahari yang masih ragu-ragu menimbulkan sinarnya. "Kamu tahu, Hester? Kupikir kita sudah begitu jauh pergi dari tempat kita sebelumnya, ternyata kita hanya pindah beberapa mil." kata Skylar seraya menyesap teh lemonnya. "Tahu kenapa artinya?" "Apa?" "Kamu sudah ditakdirkan untuk tetap berada di tempatmu dan menjadi apa yang sudah kamu mulai dari asalmu sendiri." "Ya. Kadang aku merasa lucu. Ingin kabur justru aku malah makin bersembunyi dalam ruanganku sendiri. Dengan begini, kurasa suatu saat orang-orang pasti akan menemukan tempat ini." "Saat itu tak usah terlalu khawatir. Aku dan robot-robotmu yang lain akan berjaga di depan untuk melindungimu." "Kamu bisa pastikan itu?" "Tentu saja." "Aku ingin tahu apa alasanmu melindungiku sampai sejauh ini? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan dibaliknya?" "Persis seperti yang kuduga. Kamu pasti akan mengira kebaikanku adalah bagian dari sesuatu yang negatif. Kupikir aku sudah mengatakan ini sebelumnya padamu atau pada yang lainnya, entahlah. Aku tak begitu ingat. Dan bisa kuperjelas sekali lagi." Hester menjeda perkataannya dan memilih untuk duduk santai di pinggir tembok kaca dengan duduk di atasnya. Ia tak akan terjatuh karena tempat itu sepenuhnya dilindungi oleh kaca yang bahkan anti peluru sekalipun. "Kau sudah begitu baik kepadaku. Membiarkan aku tinggal dan menolong hidupku. Dan aku pun lantas mengikrarkan hidupku untuk menjadi seseorang yang kamu butuhkan. Apapun, kapanpun, dan dimanapun. Aku juga akan turut melindungimu dari orang-orang yang berpotensi membuatmu tak nyaman atau bahkan menyakitimu. Dan sekarang aku tengah mempraktekannya. Intinya, aku melakukannya karena aku berutang budi padamu dan juga karena kau adalah orang baik, Skylar." Hester mengentikan ucapannya sambil melirik pada Skylar menunggu responnya. "Aku kira tadinya kamu melindungiku dengan alasan yang lebih sedikit romantis. Seperti kamu menyukaiku mungkin. Ternyata tidak." ucap Skylar dengan santainya menyesap kembali tehnya sampai habis. "Kamu sungguh mengatakan hal yang barusan sesantai ini?" Hester tak percaya akan reaksinya. "Ya? Memangnya kamu ingin aku seperti apa?" "Haaah... Entahlah. Aku gerah. Aku pergi duluan kalau begitu. Kamu segeralah mandi." ucap Hester sesaat merasa agak pengap. Padahal cuaca pada pagi itu cukup dingin dengan beberapa gumpalan awan mendung yang seperti sedang berebut alih antara matahari yang bersinar terang atau hujan yang akan turun seharian. "Kamu pikir aku tidak tahu maksudmu, Hester." ucap Skylar dengan terkekeh. Tak lama berselang ia pun beranjak dari sana menuju kamarnya. "Apa yang tadi kamu bicarakan dengan Skylar sampai membuat wajahmu semerah itu, Hester?" tanya Hugi yang ketika itu tengah menonton drama namun terjeda karena iklan yang lewat. Ia sengaja tak menyekip karena kata Skylar itu adalah bentuk dari menghargai karya orang lain. "Ah, tidak. Matamu pasti error Hugi. Wajahku tidak memerah sama sekali." elak Hester berusaha untuk terlihat baik-baik saja. "Kamu tak bisa membohongi kami Hester. Masing-masing dari kami memiliki alat pendeteksi kebohongan. Dan kau tertangkap sedang menutupi sesuatu dari kami." ujar Jennie menimpali. "Em.. Apa di menara ada cctv?" "Semua ruangan di tempat ini terpasang cctv dengan kualitas terbaik dan penangkap suara jernih seperti aslinya. Kecuali tempat-tempat yang memang dilarang untuk Skylar." "Nah, tontonlah disitu. Aku akan keluar sebentar untuk memperbaiki beberapa bahan dari pembuatan patung Skylar yang sudah tidak begitu berpendar lagi selama beberapa hari belakangan ini." kata Hugi sambil berlalu pergi. "Jennie, mari cek cctv sekarang. Aku jadi penasaran."
Kalian juga bisa baca cerita ini versi tulisan di aplikasi Joylada dengan judul Skylar dan robotnya.
Jennie dan Hugi tidak langsung melepaskan Radar ---- nama gadis yang mengaku tidak sengaja masuk dalam bunker mereka. Mereka justru mengurungnya ke dalam ruangan yang memang masih kosong dan belum sempat dijadikan tempat sesuatu untuk Skylar. Ia tidak diikat layaknya tawanan. Ia hanya dikurung sementara demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Karena sudah malam, Jennie masuk ke dalam dengan membawakan bantal, selimut, dan makanan untuknya. Gadis itu langsung menerimanya tanpa berkata apapun. "Sebenarnya, apa yang kau lakukan beberapa hari belakangan di sekitar sini? Kukira kau sudah pergi dari hutan sejak beberapa hari yang lalu ketika aku merasa tidak melihatmu di sekitar sini lagi." tanya Jennie. "Saya memang sudah berusaha untuk pergi dari hutan ini. Tapi setelah berhari-hari saya pergi dan berjalan jauh, tidak tahu kenapa saya justru kembali ke tempat awal di mana saya terjatuh." katanya di sela makannya. "Apa yang membuatmu bisa secara kebetulan jatuh kemari? Kau tahu kita pernah bersitatap tak sengaja saat di perjalanan menuju pemakaman di bukit waktu itu, kan. Nah, jarak dari lokasi itu ke tempat ini sangat jauh sekali. Bagaimana bisa kau jatuh kemari kalau bukan... menempelkan pelacak pada kami?" tanya Jennie dengan menaruh kecurigaan yang sangat kentara. "Kau bisa terus sambil makan untuk menjawab pertanyaanku. Selagi kau jujur mengatakannya, tak masalah." lanjut Jennie lagi ketika melihat Radar menyampingkan makanan tersebut tapi dicegah oleh Jennie. "Mengenai kita yang pernah bertatapan tanpa sengaja itu sepertinya aku tidak ingat sama sekali. Karena aku tipikal orang yang mudah melupakan segala sesuatunya jika itu tidak berarti untukku. Nah, untuk yang bagian aku bisa terjatuh kemari, kurasa itu lucu. Ya, terdengar seperti takdir yang dibuat dalam serial drama. Ah, maafkan aku. Aku terlalu santai menjawab tanyamu. Maksudku, aku pun tidak tahu kenapa. Namun yang jelas, ketika aku sedang menaiki paralayang, saat aku tengah di atas aku memang mengarahkan paralayangku lebih jauh dari garis terbang. Aku benar-benar menikmati penerbanganku saat itu sehingga tidak menyadari dengan titik keberadaanku sudah ada di mana. Hingga pada akhirnya sekumpulan burung terbang menabrakku hingga paralayangku oleng dan rusak. Tak ingin membuat tubuhku cidera parah, aku lantas melepaskannya dan membuka parasutku. Namun masalah baru menimpaku lagi, sebuah angin besar menghantamku membuat berputar-putar di udara. Hingga akhirnya aku pun terjatuh ke hutan ini." jelasnya dengan kembali menyuapkan makan ke mulutnya. "Begitu." sahut Jennie yang sedang memproses keterangan dengan menyinkronkan kejadian yang ia sempat lihat dan rekam. Jennie justru terlihat seperti sedang berpikir. "Saya tidak berbohong. Saya juga tidak sedang mengarang cerita. Apa yang kau dengar memang itu kejadian aslinya. Kamu bisa percaya pada saya." ujarnya lagi karena seakan menyadari sikap Jennie yang seolah tidak mempercayai perkataannya. "Aku tidak mudah percaya manusia." "Hm?" "Maksudku, aku tidak gampang percaya pada orang baru. Jadi, aku harus mengurungmu sedikit lebih lama sampai aku tahu kamu memang benar-benar mengalami kecelakaan murni sehingga bisa jatuh ke mari." "Kalau kuboleh tahu, siapa sepasang kekasih yang kulihat kemarin? Dan, memangnya ini tempat apa sampai aku harus menutup mulutku mengenai tempat ini?" tanya Radar. Kali ini ia benar-benar memposisikan dirinya lebih santai dan rileks dari sebelumnya. Ketakutan yang sempat hinggap dalam dirinya berangsur menghilang hingga akhirnya ia merasa seperti tengah mengobrol dengan seorang teman. Tentunya hal itu tidak sepenuhnya perasaan Radar sendiri. Jennie juga turut andil untuk menciptakan suasananya yang membuat seseorang ketika berbicara dengannya seakan seperti berbicara dengan seorang teman dekat. Tentunya hal itu tak bisa disadari oleh orang biasa. "Memangnya kamu tidak pernah menonton berita atau paling tidak memainkan sosial mediamu?" "Kau pasti akan menyebutku kuno dan kol
7 menit berlalu begitu saja sejak mereka berdua melakukan live streaming pada aplikasi SkyApp. Meski tak ada yang bicara selain sibuk membaca komentar yang ada di layar laptop, tidak membuat orang-orang yang menonton mereka untuk menuntut untuk seperti apa yang diinginkan. Hanya dengan melihat wajahnya yang diam dan tenang seperti itu saja sudah membuat mereka... bahagia? Setidaknya hal itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang menonton dirinya. "Kami saudara." adalah kata pertama yang diucapkan Hester lantaran saking banyaknya komentar yang menanyakan hubungan antara dirinya dan Skylar. "Uh, namamu. Mereka tanya namamu sedari tadi." kata Hester lagi menunjuk pada komentar spam yang menanyakan nama asli Skylar. "Namamu juga." sahut Skylar begitu melihat komentar serupa yang menyepam menanyakan tentang anak laki-laki di sampingnya. "A-aku Skylar." kata Skylar kemudian dengan sedikit kaku juga canggung. "Dan aku Hester." Hester menimpali dengan mantap. Kemudian tak lagi ada suara. Jika pada saat live sebelumnya ---yang masih tidak menunjukan wajah--- Skylar masih aktif berbicara mengenai dirinya dan membacakan beberapa komentar netizen. Namun, ketika dengan memperlihatkan wajahnya seperti ini, Skylar justru merasa aneh, canggung, kaku, dan semua hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya seperti menjadi satu. Hasilnya, ia hanya bisa diam dengan sesekali menatap tepat ke kamera yang membuat orang yang sedang menontonnya seolah sedang ditatap olehnya langsung. Sesekali Skylar juga terkekeh mendapati komentar yang lucu menurutnya. "Skylar!" tiba-tiba ada panggilan dari luar kamarnya. Hester yang beranjak. Sesaat kemudian Hester kembali lagi, kali ini ia tidak lagi duduk di samping Skylar melainkan berdiri di depannya dan mengisyaratkan agar Skylar mengakhiri siarannya. "Aku tidak tahu kata seperti apa yang seharusnya untuk mengakhiri siaran ini secara singkat dan bagus. Jadi, terima kasih untuk yang sudah menontonku dan memberikan dukungan kepadaku. Sampai jumpa lain waktu." laptop pun secara otomatis berganti tampilan layar wallpaper. "Ada apa, Hester?" tanya Skylar begitu menyimpan kembali kotak kecil ke atas nakas. "Kita keluar sekarang. Ada sesuatu di luar." ajak Hester dengan lebih dulu beranjak ke luar. Skylar pun menyusulnya. "OOH!" seru seseorang dengan berdiri dari sofa. Skylar dan Hester yang melihat itu pun sontak membulatkan mata lantaran ada orang asing yang masuk dalam basecamp mereka. "Jennie!" panggil Skylar pada Jennie yang langsung mengampirinya. "Dia anak yang terjatuh dari paralayang waktu itu Skylar. Tadinya aku pikir dia sudah pergi jauh dari area hutan ini tapi----" "Maafkan saya! Saya tidak tahu kalau tempat ini dilarang untuk dimasuki. Tolong jangan bunuh saya. Saya janji tidak akan mengatakan tempat ini pada siapapun." kata perempuan itu dengan berlutut di hadapan Skylar. "Kenapa kamu bisa sampai masuk ke mari?" tanya Hester. "Sa-saya tidak sengaja terjatuh dalam tempat yang mirip seperti kolam itu. Saya sungguh tidak sengaja masuk ke dalam sini." sahutnya masih dengan menunduk. "Mana ada orang yang tidak sengaja masuk ke mari kalau bukan karena penasaran. Jennie, Hugi, kalian saja yang urus." kemudian Skylar berlalu pergi ke tempat mirip kolam yang dimaksud. Saat itu juga ia memerintahkan robot turbonya untuk menutup bagian atasnya dengan menyerupai timbunan tanah. Ia juga memindahkan alat kapsul terbangnya ke dalam menara. Hari ini terasa begitu tidak terduga untuk Skylar. Wajahnya yang tak sengaja terekpose sehingga ia benar-benar membuat dirinya tak lagi dikenal sebagai angelmask melainkan Skylar. Dan sekarang, ada orang asing yang berhasil menemukan tempat tinggalnya. Setidaknya, hanya tahu wajahnya saja mungkin tak apa bagi Skylar. Tapi kalau untuk tempat tinggal, Skylar tak akan pernah mengungkapkan itu semua. Pun, ia juga tidak berpikir untuk melakukan pertemuan secara langsung pada orang-orang yang mengidolakan dirinya. Ia sudah membut keputusan bahwa
Lima detik adalah waktu yang terasa begitu lama bagi Skylar yang merasa sentuhan jari pada layar ponselnya sedang terlambat menanggapinya. Meski pada saat detik pertama ia langsung mengalihkan kamera ke arah lain, namun Skylar merasa bahwa koma dari sekian detik pun adalah waktu yang cukup mampu bagi orang-orang bergerak cepat mengambil wajahnya. Karena tidak berhasil mematikan siaran dalam lima detik, Skylar langsung memasukan ponselnya ke air minum di gelas dan menyetrumnya hingga ponsel itu mati. Ia mengusap wajahnya merasa frustrasi dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia tidak menyangka kejadian seperti ini akan begitu cepat menimpa dirinya. Tak ingin merasa gelisah sebab praduga dalam isi kepalanya sendiri, ia pun mengambil sebuah kotak kecil dan menghidupkannya dengan menempelkan sidik jarinya. Sedetik kemudian laptop hologram tersedia di depannya. Ia lalu memeriksa akun aslinya menggunakan akun palsunya. Benar dugaannya. Tag mengenai wajahnya yang sempat diambil dari sekian detik itu berhasil menghebohkan orang-orang diinternet. Pasalnya, meski gambarnya diambil dengan sangat super cepat. Garis wajah yang nyaris sempurna dimiliki Skylar, tetap terlihat menakjubkan meski dalam keadaan kualitas foto yang sedikit buram, sehingga dalam sekejab ia pun kembali menjadi topik terhangat yang sedang banyak dibicarakan oleh orang-orang di seluruh dunia saat ini. Dan efek dari ketidaksengajaan itu pun berdampak positif dengan jumlah pengikut dan penyuka sosial media milik Skylar dengan akun aslinya menjadi makin meningkat. Dalam sekejab, satu juta pengikut ia dapatkan dalam waktu satu jam dan jutaan like dari video youtube dan unggahannya di aplikasi lainnya. Awalnya, Skylar merasa sangat takut dengan semua hal yang baru dialaminya itu. Jantungnya berdebar memperhatikan komentar dari setiap orang yang melihat wajahnya. Namun sesaat kemudian, ia mulai hanyut dengan beragam komentar yang ditujukan padanya itu, membuat hatinya terasa menjadi lebih hangat. Ketakutan yang selama ini tak ingin ia hadapi justru tidak muncul, atau mungkin hal itu tidak terjadi lantaran banyaknya orang yang menyukai dirinya dibanding dengan orang-orang yang membencinya. Senyumnya merekah dengan binar mata yang agak berkaca-kaca, sebab terharu tentang bagaimana orang-orang yang tak pernah melihat dirinya secara langsung itu justru tidak peduli dengan bagaimana rupanya. Mereka mencintai Skylar karena Skylar adalah Skylar. Sosok idola yang menjadi motivasi mereka untuk terus melanjutkan hidup. Meski lirik lagu yang dibuat Skylar terdengar acak, namun kebanyakan dari mereka justru menangkap dengan jelas apa maksud dari pesan-pesan yang ada pada lagunya itu.
Empat hari adalah hari paling membosankan yang pernah dilewati Skylar. Bagaimana tidak, ia benar-benar dipaksa oleh ketiga robot dan satu manusia di rumahnya itu untuk benar-benar beristirahat tanpa melakukan kegiatan apapun. Kegiatan mengenai pemantauan dan perkembangan pada robot-robotnya diambil alih oleh robot pintarnya sendiri, yaitu Brown. Sistem yang dimiliki Brown memang seolah menjadi duplikat dari apa yang ada dalam isi kepala Skylar. Sementara Hester dan Jennie selalu berkolaborasi untuk memasakan menu yang bisa ditelan Skylar. Selama ini, sepanjang perjalanan hidupnya, baru kali ini Skylar merasakan apa itu namanya sakit dalam artian yang sebenarnya. Ia demam, lemas, lelah, dan sulit untuk bangun beraktivitas. Sakit yang pernah sempat bisa ia alami dulu hanya sekedar flu ringan atau sakit kepala biasa ketika terlalu sering menatap layar monitor. Selebihnya, ia selalu baik-baik saja. Empat hari ia habiskan dengan berbaring di dalam kamarnya. Ia juga sama sekali tidak membuka data ponselnya. Ia tidak menggunakan internet untuk mengakses apapun. Pun halnya dengan kedua robotnya dan Hester. Mereka sama sekali tidak memainkan internet karena demi menghargai Skylar. Namun, empat hari itu ternyata cukup untuk membuat Skylar menyelesaikan satu novel barunya. Ia tidak benar-benar membuang waktunya meski dalam keadaan terbaring lemah sekalipun. Dan kini, empat hari itu sudah ia lewati. Keadaan Skylar sudah jauh lebih baik. Tentunya berkat ia yang mau menurut untuk rutin meminum obatnya.
Hanya dua hari Skylar mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia pun kembali pulang lantaran tidak suka baunya dan juga tidak ingin berlama-lama di tempat di mana banyak sekali manusia berlalu lalang di sekitarnya. Walaupun Brown sudah menempatkannya di bangsal vvvip, tetap saja Skylar menolak untuk tinggal lebih lama di sana. Bujukan Hester juga tidak mempan kali ini. Skylar bersikeras ingin minta kembali ke rumah. Jadilah sekarang mereka dalam perjalanan pulang menuju bunker. Keadaan Skylar masih belum bisa dikatakan sehat. Wajahnya masih pucat namun tidak semengenaskan saat ia pertama kali ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri. Tidak ada yang mengeluarkan suara satupun sepanjang perjalanan. Hester pun diam sambil sesekali melirik pada Skylar yang menatap keluar jendela. Meski kendaraan yang digunakannya saat ini adalah jenis kendaraan kapsul dengan akses jalur bawah tanah, namun pemandangan yang terlihat dari luar jendela adalah pemandangan asli yang ada di atas permukaan jalur jalan tersebut. Skylar sengaja membuatnya seperti itu agar ia masih bisa tahu apa yang terjadi di atas sana. Satu jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai. Hester langsung memapahnya untuk berjalan menuju kamar. 🖋🖋🖋🖋 baca ceritanya via tulisan di Joylada dengan judul yang sama. Terima kasih readers.
Sudah seminggu lebih Skylar berada dalam ruangan teknonya. Semenjak Hester mengatakan bahwa ada seorang anak yang sempat melihatnya tanpa masker tengah berada di atas permukaan bankernya, membuat Skylar bersama Brown menciptakan keamanan lebih akurat lagi. Selama seminggu pula ia mengutus beberapa robot turbo untuk memasukan banker lebih ke dalam. Sesekali Skylar mengintip pada anak itu demi mencari tahu apa yang sedang dilakukannya di hutan yang sangat amat jarang sekali manusia melintasinya itu. Hugi sempat memperhatikan anak tersebut namun tetap tidak mengampirinya. Tapi ia sempat lihat apa yang menjadi penyebab anak itu berada di atas rumah mereka. Sebuah parasut paralayang tersangkut pada pucuk menara pohon milik Skylar. Ia juga terluka. Dengan kakinya yang agak pincang ia berusaha berjalan demi keluar dari hutan tersebut. Setlah 4 hari berlalu hingga ia tak lagi terlihat, barulah Hugi memberanikan diri keluar ditemani Hester. Mereka menurunkan parasut serta mengamati sekitar. Anak itu benar-benar sudah tidak lagi kelihatan ada di sana. Hugi juga bertanya pada Brown bahwa ia tidak mendapati titik adanya manusia lain yang berada di dekat banker mereka. 🖋🖋🖋🖋🖋🖋🖋 Kalian bisa baca tulisan ini di Joylada dengan username yang sama : Votavato, atau juga dengan judul yang sama. Terima kasih. Jangan lupa untuk mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Karena aku juga bagikan podcast ceritaku di sana.
Di sebelah rumahku ada ruko yang biasa mengantarkan barang-barang dalam kardus ke toko-toko kecil hingga besar. Waktu aku sedang melihat aktivitas itu melalui balkon kamarku, ide jahil melintas dalam kepalaku. Karena aku tak suka menunda. Aku lalu turun ke bawah dan pergi ke sana. Ibuku yang sedang menyiapkan makan malam di dapur sempat menegurku mau kemana. Tapi kujawab bahwa aku mau belanja sebentar keluar. Ibuku hanya mengangguk setelahnya dan tanpa mencurigaiku sama sekali yang sedang menyembunyikan tang ditanganku. Aku tersenyum membalasnya. Aku lalu pergi keluar dan berbelok dengan mengendap memasuki ruko. Sebelumnya aku sudah mematikan listriknya sebentar agar aku tak ketahuan. Dengan menyelinap di antara tumpukan kardus yang berserakan aku akhirnya bisa sampai ke dalam. Ternyata ada banyak sekali barang di dalamnya. Aku lalu berjalan lebih ke dalam untuk melihat-lihat barang kali ada yang berbeda. Tapi ternyata sama saja. Di dalam hanya tumpukan kardus. Merasa bosan aku jadi ingat kembali dengan ide jahilku. Bersamaan dengan itu, lampu kembali dinyalakan. Kukira akan terang benderang. Ternyata hanya ada sedikit lampu yang menyala. Sebagian besar hanya remang. Seorang anak laki-laki yang kutaksir usianya masih tanggung alias kalau dia sekolah mungkin masih SMP ---menarik perhatianku. Aku rasa dia cocok jadi objek kejahilanku. Ah, persetan dengan orang-orang sekitarnya. Itu bukan urusanku. Ia saat itu sedang berada di pojokan sendirian. Tengah menyusun barang ke dalam kardus baru. Aku lihat-lihat sekitarnya tak ada siapapun. Ceh, berani sekali dia. Aku lalu mengendap mendekatinya. Dan saat sudah tepat berada di belakangnya, ternyata ada beberapa orang yang masuk mengampirinya. Aku terpaksa menunda. Kukira mereka segera pergi dari sana, tapi ternyata malah bertahan cukup lama. Aku mengintip jumlah mereka yang ternyata ada 5 orang. Itu masih sedikit dibanding yang pernah aku mainkan sebelumnya. Aku melihat pada jam di tanganku yang setengah jam lagi adalah waktunya ibu mengajakku makan malam. Sekali lagi kuperhatikan sekitar tak lagi ada karyawan lain selain hanya tersisa mereka berlima saat ini. Aku pun muncul bak maling yang ketahuan. Sengaja. Karena begitu mereka mengampiriku, aku langsung dapat menyentuh mereka dan mengontrol mereka sesuai kemauanku. Selagi mereka berdiri diam seperti orang bodoh, aku pergi ke depan untuk memastikan semua truk pengangkut telah pergi. Setelahnya barulah aku kembali masuk ke dalam. Tak ingin memakan banyak waktu. Aku memakai lebih dulu semua sarung pelindung jejak. Setelah itu, dengan menggunakan tang yang sedari tadi kugenggam, dengan bergantian aku menarik dan memutar hidung mereka satu persatu. Dilanjut dengan telinga yang membuat 3 di antara mereka langsung terputus. Sehabis itu aku mematahkan jari mereka dengan memutar geraknya membalik. Karena fungsi alatku terbatas, aku lalu berkeling mencari sesuatu yang lebih seru. Aku menemukan staples besar. Aku lalu menempelkan ke wajah mereka satu persatu hingga isi staples itu habis. Aku juga menemukan cutter. Tentu saja langsung kugunakan untuk menyayat daging mereka. Aku juga memotong nadi mereka hingga darah menggenang. Mereka masih bernapas walau lemah. Tapi efek pengaruhku terlalu kuat sampai membuat mereka sulit kembali sadar meski sudah kubuat hancur. Mereka hanya akan bisa kembali kalau aku mau saja. Aku lalu mengambil lima kardus. Tapi sebelumnya kubungkus dulu tubuh mereka dengan plastik sampai bisa terlipat dan dapat dimasukan kedalam kardus kecil. Barulah kemudian kumasukan lagi ke dalam kardus yang lebih besar. Aku pastikan kardus yang itu tidak ada noda darah yang menempel. Kupastikan dengan merekatkan kuat plester dan staples yang sudah kuisi lagi agar kuat menahan tubuh mereka. Aku lalu memindah kardus berisi calon bangkai itu ke bagian tumpukan kardus paling belakang. Setelahnya, aku akan menunggu malam ini atau besok pagi dengan keributan orang-orang yang melihat genangan darah b
Waktu itu aku sempat heran dengan sebuah kamar di rumah nenekku yang besar. Kamar itu katanya dulu ditempati sama anak nenek yang meninggal waktu usianya masih seumuranku. Katanya dulu dia meninggal karena tewas terseret ombak saat berenang di laut. Hal yang membuatku heran bukan karena nenek masih membuat kamar itu masih rapi dan membiarkannya terlihat seperti terakhir kali ditinggalkan oleh pemiliknya. Melainkan ketika aku lihat semua frame di atas lemari dan yang tergantung di dinding, semuanya dalam keadaan kosong. Tak ada foto sama sekali. Bahkan foto dari pemilik kamar itu sendiri pun tidak ada sama sekali. Juga dengan lukisan. Itu jelas sekali bahwa kanvasnya kosong. Aku melihat itu saat tak sengaja masuk ketika pintunya dalam keadaan terbuka. Saat itu nenek sedang membersihkan dengan penyedot debu di dalamnya. Makanya aku sempat melihat isinya. Tapi, itu hanya sebentar saja karena nenek langsung menyuruhku keluar. Hal itu tak sempat aku tanyakan karena waktu itu tiba-tiba saja mama menelponku untuk segera pulang karena adikku sedang sakit dan ia mencariku. Dan hari ini aku sengaja kembali lagi ke rumah nenek untuk menuntaskan rasa penasaranku. "Nek, kamar yang sering nenek bersihkan itu kenapa frame sama lukisannya tidak ada gambar sama sekali?" tanyaku ketika aku dan nenek sedang makan malam. Nenek langsung menatap galak ke arahku membuatku menjadi tiba-tiba merasa takut dengan tatapannya. "Sudah berapa kali nenek ingatkan kamu untuk jangan masuk ke dalam kamar---" "Aku tidak sengaja masuk saat nenek sedang membersihkan kamarnya waktu itu. Dan aku sempat melihat isinya." potongku sebelum nenek menuduhku yang tidak-tidak. Setelah aku mengatakan hal itu, aku merasa ada yang berbeda dengan cara pandang nenek terhadapku. Ia seperti bukan nenekku tapi dia adalah nenekku. "Ini peringatan, jangan pernah ungkit mengenai kekosongan yang ada dalam kamar itu. Jika kamu bersikeras untuk mencari tahu. Maka, kamu akan menyusul anak itu." ucap nenek dengan suara yang berbeda.
Saat ini aku memang seakan terlihat seperti pecundang yang jalan hidupnya nggak tahu mau dibawa kemana Kesannya juga aku kayak orang yang tidak memiliki tujuan hidup sama sekali Hidup sekedar hidup dan berjalan seperti air yang mengalir Tak jarang aku kerap kali mendapati dengan bagaimana sudut pandang orang terhadapku ketika mereka melihat apa yang terlihat dariku Dengan matanya yang penuh sorot penghakiman tanpa suara, aku tahu apa yang mereka pikirkan terhadapku saat itu "Kenapa dia  masih begini-begini saja sih?" "Kenapa dia nggak berubah?" "Salah dia sih, ketika orang-orang pada sibuk berjuang, dia malah malas-malasan sibuk sama dunianya sendiri." "Umurnya saja yang menua, pikirannya tidak. Sampai untuk memikirkan kebahagiaan orangtuanya sendiri saja nggak." Hhh.. Tahu apa kalian dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini? Apa kalian selama ini bersamaku sehingga bisa menyimpulkan seperti itu? Nggak, nggak ada orang lain di sampingku kecuali keluargaku sendiri Itupun mungkin mereka juga sempat berpikir bahwa... aku memang seperti apa yang oranglain pikirkan tentangku Hanya saja mereka diam Dan oranglain pun sama, cuma diam dengan pandangan mereka yang seperti itu Tapi sebenarnya aku pun tahu bahwa mereka kerap membicarakanku di belakang Nggak apa-apa, aku bisa mengerti kenapa kalian mau repot-repot lakukan hal itu Karena mungkin rasanya menyenangkan membicarakan sisi negatif manusia lain Selama ini aku memang tak pernah menunjukan diri dengan bagaimana terjalnya jalanan yang kutapaki penuh dengan kerikil Bagaimana aku yang sering mencoba memanjat tebing penuh pengharapan seorang diri sampai harus berkali-kali jatuh dan terluka begitu dalam Dan, bagaimana aku yang tak menemukan jalan keluar selain jurang dengan akar tajam di bawahnya Aku tak pernah menangis saat melewati semua hal itu sendirian Aku diam, diam, diam dan jalan terus saja Aku sadar bahwa pada akhirnya aku akan tetap jatuh ke bawah untuk kesekian kalinya Namun aku akan tetap memilih diam saja Kadang, saat terlalu lelah pun aku masih tetap berjalan meski dengan langkah yang gontai hingga merangkak Aku tidak tahu apakah perjalananku masih jauh atau tidak Entah jalanku yang salah atau memang prosesku saja yang lebih berat dan panjang dibanding orang lain Aku sempat ingin kembali dan memulai jalan yang baru dari awal Tapi aku tak mau, karena aku sudah terlanjur berjalan sejauh ini Berjalan sendirian tanpa seorang pun yang tahu Kadang air mata memang sempat keluar begitu aku mencoba lihat hidupku dari sudut pandangnya orang lain Aku telah gagal sepanjang jalan dan masih tetap berjalan di jalan yang sama Kenapa aku begitu bodoh sampai harus memilih bertahan di jalan yang nggak akan bisa bawa aku ke mana-mana Terkadang aku percaya dengan yang namanya keajaiban Tapi aku tidak bisa begitu berharap sebab, aku akan jadi apapun suatu saat nanti itu tergantung dari apa yang kulakukan sekarang Maaf jika aku tak pernah menujukan diri dengan bagaimana aku yang berjuang selama ini Maaf kalau kesannya aku seperti tidak peduli dengan kebahagiaan orangtuaku Maaf sudah membuat kecewa Tapi, asal kau tahu saja Aku tak sesantai yang kelihatannya Diamku adalah perjuangan yang sedang aku kerjakan Sebab, aku hanya bisa menulis dalam sunyi, seperti saat tulisan ini dibuat Maaf atas prosesku yang berjalan dalam diam selama ini Aku sadar, ini takkan mudah dan panjang Tak apa, ini adalah jalan yang sudah membuatku berjalan sejauh ini dan aku, tak akan pernah kembali lagi dengan jalur yang baru Mungkin? Entah
Kirin itu hanya seorang anak kecil berusi 5 tahun. Dia gemar bermain skateboard sejak pertama kali diajari oleh ayahnya. Meski nggak terlalu lihai, Kirin tetap suka bermain hingga jatuh berkali-kali. Suatu hari, ayah Kirin mengajak untuk bermain di sebuah taman yang ada arena untuk bermain skateboard. Karena di sana cukup banyak orang yang bermain, Kirin tak langsung diperbolehkan begitu saja karena takut terkena papan skate. Sembari menunggu keadaan arena tak begitu ramai, Kirin pun diajak untuk mengelilingi taman dengan menaiki skateboardnya. Kirin tentu saja sangat antusias. Sementara ayahnya mengikuti menggunakan sepeda yang disewakan. Kirin terus mendorong papannya sampai membuat orang-orang yang melihatnya terpesona dengan Kirin. Saat menuju di jalanan berbatu, Kirin pun berhenti dan menenteng skatenya. Karena jalan itu sudah hampir dekat dengan arena skate. Kirin pun berlari sesaat mendapati arena skate sudah tak seramai tadi. Ayah Kirin mengejar menggunakan sepeda karena Kirin terlalu cepat berlari. Sampai akhirnya, dari arah berlawanan, ada sebuah motor besar yang berjalan dalam taman dengan kecepatan kencang. Ayah Kirin sempat lihat bahwa pemotor itu sama sekali tidak dalam keadaan panik semacam motornya lepas kontrol. Melainkan tengah merokok sambil tertawa. Melihat arah motornya yang sembarangan dan hampir menabrak orang-orang yang berjalan. Ayah Kirin berusaha untuk mengejar Kirin. Kejadian berikutnya terjadi sangat cepat. Kirin terlindas motor besar itu sementara pemotor itu sendiri masih tetap melajukan motornya dengan tidak peduli. Melihat aksi gilanya itu, semua orang yang ada di taman pun mengejarnya. Sementara Kirin, sudah tak lagi bisa diselamatkan lantaran tubuhnya yang langsung hancur tergeletak di rerumputan.
"Kamu tidak akan bisa melakukan apapun Neo." Seru Gesa lagi sesaat Neo mengindahkan ucapannya sebelumnya dengan berusaha untuk memukul kepala anak-anak DFA. Akibatnya Neo hanya memukul udara bebas hingga terjatuh ke lantai begitu saja. Sementara anak-anak DFA masih dapat berceloteh dengan bangganya. Berkali-kali terus mencoba, hingga akhirnya anak-anak DFA pun beranjak dari sana. Neo mengikutinya hingga berhenti di depan kelasnya Carra. "Mau apa dia?" tanya Neo yang hanya dibalas tatapan tidak tahu oleh Gesa. Farrel kemudian masuk ke dalam disusul oleh kedua temannya. "Di sini, Rel." ucap Divo sembari menarik satu bangku bagian paling pojok di belakang. Itu adalah tempat duduknya Cakka. Sekaligus bangku yang Neo tempati saat memperhatikan adiknya waktu itu. Farrel lalu berjalan mendekat dan menempelkan tangannya di atas meja. Sesaat kemudian ia terkekeh. "Benar dugaan gue. Anak itu tahu semua hal mengenai apa yang kita lakuin selama ini." ucap Farrel memberi tahu kedua temannya. Neo mengerutkan kening sesaat mendengar apa yang dikatakannya. "Dia bisa melihat ingatan orang lain dari benda yang biasa disentuh oleh si orang lain itu ternyata." komentar Gesa yang ikut berdiri di samping Neo. "Bagaimana bis---" "Dia juga bisa lihat arwah dari anak-anak yang sudah kita habisi selama ini. Gue jadi penasaran gimana penampakan diri mereka di mata anak ini." kata Farrel lagi yang membuat Neo semakin menegang. "Gue baru ingat, dia pernah ngasih tahu gue kalau dia bisa lihat sosok mereka itu dengan dua versi, versi saat terakhir kali mereka mati sama versi yang belum diapa-apain." ucap Adam, cowok yang biasa mengenakan hoodie biru. Farrel tidak menyahut dan hanya menaikan satu alisnya sebelah. "Lo belum tahu ya, Rel? Anak ini kan yang sudah ngasih kita air buat ngehalangin anak-anak yang mati karena kita itu untuk tidak bisa datang mencari bukti yang kita sembunyiin." sahut Divo menambahkan. "Adam nggak ada ngasih tahu gue soal darimana dia dapatin tuh air. Gue pikir dia mintanya sama orang pintar kayak dukun gitu." kata Farrel dengan gayanya yang masih tetap bisa tenang. "Sori, gue salah. Terus sekarang kita bakal apain anak ini?" ucap Adam kemudian. "Gue rasa lo bisa lihat dengan apa yang baru saja ia lakuin sesaat yang lalu." tambah Divo. "Ne, kalau sampai cowok berkacamata itu bisa lihat dan tahu kalau Cakka baru saja berkomunikasi dengan kita. Gue rasa kita nggak bakal punya kesempatan lagi buat bongkar kebusukan mereka." ucap Gesa sesaat sedari tadi hanya diam saja mendengarkan obrolan mereka bersama Neo di sampingnya. "Dia baru aja ketemu sama dua roh korban dari cewek-cewek yang kita bunuh tahun lalu." sahut Farrel yang membuat Gesa dan Neo menegang seketika. "Siapa?" tanya Divo penasaran. "Nggak tahu, gue nggak bisa lihat. Terlalu buram." jawab Farrel ketika beberapa saat yang lalu berusaha untuk melihat lebih jelas. Tapi tetap tidak bisa. "Udahlah, kita pergi aja sekarang dari sini. Lagian gue udah nempatin kamera yang pas buat mantau nih anak sekarang." ucap Adam sambil menatap pada kamera kecil yang lebih mirip seperti paku di meja. "Oke, kita keluar sekarang. Gue rasa dua arwah itu juga saat ini lagi dengerin obrolan kita sedari tadi deh." tambah Farrel lagi sambil melihat ke sekeliling. "Percuma lo nguping, lo nggak akan pernah bisa hentikan kami ataupun cegah kami. Karena kalian sekarang itu cuma jadi mahkuk yang tidak berguna. Dan pula, nggak ada sejarahnya makhluk seperti kalian bisa bunuh manusia." ucap Farrel dengan lantang dan menentang. Neo yang mendengar itu hanya mengepalkan tangannya sambil menahan kegusaran yang memuncak dalam dadanya. Pasalnya, ia ingin sekali memukul wajah anak berkacamata itu, tapi sayangnya tidak bisa karena setiap kali ia mencoba, ia selalu jatuh tersungkur menembus tubuhnya. Pada akhirnya, anak-anak itu pun meninggalkan kelas itu bersama Neo dan Gesa yang menatap tajam ke arah mereka. _____ Neo dan Gesa kembali ke luar dan kali ini sudah be
loading
Comments